This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 15 Juni 2010

KETIKA BINTANG BERPENDAR CINTA

“Apa? Saya akan dikhitbah?” seru Fatimah tak percaya.
Wajar saja jika Fatimah terkejut bukan main. Selama ini tidak ada laki-laki yang benar-benar berta’aruf kepadanya. Bukan karena Fatimah tidak cantik atau tinggi hati, tapi itu semata-mata karena banyak pemuda yang segan dengan ayahnya. Ayah Fatimah merupakan salah satu kyai ternama di Kudus. Beliau adalah K.H. Imam Bashori atau yang akrab dipanggil Gus Bas, pemilik pondok pesantren ’Miftahul Jannah’. Ponpes untuk para calon hafidz dan hafidzah.
Dan malam ini, sang abah memanggilnya untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting.
”Bah, kulo mboten ngertos tiyange. Apa tidak sebaiknya ditunda dulu? Lagipula saya belum ujian skripsi. Masih tiga bulan lagi. Bukankah janji abah akan menikahkan saya setelah saya lulus S1?” ujar Fatimah masih dengan perasaan bingung. Khitbah bukanlah hal yang sepele. Ini menyangkut masa depannya nanti. Pernikahan.
”Lha iya, Nduk. Khitbahnya dilakukan minggu depan, tapi pernikahan dilaksanakan setelah kamu lulus kuliah. Maka dari itu, abahmu menyetujui rencana khitbah dari seorang pemuda saleh yang insya Allah terjamin akhlaknya.” timpal Bu Nyai, ibunda Fatimah. Para santri dan santriwati biasa memanggil beliau Bu Nyai atau Bu Ummi, karena nama asli beliau Ummi Kultsum.
Fatimah menundukkan kepala dan diam sesaat. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia yang belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya tiba-tiba harus dihadapkan dengan takdir seperti ini. Dalam hatinya yang paling dalam, Fatimah belum siap menikah sama sekali. Tapi bagaimanapun juga, dia tidak mau mengecewakan kedua orang tua yang sangat dicintainya itu.
”Siapa namanya, Bah?” tanya Fatimah kemudian sambil memandang abahnya lurus-lurus dengan tatapan serius seorang hafidzah.
Pak Kyai tersenyum ketika melihat tatapan putri satu-satunya itu. Beliau paham betul bahwa Fatimah tidak ingin abahnya sembarangan memilihkan pendamping hidupnya. Khitbah tidak boleh dijadikan ajang coba-coba. Bagi Fatimah, sekali seorang pemuda mengkhitbah dirinya, dia harus benar-benar cocok di hatinya. Setelah itu akan berlanjut ke jenjang berikutnya. Tentu saja dengan landasan cinta dan ibadah sebagai dasar dari pernikahan yang suci.
”Namanya Ahmad Ali. Dia lulusan S1 dari Universitas Al Azhar Cairo, Mesir. Jurusannya sama denganmu, Nduk. Tafsir. Dia anak teman abah dari Solo. Insya Allah dia seorang pemuda yang baik.” kata abah dengan mantap.
”Piye? Setuju apa tidak?” ganti umminya bertanya.
Fatimah menghela nafas. Terasa sangat berat untuk memberikan keputusan. Ruang tamu itu seakan menghimpitnya untuk memberikan anggukan kepala pertanda setuju kepada abah dan ummi.
Fatimah beristighfar dalam hati. Sulit baginya memutuskan sendiri. Dia butuh Allah sekarang juga.
”Saya harus shalat istikharah dulu, Bah. Besok saya putuskan.” ucapnya kemudian.
Abah dan ummi berusaha mengerti perasaan Fatimah. Walau mereka sebenarnya sangat menginginkan pernikahan itu, tapi keputusan ada di tangan Fatimah. Mereka hanya bisa bertawakkal kepada Allah swt. Sang Penguasa Hati.
***
Sepertiga malam ini Fatimah benar-benar berserah diri kepada Allah sepenuhnya. Setelah dua raka’at shalat istikharah, lalu dilanjutkan dengan shalat tahajud dan witir, perasaan Fatimah kembali tenang. Ditambah lagi dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menambah sejuk hatinya.
Tanpa disadari, Fatimah tertidur di atas sajadah. Masih dengan memakai mukena. Sejenak kemudian dia bermimpi. Mimpi tentang pemuda dan bintang. Dalam mimpinya itu ada seorang pemuda yang membawa tujuh pendar bintang ke hadapannya. Sayup-sayup dia mendengar suara dari kejauhan.
Tujuh pendar bintang itulah syarat khitbah kepadamu.
Mimpi tersebut berulang sebanyak tiga kali. Fatimah terbangun. Keningnya penuh dengan keringat sebesar biji jagung. Nafasnya memburu. Pikirannya masih terpaut dengan mimpi yang baru saja dialaminya.
”Ya Allah, inikah petunjukmu atau bisikan dari syaithon?”
Fatimah tidak beranjak dari tempatnya semula. Lidahnya sibuk menyebut asma Allah. Menurutnya, bisa jadi mimpi itu harus ditafsirkan kembali. Tapi Fatimah belum sanggup menafsirkannya. Selama ini Fatimah baru mempelajari tafsir Al-Qur’an dan Hadits. Belum sampai pada tingkatan yang lebih tinggi.
”Ah, bisa jadi pemuda itu yang bisa memenuhi syarat khitbahku.” gumam Fatimah dalam hati.
Sejujurnya, Fatimah masih ingin melanjutkan studi S2 nya. Bahkan saat ini dia telah mengantongi beasiswa S2 ke Syiria. Tapi perintah abahnya untuk menikah tidak bisa dihindari lagi. Dia sudah berjanji di hadapan kedua orang tuanya dan tentu saja dengan Allah sebagai saksi bahwa dia bersedia menikah setelah lulus S1. Itu dengan syarat ada pemuda yang berani melamar dirinya pada kedua orang tuanya.
