This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 24 Juni 2011

Bimbingan dan Pelatihan Qira'atul Qur'an

Bagi mahasiswa Unnes maupun umumm yang ingin belajar Qira'atul Qur'an.Unnes Mengadakan pelatihan dan bimbingan belajar Qira' rutin gratisssss setiap satu pekan sekali 
Hari :Setiap Sabtu Sore
Pukul :14.00-16.00 WIB
Tempat :Ruang Pertemuan MUA Lantai 1
Ayo Belajar membaca Al-qur'an dengan lagu-lagu yang indah dengan qira',,,

Kamis, 23 Juni 2011

Lelaki Pilihan Oleh: Hafidza Amrini


Assalamualaikum…” suara seorang pria dengan nyaring di depan rumah seseorang.
            “Wa alaikum salam,” terdengar suara balasan dari dalam. Suara seorang wanita, yang diiringi gesekan alas kaki di lantai.
            Seulas senyum manis dari seorang gadis berjilbab menyambut sang Tamu. Dia membalas senyuman itu dengan gayanya yang khas.
            “Kita ngobrol di depan aja, ya. Tapi, kamu tunggu bentar. Duduk dulu juga gak pa-pa,” kata sang Gadis mempersilakan.

Menantang Waktu


Gemuruh halilintar semakin berkejaran menemani pekatnya malam, seakan bertarung bersama derasnya hujan yang tumpah dari dinding – dinding langit yang murung. Kilatan sesekali menyambar bagai potretan foto yang diarahkan ke wajah bumi. Semuanya seperti pertarungan reaksi alam yang di guncah oleh sang Ilahi. Dengan menyeret langkah kaki yang dirasa tanpa tulang penegak itu, Laila kembali menarik garis wajah untuk membendung derasnya aliran yang pecah membanjiri pipi, bersama pula dengan deras tumpahan air dari langit yang kian mengguyur sekujur tubuh mungilnya. Badannya nampak lesu, langkahnya lambat tak bergairah. Tersadar keputusannya kini mampu memecahkan buliran – buliran yang menggenang di bola mata, bukan karena jeratan ketakutan pada kenyataan untuk menantang waktu melainkan kepasrahan untuk melepas diri dari tanah kelahirannya. Namun agaknya Laila memang kuat pada tekad dan pendirian yang ia yakini akan membawanya kepada tanah impian yang masih ada pada puncak menara penggapaian. 

Malaikat Baik


Lelaki berbaju putih kembali memanggil nama seseorang. Sementara yang di luar ruangan berharap-harap namanyalah yang dipanggil. Termasuk lelaki yang duduk di sampingku. Dito.
Sudah sekitar 90 menit aku dan Dito duduk di posisi yang sama. Menghadap ruangan bertuliskan ‘Bedah Toraks dan Vaskuler’.

Zulaekha Oleh: Ida Safitri


Zulaekha tersenyum-senyum sendiri menatap dinding kamarnya. Bukan karena warna catnya yang baru, bukan juga karena ada sepasang cicak yang sedang bercengkerama mesra di sana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan pada dinding tersebut. Tetapi pikirannya sedang terbang, jauh menembus dinding kamarnya. Hari ini ia sedang merasa sangat bahagia. Sejak tadi malam tepatnya, ketika seorang pemuda tampan datang melamarnya.
Namanya Syaefudin, idola para gadis di kampung Zulaekha. Perawakannya yang tinggi, tegap, berambut sedikit ikal, dengan wajah agak ke-Timur Tengah-an, membuat gadis-gadis kampung memujanya. Ditambah lagi, Syaefudin merupakan juragan beras di pasar Klowor. Tampan dan kaya.

Lantunan Doa di Ujung Senja


Lantunan basmalah masih slalu ku lafadzkan mengiringi awalan langkah tuk menuju tanah pendidikan yang selama ini ku impikan, tanah yang di satu sisi merupakan rentetan tangga tuk dapatkan piala kemenangan namun di sisi lain juga kan mengobarkan api peperangan apabila tak berpegang teguh pada ajaran Allah SWT. Kali ini saat sang Surya berada pada seperempat perjalanannya menuju ufuk barat, tlah ku sudahkan sujudku di salah satu musholla kampus yang akan mengaliri ilmu untukku. Dengan senyum dan semangat yang tak pernah tersurutkan, kakiku berlalu mengitari jalan yang dikelilingi oleh bunga – bunga mekar, semekar bebungaan yang kini singgah di hatiku dan sesekali bergelayutan oleh sapuan sepoi angin pagi, sungguh sejuk memang hingga membuat diri ini di aliri oleh suasana kesejukan pula. Permainan takdir memang masih berpihak padaku, yang mengantarkanku untuk bisa mencicipi pahit dan manisnya bangku perkuliahan di salah satu Universitas di semarang. Langkahku kian merangkak dipenuhi oleh energi positif yang menggebu dalam hati, hingga dalam binar mata pun  kini tlah tercermin sebuah gedung besar nan megah, dimana ratusan insan yang dianugrahi nikmat kepandaian berkumbul di dalamnya. Tepat sekali, mereka adalah para penerima beasiswa yang diprogramkan oleh pemerintah. Sungguh memasuki ruangan itu serasa seperti seorang pejabat yang disambut ramah dikalangan tatanan negara. Sangat terenyuh hingga sesak dadaku memendam rasa kesyukuran tatkala bola mata menyorot papan tulisan “ Penyerahan Beasiswa Berprestasi”.