Adzan subuh mengalun indah. Membuat setiap orang yang mendengarnya merasakan damai yang luar biasa di dalam kalbunya. Fatimah berencana untuk membicarakan ikhwal mimpinya ini kepada abah dan ummi seusai shalat subuh berjama’ah nanti.
”Kowe yakin iku petunjuk saka Gusti Allah, Nduk?” tanya abah masih dengan kening berkerut. Syarat khitbah macam apa itu dengan membawa tujuh pendar bintang.
”Inggih, Bah. Mimpinya berulang tiga kali. Insya Allah itu petunjuk-Nya. Saya tidak mau berburuk sangka kepada Allah. Bukankah Allah mengikuti prasangka dari hamba-Nya? Begitu kan, Bah?” jawab Fatimah kalem.
Jika pemuda itu tidak bisa memenuhi syarat khitbahnya, maka khitbah itu secara otomatis gagal dan tidak akan ada pernikahan. Dan selama tidak ada yang bisa memenuhi syarat itu, Fatimah masih mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studi S2 nya ke Syria. Pikiran tersebut berkelebat dalam benak Fatimah.
Fatimah Az-Zahra adalah seorang hafidzah dan tiga bulan lagi hampir bisa dipastikan dia akan lulus dengan predikat cumlaude jurusan Tafsir Hadits fakultas Ushuluddin di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Timur.
Tapi entah kenapa saat ini hatinya tidak merasa senang dengan syarat khitbah yang muncul dalam mimpinya. Dalam hati kecilnya, ada desir halus yang susah diartikan maknanya. Apakah benar dirinya merindukan sosok seperti Ali bin Abi Thalib?
***
Siang ini terjadi pertemuan dua keluarga secara mendadak. Keluarga Kyai Imam Bashori dengan keluarga Haji Hanafi dari Solo. Tadi pagi Pak Kyai langsung menelepon ke Solo untuk mengundang keluarga Haji Hanafi ke Kudus dalam rangka silaturrahmi, sekaligus membicarakan hal penting mengenai syarat khitbah yang harus dipenuhi oleh Ali, pemuda yang ingin meminang Fatimah.
Ali sendiri belum pernah melihat wajah Fatimah. Dan inilah kesempatan yang dinantikannya. Baginya, pilihan yang ditawarkan oleh kedua orang tuanya bukanlah perempuan sembarangan. Tentulah dia perempuan terhormat dan berakhlak layaknya putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra.
Kecantikan bukan jadi pertimbangan utama untuk menjadi isterinya. Hati yang suci dan kecintaan pada Allah dan Rasulullah lah yang jadi bahan renungannya. Dan tentu saja perempuan itu harus mengerti agama Islam secara kaffah agar nantinya bisa membina rumah tangga yang sakinah.
Begitu tiba di rumah Kyai Bashori, rombongan dari Solo itu disambut dengan hangat. Fatimah belum menampakkan diri di hadapan mereka. Rasa malu yang luar biasa menyelimuti hatinya. Padahal hari ini bukanlah hari khitbah untuknya.
Setelah menanyakan kabar keluarga Haji Hanafi dan sekadar ramah-tamah beberapa menit, Pak Kyai menjelaskan mimpi dari putrinya sebagai syarat khitbah yang harus dipenuhi oleh Ali.
”Apakah hal itu masuk akal, Kang?” ujar Haji Hanafi pada Pak Kyai yang dulu sering dipanggilnya Kang Imam.
”Begitulah adanya, Han. Mimpi itu adalah ikhtiar dari putriku. Sekarang tergantung putramu. Kalau mau diusahakan ya monggo, kalau langsung ditolak pun kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa bertawakkal kepada Allah.” ucap Pak Kyai dengan pelan. Ada nada kecemasan dalam suaranya. Mungkinkah Ali mau mengusahakan hal yang kelihatannya mustahil itu.
Bu Nyai kemudian menyuruh Fatimah mengeluarkan minuman kepada para tamu. Fatimah pun melaksanakannya dengan hati berdebar-debar. Dia juga ingin mengetahui bagaimana rupa calon orang yang akan meminangnya itu.
Fatimah muncul dari balik tirai yang menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang tengah. Jilbab biru muda yang dipadu dengan gamis panjang yang berwarna senada dengan jilbabnya membuat para tamu takjub seketika. Seakan ada bidadari yang benar-benar turun dari langit, tapi kali ini bidadarinya membawa nampan yang berisi beberapa gelas minuman untuk mereka.
Tak terkecuali dengan Ali. Hatinya langsung mendendangkan tasbih. Doa langsung terpanjat dari kalbunya. Memohon kepada Allah untuk memudahkan jalannya mendapatkan perempuan seindah Fatimah Az-Zahra. Semburat merah tampak di wajahnya. Dia pun menundukkan kepala. Malu.
Hal tersebut ditangkap oleh Pak Kyai dan Haji Hanafi. Mereka tersenyum. Begitu pula dengan Bu Nyai dan Ibunda Ali. Mereka merasakan gelagat yang sama dari Fatimah. Tangan Fatimah bergetar ketika menyuguhkan minuman di hadapan Ali. Agaknya mereka saling menyimpan hati satu sama lain. Demikianlah kesimpulan para orang tua itu.
Fatimah tidak diizinkan pergi ke belakang lagi. Sebagai gantinya, dia duduk bersama Bu Nyai dan Ibunda Ali.
”Piye, Nang? Syarat khitbah itu apa kamu sanggup?” pertanyaan ayahnya menyadarkan Ali dari lamunannya. Ali menghela nafas. Guratan wajah seorang pemikir tampak di raut mukanya, menambah desir halus di hati Fatimah. Kegelisahan langsung melanda perasaannya. Syarat itu pasti menyusahkannya, pikir Fatimah dalam hati.
”Insya Allah akan saya usahakan. Tujuh hari ke depan tepat pada saat saya mengkhitbah Fatimah, tujuh pendar bintang itu akan ada di hadapannya, sebagai syarat khitbah yang harus saya penuhi. Tapi ada satu hal yang saya pinta,” Ali berkata setenang mungkin, berusaha menutupi kegugupan yang melanda hatinya. Pandangannya seakan tidak mau lepas dari wajah Fatimah yang benar-benar menyejukkan hati. Alangkah bahagianya kalau bisa menjadi suami Fatimah.
Hati Ali kini penuh dengan kemilau cinta. Tapi buru-buru ditepisnya perasaan itu. Fatimah belum halal baginya. Dan akan berdosa seandainya dirinya sudah membayangkan yang tidak-tidak bersama Fatimah. Perempuan dengan lesung pipi yang begitu indah.
”Apa hal itu?” tanya abah Fatimah cepat. Ada secercah harapan untuk masih bisa mendapatkan menantu rupawan yang saleh seperti Ali.
”Izinkanlah khitbah itu dilaksanakan pada malam hari. Itu saja.”
Semua yang ada di ruang tamu bernafas lega. Hal itu bisa diatur dengan mudah. Pagi, siang ataupun malam tidak jadi masalah bagi mereka. Tapi, bagaimanakah dengan tujuh pendar bintang itu?
***
Fatimah nampak mondar-mandir di ruang tamu. Sudah enam hari dia tidak mendapatkan kabar sedikitpun dari keluarga Haji Hanafi. Fatimah begitu gelisah. Bisa jadi Ali sudah menyerah untuk mengikhtiarkan syarat khitbahnya itu. Pikirnya.
Bu Nyai mengintip dari balik tirai, tersenyum melihat tingkah anak gadisnya. Beliau kemudian menghampiri Fatimah.
”Nampaknya pemuda itu telah memikat hatimu,” ucap Bu Nyai kemudian, membuat Fatimah tersentak karena tidak menyadari kehadiran umminya.
”Astaghfirullah. Ummi mengagetkan saja.” Fatimah tersipu malu. Wajahnya merona merah.
”Bukankah pemuda bernama Ali itu sangat rupawan, Nduk? Dia juga saleh. Mengapa tidak kamu terima saja dia tanpa harus meminta syarat khitbah?” tanya Bu Nyai sambil mengamati Fatimah. Beliau kemudian mengajak Fatimah duduk di sofa.
Fatimah memandang umminya dengan serius. ”Rasulullah sangat tidak menyukai orang yang menjilat perkataannya sendiri. Dan saya tidak ingin dibenci oleh Rasulullah. Wajah yang rupawan dan harta yang melimpah bukanlah jaminan kesalehan dari seorang pemuda. Tetapi saya melihat ada yang membedakan Ali dari pemuda lainnya.”
”Opo iku, Nduk?” tanya Bu Nyai.
”Hati. Saya melihat cara dia bertutur kata, bertingkah laku di hadapan abah dan ummi, itu semua menjadikan Ali sebagai sosok imam yang tepat untuk saya. Dan seandainya Ali memang jodoh saya, Allah akan mempertemukan kami dalam jalinan yang lebih suci. Allah itu lebih mengetahui hati kita dari siapapun karena Allah ada di hati setiap orang yang beriman.” Fatimah menyelesaikan kalimatnya dengan mantap.
Bu Nyai tersenyum dan membelai jilbab Fatimah. ”Subhanallah, Nduk. Tidak sia-sia kami membesarkanmu selama ini. Dan tidak sia-sia pula ilmu yang telah kamu peroleh di perguruan tinggi. Amalkanlah itu sampai kepada anak cucumu nanti. Sebenarnya ummi hanya mengujimu.”
Fatimah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia sama sekali tidak menyadari jika ummi hanya sekadar mengujinya. Mereka berdua tersenyum sambil merasakan hangatnya mentari sore yang sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Besok merupakan hari penentuan apakah khitbah itu jadi dilaksanakan atau tidak. Akankah Ali sanggup memenuhinya?
***
Malam ini merupakan waktu yang dijanjikan Ali untuk melaksanakan khitbah. Tepat tujuh hari dari yang telah diutarakan pada waktu itu. Tapi tanda-tanda kedatangan rombongan Haji Hanafi belum juga muncul. Pak Kyai, Bu Nyai, Fatimah, dan beberapa sanak saudara yang diundang terlihat gelisah dan bingung menanti rombongan sang pelamar.
Jam dinding telah menunjukkan pukul delapan malam. Kedua mata Fatimah berkaca-kaca, hampir berputus asa karena merasa Ali bukanlah jodoh terbaik dari-Nya. Bu Nyai berusaha untuk menguatkan hati Fatimah.
Telepon dari ruang tengah berdering. Pak Kyai segera mengangkatnya. Beliau terlihat sangat serius menyimak penjelasan dari penelepon di seberang sana.
”Baiklah kalau begitu. Wa’alaikumsalam, Han.” ucap Pak Kyai sembari menjawab salam dari penelepon yang ternyata adalah Haji Hanafi. Beliau lalu menuju ruang tamu untuk menyampaikan apa yang telah didengarnya beberapa menit yang lalu.
”Kita semua disuruh untuk menuju halaman pesantren. Tadi melalui Haji Hanafi, Ali berpesan agar kita memadamkan listrik di pesantren selama tiga menit. Ada sesuatu yang mau diperlihatkannya kepada kita. Aku akan menginformasikan pemadaman listrik kepada kepala pondok putra dan putri. Kalian bergegaslah pergi ke halaman pesantren.” perintah Pak Kyai.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bu Nyai, Fatimah dan beberapa sanak saudara lainnya bergegas menuju halaman pesantren. Lima menit kemudian Pak Kyai menyusul di belakangnya.