KEPUTUSAN YANG DIPERSALAHKAN Oleh: Hafidza Amrini



            “Dapat salam dari temanku. Namanya Ratu. Eh, dia lucu loh. Dia bilang ngefans abis sama kamu karena kamu termasuk cowok langka…..” beber Malika.
            “Apa? Cowok langka? Emang aku sejenis makhluk yang harus dilindungi?” komentar Ditya, yang langsung membuat Malika tertawa sambil menutupi mulutnya. Tapi, Ditya mendengar suara tawanya yang pelan sekalipun.
            “Kenapa? Emang ada yang lucu? Temanmu itu yang harus dikasih tahu caranya ngasih komentar buat orang lain,”
            “Kok jadi sewot? Anggap aja itu salah satu cara dia mengungkapkan kekagumannya padamu,” balas Malika.
            Mereka berdua sedang berada di perputakaan. Terpisah diantara dua bilik baca yang saling berhadapan, mereka ngobrol dengan suara pelan.
            “Maksudnya kekaguman yang sudah tidak pada tempatnya? Aku heran, kenapa cewek-cewek suka melakukan hal yang sia-sia untuk diri mereka? Apa untungnya menggagumi seseorang, kemudian saling berdiskusi buat coba menarik perhatian mereka?” Ditya tetap ngotot.
            “Jangan cuma menilai dari satu sisi saja. Emang kamu mau dicap sebagai ikhwan kaku yang pemikirannya masih kolot?”
            “Aku gak kaku. Aku cuma bicara tentang kenyataan yang ada sekarang. Emang ada yang salah?”
            “Ada. Yang salah itu cara berpikirmu. Kenapa kamu gak bisa lebih ramah pada semua orang tanpa terkecuali?”
            “Kalo aku ramah pada semuanya termasuk cewek-cewek yang suka membicarakannku ketika aku lewat di depan mereka, itu sama aja aku memberikan kesempatan pada mereka untuk mendekatiku. Bukankah itu salah satu hal yang mendekati zina?”
            Sejenak hanya hening yang terasa dari bilik tempat Malika duduk, hanya suara nafsnya yang terdengar berat.
            “Semua perbuatan tergantung niat. Jika kamu meluruskan niat di jalan dakwah, maka hasilnya Insya Allah akan barokah. Kamu harus nyadar kalo sekarang kamu udah jadi public figure. Harus bisa jadi panutan. Bersikap terbuka kepada siapa saja itu penting, supaya dirimu tidak dikenal sebagai seorang yang misterius”
            “Oke. Jadi menurutmu aku harus gimana?”
            Tak ada jawaban. Diyta mencoba menunggu. Namun dalam hatinya masih penuh tanya. tidak biasanya Malika berpikir cukup lama menjawab pertanyaannya.
            “Kok diam?” Ditya mencoba membuka percakapan kembali. Dia mengira Malika jengkel dengan tingkahnya.
            “Kamu gak tidur kan?” lalu Ditya melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan Malika.
            Astagfirullahaladzim….” Pekik Ditya histeris.
            Terlihat pemandangan yang membuatnya miris. Malika sedang memegangi dadanya. Nafasnya tampak tersengal-sengal. Ditya hafal betul keadaan seperti itu. Asmanya sedang kumat.
            “To…tolong ambilin obat…ku di tas,” pintanya masih dengan nafas tinggal satu-satu.
            Tanpa disuruh dua kali Ditya segera menuju tempat penitipan tas yang ada di depan pintu masuk. Dia mengambil tas Malika dan membawanya ke dalam. Sempat terdengar teriakan nyaring sang Penjaga perpus karena melihat Ditya membawa tas ke dalam ruang baca. Dengan jawaban singkat dia menjelaskan alasannya.
            Dengan sigap Ditya membawa membuka tas Malika dan mencari benda kecil yang dia tahu sebagai obat asma hisap yang selalu dipakainya saat penyakitnya itu kambuh.
            Begitu menerima benda itu, Malika langsung memasukannya ke dalam mulutnya. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia menghirupnya.
            Satu menit, dua menit… Nafasnya mulai teratur, walaupun masih terdengah ‘suara khas’ ketika asmanya kambuh, tapi dia sudah bisa mengatur nafasnya.
            “Makasih…..” dia melepaskan benda yang sedari tadi bercokol di mulutnya. Ditya dengan sigap meraihnya dan memasukan kembali ke dalam tas Malika.
            “Sekarang udah baikan? Apa perlu ke dokter? Kayaknya serangan yang ini agak parah dan tanpa pemberitahuan,” Ditya mencoba sedikit berkelakar. Karena dia juga risih dengan cara bicara yang seolah perhatian, apalagi dengan seorang akhwat. Meskipun dia dan Malika sudah berteman baik. Namun ada beberapa pihak yang tidak sependapat dengan persahabatan antara ikhwan dan akhwat karena bisa saja mereka berkhalwat dengan dalih persahabatan. Tapi dengan diplomatis, mereka selalu bisa mematahkan argumen beberapa orang yang kontra.