Begitu listrik dipadamkan, rombongan Haji Hanafi datang dengan berkendara mobil. Dan mereka sekarang menuju halaman pesantren untuk menemui keluarga Kyai Imam Bashori.
Dalam keremangan malam yang hanya disinari bulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit, Ali melangkah sedikit lebih maju ke hadapan Pak Kyai. Sebuah kotak berukuran sedang ada dalam genggamannya saat ini.
”Bismillahirrohmanirrohim. Inilah syarat khitbah saya kepada Fatimah.”
Ali membuka tutup kotak yang sedang digenggamnya. Dan nampaklah tujuh pendar cahaya (seperti) bintang. Semua yang hadir terkesima dan seketika memuji asma Allah dengan tasbih. Tujuh pendar cahaya itu adalah tujuh ekor kunang-kunang yang memancarkan pendar cahaya nan indah. Laksana bintang.
Tiga menit kemudian, listrik kembali dinyalakan. Ali terlihat begitu gagah dengan baju koko biru muda, celana panjang dan peci berwarna hitam. Tak lain halnya dengan Fatimah yang juga mengenakan jilbab serta gamis yang senada dengan Ali. Mereka berdua sama-sama menyukai warna biru muda.
Ratusan penghuni pondok keluar dari kamar. Halaman pondok pesantren berlantai tiga itu kini penuh dengan ratusan pasang mata yang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
”Apakah penafsiran yang dapat kamu simpulkan dari syarat khitbah putriku, wahai anakku?” tanya Pak Kyai kemudian, seakan tidak menghiraukan khalayak ramai yang sudah terbentuk dan suasana khitbah yang tidak lazim.
Ali menghirup nafas sejenak. Panjang dan dalam. Dia sedang menyusun kata-kata terbaiknya agar bisa diterima sebagai calon pendamping hidup seorang bidadari dunia, Fatimah Az Zahra. Sekaligus ingin secepatnya menyempurnakan separuh agama dengan menikah, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
”Menurut Asy-Syaikh Al Imam Abu Nashr Muhammad bin Abdirrahman Al Hamdani dalam kitabnya Assab'iyyatu fi Mawa'idhil Barriyah menyatakan, Dzat Pencipta yang sangat besar kekuasaan-Nya dan sangat tinggi kedudukan-Nya yaitu Allah SWT telah menghiasi 7 perkara dengan 7 perkara. Dan menghiasinya pula bagi tiap-tiap 7 perkara itu dengan 7 perkara lainnya. Hal tersebut sengaja Allah ciptakan untuk memberitahu kepada orang-orang yang berilmu bahwasanya di dalam angka 7 itu mempunyai keunikan dan rahasia yang besar.
Allah menciptakan 7 hari dalam seminggu. Langit sebagai atap kita terdiri dari 7 tingkat atau lapisan. Tanah yang kita pijak ada 7 lapis. Tubuh kita terbagi menjadi 7 bagian. Surah Al Fatihah ada 7 ayat dan berbagai jumlah 7 yang lain.
Salah satu contohnya yaitu Allah menghiasi udara ini dengan tujuh lapis langit sebagaimana firman Allah dalam surah An Naba' ayat 12, ”Dan Kami (Allah) jadikan di atas kamu 7 (langit) yang kukuh.” Allah menciptakan langit dunia pertama dari air, langit kedua dari embun, langit ketiga dari besi, langit keempat dari perak, langit kelima dari emas, langit keenam dari mutiara dan langit ketujuh dari mira delima. Setelah itu dibelahnya yang antara tiap-tiap bagian berjarak lima ratus tahun.
Masih banyak lagi rahasia angka tujuh lainnya yang merupakan sebagian kecil rahasia Allah. Tujuh pendar bintang itu saya ibaratkan dengan tujuh ekor kunang-kunang yang bercahaya bak bintang pada malam hari. ” jelas Ali panjang lebar kepada Pak Kyai.
Gema tasbih, tahmid dan takbir tak terelakkan lagi membahana di halaman pondok pesantren Miftahul Jannah. Fatimah menangis terharu karena bahagia. Begitu pula dengan Pak Kyai dan Bu Nyai yang semakin yakin bahwa Ali adalah jodoh yang telah ditentukan-Nya untuk anak semata wayang mereka.
Haji Hanafi lalu memimpin prosesi khitbah dan segera mengutarakan keinginan Ali untuk melamar Fatimah sebagai istri setelah memenuhi syarat khitbah yang diajukan. Pak Kyai pun menerima pinangan pemuda saleh itu. Ali sujud syukur seketika karena Allah telah memberikan salah satu anugerah terindah yang pernah dia dapatkan seumur hidupnya.
”Alhamdulillahirobbil ’alamin...” ucap Ali di sela-sela sujudnya.
Parade nuansa malam mulai menebarkan cahaya Ilahi untuk Ali dan Fatimah. Rembulan mengintip malu-malu dari balik awan hitam. Sepasang insan telah dijodohkan atas izin Allah ketika bintang berpendar cinta untuk mereka...


Muzaki Bashori
2201408113
Pend. Bahasa Inggris-FBS

(Cerpen peringkat ke-5 dalam lomba cerpen Islami Sigma 1431 H)

Senin, 14 Juni 2010

BENGKEL HATI

Semburat jingga di ufuk barat kian mengabur. Serasa cepat sekali hari ini kulewati dengan jutaan rasa yang tak dapat kulukiskan walau hanya dengan segores sapuan kuas. Hanya dapat kulantunkan jutaan syukur yang menyelimuti seluruh jiwa ini yang bisa kulantunkan mengiring kumandang adzan yang tengah memenuhi seantero kota Pasir Putih pantai selatan ini.
Kubuka lembar demi lembar sebuah mushaf bersampul biru yang kugenggam sejak sore tadi. Huruf demi huruf yang indah membentuk rangkaian makna mengikat hatiku semakin menguatkan azamku. Inilah keputusan yang Allah kuatkan untuk hatiku. Inilah yang terbaik untukku.
Tok…tok…tok…
“Mba Aya, Mba Fidya udah nunggu di depan,” suara halus yang terlontar dari si ayu Ziya, semakin menggetarkan hatiku. Sekali lagi aku memejamkan kedua mataku. Kuazamkan sekali lagi dalam hati. Aku ingin saat kubuka kedua mataku, Emak dan Abah yang nun jauh di sana juga tengah menantiku di serambi depan, menyambutku dengan jutaan kebahagiaan. Tak ayalnya sebuah keluarga yang penuh kebahagiaan. Kulangkahkan kedua kakiku dengan tergesa, pikiranku kini melayang, bahkan sudah sampai ke tempat yang hendak kutuju. “Siapa gerangan yang akan duduk di persinggahan sana Ya Rabb?” desahku dalam hati.
Dengan sigap kuraih sebuah tas kecil, kubuka dan kutata dengan cepat, mushaf, mukena, buku, ehm…sepertinya sudah lengkap. Tanpa pikir panjang aku segera meraih gagang pintu kamar, aku berlari kecil menuju teras depan.
Dan… Ouch…. Bruk….
Tubuhku hampir terpelanting membentur tembok.
“Aduuuhh….ini kabel patingsliwer begini sih? Dirapiin sih!!!” teriakku kesal dengan nada banyumasan yang kental.
Ziya sempat keluar dari kamar dengan tergesa, menghampiriku dan dengan sigap merapikan kabel-kabel yang semrawut itu. Maklumlah kos-kosan, isi 8 kamar, stop kontak cuma ada 1 di ruang tengah, jadi setiap kamar harus punya rol kabel sendiri-sendiri. Sayangnya memang kurang diatur, jadi kadang membuat kesal orang juga. Padahal, sudah diperingatkan berkali-kali kalau setiap kabel itu harus ditata dengan rapi agar tak mengganggu lalu lalang dan tak merusak pemandangan. Tapi agaknya peringatan itu seolah hanya angin lalu saja.

Tanpa menghiraukan Ziya yang sibuk dengan sekian banyak gulungan kabel di tangannya, aku bergegas menghampiri Mba Fidya di teras depan.
“Afwan Mba Fid, udah nunggu lama nggeh?”
“Gak kok. Aya udah siap terima apapun dan siapapun itu?”
“Insya Allah Mba…Aya tsiqoh aza ma Mba Fidya dan Mas Pram…,”
Semburat petang yang kian mengabur itu, kini menjadi panorama indah yang menghiasi tak hanya langit di atas kepalaku, namun langit penaung hati dan pikiran ini yang semakin tak terkendalikan juga ikut mengabur. Entah apa yang kurasakan saat ini, mungkin inilah jalan yang harus aku tempuh…
***
“Cieh..cieh….beli buku apaan Non Ziya? Buku pembelajaran lagi? Bukannya skripsi Mba Zi udah selesai? Kenapa masih butuh buku referensi juga?” kata Anis yang langsung disambut dengan injakan kaki Elly, “Awww!”
“Kenapa sih Mba El? Kenapa pake acara nginjak kakiku segala sih?” Anis manyun melihat ekspresi Elly yang melotot dan siap menerkamnya dengan jutaan omelan. Meski terhalang beberapa jajar rak buku, raut Ziya yang datar tak luput dari pandanganku.. Aneh…ada apa dengan Ziya yang akhir-akhir ini lebih sering kelihatan murung dan menyendiri? Dia tak lagi main ke kamarku dengan ribuan ceritanya tentang bimbingan skirpsinya, dosen pembimbingnya yang killer dan perfectionis.
“Di jalan dakwah aku menikah…Cieh…cieh…Mba Aya malah beli buku-buku kajian nih? Buat ngobatin hati ya Mba? He..he…Wuih…keren nih Mba, cocok..,”
Eeerrrggghhh…Elly semakin geregetan. Kayaknya bibir tipis makhluk yang satu ini harus bener-bener dikursusin secara ekstra deh. Aku mendesah pelan, dengan ribuan perasaan yang seolah kembali membuncah menusuki relung-relung hati yang lukanyapun bahkan masih terasa basah.
Elly kembali melotot, dia semakin geram dengan kebiasaan teman sekamarnya itu. ‘Uupps….,’ Anis menempelkan telunjuknya menutupi bibir tipisnya yang sejak tadi meliuk-liukkan kalimat ledekan. Sepertinya Anis mulai mengerti apa yang diisyaratkan Elly.
“Afwan Mba, gak bermaksud bikin Mba Aya sedih lagi gara-gara gagal nikah itu. Eh tapi sebenarnya yang menggagalkan pernikahan itu Mba Aya atau Mas Dika sih?”
“Ergh…Aniiiiiss…,” Elly sontak meraih buku tebal yang ada di depannya, dan berusaha mengejar Anis yang tengah sedikit berlari kecil menghindari amukan Elly yang siap mendarat di balutan jilbab ungunya…siaga 3P nih…Pegang, Paksa, Pukul…itu jurus andalan Elly mengendalikan Anis yang punya kebiasaan nyeplos itu.
Aku hanya tersenyum pasi mengingat kejadian sore itu… Sore dimana aku tengah siap menerima lamaran dari seorang yang menjadi dambaan (mungkin setiap muslimah). Sosok seorang pemimpin yang selalu take action di setiap langkahnya, selalu tanggung jawab dengan amanahnya, tak pernah melewatkan agenda tarbiyahnya. Andika Prasetya. Aku bahkan tak menyangka jika Mba Fidya dan Mas Pram menjodohkanku dengan pemuda luar biasa itu… Tapi… Sore itu, teriknya sang raja siang benar-benar tak hanya memanaskan seluruh kota Pantai Selatan, tapi juga membakar seluruh harapan yang telah kutancapkan kuat dalam hatiku. Tak ayalnya, aku bagaikan disambar petir di tengah panasnya gurun.