            Keduanya memiliki karakter yang berbeda. Malika adalah akhwat cerdas yang pandai berargumen di depan umum dan bergaul dengan siapapun. Sedangkan Ditya, walapun dia juga sama cerdasnya dengan Malika, tapi dia cenderung type orang yang pilih-pilih dalam bergaul. Dia tak banyak berteman dengan teman sekelasnya yang kebanyakan orang ammah. Alasannya karena dia memegang teguh prinsipnya, ketika dia banyak berinteraksi dengan teman-temannya itu, nantinya dia akan lalai dan tidak bisa solat awal waktu. Namun, keduanya selalu bisa menyatukan pikiran. Walaupun tak jarang adu argumen tetap menjadi menu utama mereka.
            Pertemuan keduanya pun unik. Sampai kemudian mereka sering terlihat bersama. Entah di kelas wajihah dakwah, kelompok karya ilmiah, menjadi tentor di bimbel yang sama. Semua itu terjadi secara natural, dan semata karena kehendak Allah.
Dua orang yang hebat, dua orang yang selalu bisa menguasai medan dengan berbekal kesabaran, dan dua orang yang seringkali ditempatkan pada jajaran yang sama dalam tataran organisasi dakwah kampus, sungguh kebetulan yang butuh banyak perjuangan.
            Kembali pada cerita di awal…
            “Engg, sepertinya tidak perlu,” Malika terlihat agak canggung menyadari posisi dirinya dengan Ditya cukup dekat secara fisik. Dirinya berada ditempat dimana dia membaca pada awalnya, sementara Ditya ada disampingnya, sangat dekat.
            “Sepertinya kita harus segera menyudahi perbincangan kita. Ingatkan aku kalau kita belum menyelesaikan mengenai topik pergaulan lawan jenis yang masih memanas diantara kita,” Malika bersiap untuk berkemas. Dia mencoba untuk berdiri dengan seluruh sisa-sisa kekuatan yang masih ada dalam dirinya.
            “Perlu aku penggilkan akhwat lain untuk datang kesini membantumu!” tawar Ditya yang iba melihat Malika yang mencoba berjalan walaupun masih sempoyongan.
            “Tidak usah. Aku masih bisa jalan sendiri. Lagian kos-ku dekat kok. Dan aku bisa minta dijemput temanku di depan kampus,” balas Malika dengan tegas. Sementara Ditya berjalan agak menjauh di belakangnya, walaupun sisi-sisi kemanusiaannya tergerak melihat sahabatnya, atau lebih tepatnya saudarinya sedang kesakitan.
            Ini bukan pertama kalinya Ditya mendapati Malika hampir ambruk gara-gara penyakit asma yang sudah menemaninya semenjak masih kanak-kanak. Dulu, Malika bahkan sempat masuk rumah sakit karena paru-parunya mengalami penyempitan. Efek asma itu sendiri tentunya.
            “Um, andai saja aku ini akhwat. Aku pasti bisa menolongmu dengan leluasa…” ucap Ditya yang segera disesalinya. Kenapa keluar begitu saja dari mulutnya.
            Diluar dugaan Ditya yang akan mengira Malika akan marah karena perkataannya yang ‘agak sedikit nakal’ itu, namun akhwat tersebut malahan tersenyum kecil.
            “Kalau kamu jadi akhwat. Nanti bagaimana nasib cewek-cewek yang mengagumimu secara berlebihan itu? Bukankah mereka akan kecewa kalau kamu berubah jadi…”
            “Hei, kenapa harus menanggapinya secara berlebihan? Itu hanya perandaian saja,”
            Sampai di teras perpus menuju gerbang utama kampus. Ada sepasang mata yang menangkap bayangan Malika yang berjalan perlahan, sementara Ditya ada di belakangnya, walaupun agak jauh. Kedua mata itu menyipit melihat pemandangan tersebut. Dengan bergegas, sosok itu segera mendatangi target.
            “Malika…” panggilnya, terdengar akrab.
            “Ehhh, Mbak Khumaira…” jawab Malika singkat bercampur rasa kaget. Malika melihat sepercik api amarah dalam mata sang Murabbiyyahnya tersebut.
            “Kalian darimana saja? Kenapa cuma berdua saja?”
            Ishbir, Ukhti. Semua bisa dijelaskan baik-baik..” sela Ditya yang terkesan mendahului Malika yang hendak berbicara.
            Afwan, ana bertanya pada Malika,” jawab mbak Khumaira dengan tegas tanpa meninggikan suara.
           Dengan tenang dan bahasa yang halus, Malika menceritakan semua secara singkat pada Murabbinya, dengan Ditya yang masih berdiri di tempatnya.