“Afwan Mba Fidya dan Mas Pram, saya gak bisa melanjutkan perjodohan ini,”
“Kenapa bisa gitu Dik? Mba udah menangkap sinyal kuat dari kalian berdua, kalau kalian itu cocok, iya kan Bi?” Mba Fidya menatap wajah suaminya, kecewa.
“Iya Dik, coba kamu pikirkan lagi perkataanmu itu, toh dari awal orang tuamu juga sudah tsiqoh dengan pilihanmu kan?”
“Ada beberapa hal yang membuat saya gak bisa menerima Mba Aya, Mas… Terutama alasan keluarga yang kurang setuju setelah menimbang bibit-bebet-bobotnya,” sarjana muda itu tertunduk.
“Lha kok tiba-tiba memutuskan gitu kenapa? Dari kemarin-kemarin, sejak ta’aruf pertama toh semua baik-baik saja kan?” Mas Pram semakin tak percaya.
“Iya Mas, awalnya saya yakin, tapi saya gak bisa menikah tanpa ridho orang tua Mas…Afwan...,”
“Bibit-bebet-bobot apa yang diragukan dari seorang Aya Dik?” Mba Fidya menekan suaranya yang sedikit serak.
Percakapan itu masih terngiang jelas di telingaku. Tanpa sadar titik-titik air hangat sudah menetes dari sudut-sudut mataku. Setetes air bening itu membasahi buku yang tengah kupegang erat. “Di jalan dakwah aku menikah,” judul itu benar-benar menjadi impian yang seolah jauh dari gapaianku saat ini. Kuusap perlahan pipiku yang basah karena aku tahu Anis dan Elly sedang memperhatikanku dari balik tumpukan buku di pojokan, bahkan Ziya yang sedang bersikap dinginpun diam-diam mencuri pandang ke arahku. Aku tak ingin membuat semuanya merasa sedih seperti apa yang aku rasakan saat ini.
Kuraih beberapa buku kajian tokoh-tokoh ulama tentang bagaimana mengobati hati. Mungkin itulah yang sedang aku butuhkan saat ini. Kugerakkan langkahku menuju kasir, melewati beberapa pandangan tajam orang-orang yang juga tengah menyatroni buku-buku yang ada di rak bertuliskan agama, pendidikan, teknologi, dan akhirnya langkahku terhenti di tengah antrian panjang para pembeli.
Aku kembali tertunduk, terisak.
***
“Mba Aya mau kemana?”
“Mau ikut kajian. Lha Anis gak berangkat kajiannya Ustadz Aneif?”
“Ehm…he…he….aku masih ngantuk nih, semalam ngerjain banyak tugas Mba, kapan-kapan aza ya?”
“Ilmu itu gak bisa pake kompromi kapan-kapan Nis, lagian ba’da subuh gini gak baik kalo kamu tidur lagi, tar rezekinya dipatuk ayam lhow…..,” tukas Elly.
“Ya kan malah untung, aku jadi bersedekah buat ayam karena aku kan gak punya ayam jadi gak pernah sedekah buat ayam, nah itu kan malah juga jadi ladang amal toh? He..he…,” elak Anis innocent.
Iiiihh….Elly melotot sewot. Jilbab yang membalut indah membuat wajah Elly semakin terlihat menggelembung. Apa sih yang ada di pikiran Anis? Selalu saja diwarnai jawaban ngocol yang akhirnya bikin Elly geram.
Anis celingukan. Dia mencari-cari sosok yang bisa membantunya mencari alasan. Nah…. “Mba Ziya dari tadi subuh gak keluar-keluar lagi kan noh…pasti dia lagi tidur tuh, kamarnya aza gelap. Kenapa gak ngajak Mba Ziya aza tuh biar gak cemberut mulu, dari kemarin kan mukanya asem banget, minta didoain aza tuh sama Ustadz Aneif, biar sembuh seperti sedia kala,”
“Huuss, kalo ngomong jangan asal ncemlong aza deh, makanya ikut kajian biar bisa dijaga tuh mulut, pokoknya Anis WAJIB ikut. Titik,” paksa Elly.
Anis cuma bisa manyun melihat raut angker wajah Mba sekamarnya itu.
Singkatnya, Anis memang ikut kajian. Kebetulan tempatnya tak jauh dari kos-kosan, hanya butuh waktu 10 menit mencapai masjid dengan jalan kaki. Temen-temen sekos juga diajak semua. Walaupun tadinya menolak dengan berbagai jurus, tapi itu memang trik-triknya adik-adik aza biar bisa bolos berangkat kajian. Dan itu adalah trik yang sudah basi bagi Elly, gampang terbaca. Karena memang itu kan jurus turunan dari Anis. Gampang ditebak, gampang dipaksa.
Ternyata di masjid sudah penuh sesak. Alhamdulillahnya masih bisa duduk walaupun di barisan nomor 2 dari belakang.
Kajian berlangsung dengan khidmat. Elly selalu memperhatikan gerak-gerik Anis dan sepertinya Anis juga terlihat konsentrasi hingga akhir.
“Penyakit hati itu banyak macamnya saudara-saudariku. Dendam, iri, dengki, itu semua adalah penyakit hati yang menodai hati-hati kita, yang menutupi kita dari kepekaan terhadap kebaikan. Saudara-saudariku sekalian…seorang sahabat pernah menyampaikan sebuah kalimat indah…’Jika kau tak memahami apa yang kuucapkan, sedang kau mencaciku. Namun aku tahu, kau tak tahu apa yang kau ucapkan, maka kumaafkan’…Mari saudara-saudariku kita berusaha berbenah diri, terapi mengurangi penyakit hati dengan keikhlasan, berusaha memaafkan kesalahan saudaranya, pererat ukhuwah, dan tetap positif thinking,”
“Ampunkanlah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Sang Maha Pengampun dosa, berikanlah aku kesempatan waktu, aku ingin kembali…kembali…dan meski tak layak sujud pada-Mu, dan sungguh tak layak aku…,”
Lantunan syair lagu taubatnya Opick mengiring usainya kajian yang disampaikan Ustadz Aneif. Doa robithoh menjadi penutup kajian pagi itu, doa yang memiliki kekuatan mengikatkan hati-hati yang mungkin tanpa terasa mulai bercelah dan meretak.
Anis cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya, diikuti Elly dan teman-teman yang lain. Ruangan seketika menjadi kosong, semua berhamburan keluar dari masjid. Sesosok gadis masih membungkuk terisak. Ujung jilbabnya basah, perlahan kudekati sosok yang kurasa tak asing bagiku.
“Ziya?” sapaku perlahan.
Gadis itu mengangkat wajahnya, seketika aku terdiam, tergugu dengan tatapan itu. Ada apa dengan Ziya?
“Ada apa Zi?”
“Mba tahu kalo Ziya…Ziyalah yang menggagalkan perjodohan itu Mba,”
Nafasku tersentak mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir gadis yang sudah kuanggap adik kandung sendiri. Serentak gemetar tubuhku, Kutatap lekat-lekat wajah sendu Ziya yang basah.
“Mba gak tahu kan kalo aku saudara sepupu Mas Dika? Awalnya aku ingin kasih kejutan buat Mba Aya, tapi malam itu…malam itu …malam ketika Mba Aya mau ketemu Mas Dika itu….aku gak bisa memaafkan Mba Aya sejak malam itu,”
Aku masih tak berkutik dengan posisiku yang kaku, aku masih tak bisa mengerjapkan kedua mataku dari tatapan dendam yang terlontar penuh ke arahku.
“Mba Aya tahu kan kalo laptopku sedikit manja, dan sekarang laptopku udah rusak, udah gak bisa nyala, itu karena jaringan listriknya yang tiba-tiba putus karena kabelnya nyangkut di kaki Mba Aya malam itu. Mba Aya ingat kan? Padahal skripsiku udah tinggal ngeprint aza, tinggal dilaporkan aza, Karena itu aku harus ngulang semuanya dari awal, aku kecewa Mba, aku gak bisa terima atas apa yang udah Mba Aya lakukan terhadapku, apalagi kalo sampai Mas sepupuku menikah sama orang yang aku benci, aku gak rela Mba, makanya aku memaksa Pak Dhe dan Bu Dhe untuk melarang Mas Dika menikah sama Mba Aya,”
Dadaku serasa tercokol oleh ribuan paku yang menggunung, sesak, sakit, perih, semua terasa begitu memilukan. Perlahan kujauhkan diriku dari jangkauan lengan Ziya yang sejak tadi masih menggantung di jemari-jemariku. Aku membalikkan tubuhku menjauh, aku ingin membunuh rasa kesal ini sendiri.
Aku berusaha berlari dengan beban hati yang nian terasa beratnya. Namun…. Langkahku akhirnya terhenti, dalam pikiranku berkecamuk gundukan-gundukan energi positif dan negatif yang saling tarik-menarik, ’Jika kau tak memahami apa yang kuucapkan, sedang kau mencaciku. Namun aku tahu, kau tak tahu apa yang kau ucapkan, maka kumaafkan’
Kalimat itulah yang terngiang sesaat setelah kuputuskan kembali, kuraih tubuh Ziya yang terkungkung lemah. Kubisikkan kalimat indah dari Ustadz Aneif itu dengan penuh penyesalan, akupun tak luput dari noda hati yang membuat saudariku menangis tanpa aku tahu telah membuat hatinya luka dan kecewa.
“Afwan Mba…Ziya udah salah sama Mba, Ziya terlalu egois dengan pikiran-pikiran negatif Ziya sendiri, afwan Mba afwan…,”
Aku memeluk erat tubuh lemah itu, aku tahu aku tak bisa melupakan kegagalan dalam meraih cinta, tapi yang tengah dalam pelukankupun, dialah cinta, cinta yang tulus tumbuh karena kecintaan kepada-Nya… Yang kuharapkan bisa kujumpai di Syurga-Nya kelak….Insya Allah…Aamiin…
“Hm…untung berangkat kajian ya? Kalo gak, mungkin gak akan tertabayunkan sampai kapanpun, ya gak Nis?” Elly menyodok Anis yang tengah terisak.
“Anis baru sadar Mba, kalo kajian kayak gini adalah bengkel kita menata hati, salah satu tempat kita berkaca pada diri orang lain bukan hanya pada diri sendiri,”
“Hii…hi…hi….ternyata si bengal Anis juga bisa nangis juga toh?” Elly melingkarkan lengannya di pundak Anis yang masih tertegun dengan adegan mengharukan itu. Memang kajian itu bengkelnya untuk menata hati.
Orang yang beriman selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya.
Saat mendapatkan kesulitan ia tetap ceria meski fisiknya mungkin lelah, pikirannya kalut dan jenuh…Tapi tidak dengan hatinya yang selalu yakin bahwa semua itu karena Allah masih sayang padanya….
Semoga kita tergolong makhluk-Nya yang beriman…
……….Aamiin..…..


Dwi Pangesti Aprilia
2401408012
Seni Rupa dan Desain-FBS

(Cerpen peringkat ke-6 dalam lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

MEI LAN

Perempuan yang paling kucintai karena-Nya masih menutup matanya. Binar teduh dari iris mata kecoklatan yang selalu membuat dadaku bergemuruh kini tak lagi kulihat. Binar itu membuat hatiku selalu berikrar tak akan membiarkan setetes saja kristal bening keluar dari sudut matanya. Tak akan pernah kubiarkan mata itu sayu oleh kesedihan. Bibir tipisnya yang selalu mengembangkan senyum untukku kini selalu terkatup. Betapa lekuk kecil di pipinya selalu membuat aliran darah yang memenuhi sel-sel otakku mengalir deras tiap kali senyum terkembang di bening wajahnya. Membuat pikiranku bertasbih untuk selalu mencintanya, menghormatinya, dan menyayanginya.
Alat bantu pernafasan menutupi hidungnya yang tak terlalu bangir, namun sungguh indah bagiku. Keringat bak embun pagi yang terlihat dihidungnya tiap kali ia membuat bakpao membuat nadiku berdenyut lebih cepat. Membuat jantungku berdenyar hingga detaknya selalu membuatku melantunkan doa pada-Nya. Meminta pada Sang Pencipta supaya hati ini terus menghujaninya dengan cinta. Memohan Pada Sang Pemberi Cinta supaya tanganku ini selalu membelai mesra wajahnya penuh kasih sayang.

Kupegang jemarinya yang selalu menyeka peluh di keningku, namun dia tak bereaksi. Dia masih menutup matanya. Mengatupkan bibirnya. Dan tak menjawabku walau berkali-kali aku memanggilnya penuh kerinduan, penuh kasih, dan penuh cinta yang tercurah hanya untuknya. Kukecup keningnya. Dia tak juga membuka matanya. Tak juga membuka mulutnya. Tak juga menjawabku. Hatiku sungguh meradang. Sakit sekali rasanya. Dia mengacuhkanku. Dia tak mau membuka matanya untuk melihatku. Dia tak mau memberikan senyumnya padaku. Dia tak mau memanggil namaku penuh cinta.
Mata ini tak hentinya mencucurkan air mata. Hati ini selalu meradang tiap kali harus menyadari bahwa kini aku tak lagi mendengarnya melantunkan ayat suci-Nya. Nafas ini terasa berat tiap kali jiwa ini meyadari bahwa kini tanganku tak lagi di kecupnya ketika kami selesai salat berjamah. Berkali-kali aku lantuntan Surat Yasin untuknya. Tak henti-hentinya aku bisikan doa di telinganya. Tak habis-habisnya kubelai lebut rambutnya penuh doa supaya perjuangannya tak terasa berat. Aku tahu dia sedang berjuang. Aku menyakini itu. Dia tidak mungkin meninggalkanku. Dia tak mungkin rela meninggalkan bulan Ramdhan yang selalu dirindukannya. Dia harus melaluinya. Ini adalah impiannya.
“Ya Allah izinkan istriku merengkuh sucinya Ramdhan. Aku mohon padamu. Jangan ambil dia sekarang. Aku ingin melewati Ramadhan kali ini dengannya. Menuntunya untuk mengabdikan hidupnya pada jalan-Mu. Hanya pada-Mu aku memohon. Dengarkanlah doa hambamu yang lemah ini.”
Aku masih ingat kali pertama melihatnya. Di toko bakpao yang selalu menyembulkan aroma vanilla yang menggugah selera. Di sana, di sudut toko yang hanya sepetak, di kursi kayu yang plisturnya memudar, duduk gadis kecil enam tahun dengan kuncir kuda. Senyum menyungging di wajah putihnya yang gempal, gigi-giginya rata dengan bibir tipis dan sangat indah. Mata sipit dengan iris kecoklatan berbinar indah saat aku menatapnya.
“Ibuku sedang pergi, tunggulah beberapa saat lagi,” ujarnya seraya membuka qiroati yang biasa kubaca di madrasah. Aku heran melihatnya dan tak mengerti mengapa anak Tionghoa itu mempunyai sebuah qiroati. Sepintas kuperhatikan mulut mungilnya menggumam. Entah apa yang ia gumamkan. Telingaku tak cukup hebat mendengarnya.
“Kau bisa membacanya? Ini milik sepupuku,” kali ini dia yang tidak mengenal namaku menyodorkan qirotai itu.
“Tentu,” balasku singkat.
“Bacakan untukku,” pintanya tanpa ragu. Barangkali dia bisa melihat dari fisikku kalau aku ini orang Jawa yang kebanyakan beragama Islam. Sejujurnya aku begitu tersentak mendengar permintaan yang begitu gamblang terlontar dari mulutnya. Aku diam untuk beberapa detik. Menelusuri wajahnya, sorot matanya sungguh nyalang menatapku. Entah mengapa aku begitu tertarik untuk melakukan permintaannya.
23 Mei 2005 di Sekolah.
Entah apa yang terjadi dengan hatiku. Aku merasa nyaman tiap kali mendengar adzan yang ia lantunkan di musala sekolahku. Lalu aku diam-diam mengamatinya dari luar musala. Menatapnya lekat. Mengikuti tiap gerakannya ketika ia salat duhur berjamaah. Raut muka itu selalu membuatku merindunya. Entah apa yang terjadi dengan pembuluh darahku. Aku merasa ada yang tak beres tiap kali kulihat wajah bersihnya dibasuh air wudu. Merinding tiap kali tiap kali mendengarnya mengaji. Entah mengapa aku tiba-tiba rindu. Entah rindu pada siapa. Yang kutahu hatiku selalu rindu pada keberadaan Tuhan.
Tak bosan rasanya mata ini membaca buku diarynya. Menelusuri kalimat-kalimat yang ia tulis. Hanya dengan membacanya aku merasa senang. Tiap katanya mampu membuat pikiranku menjelajah waktu. Kembali pada masa kecilku yang kuhabiskan dengannya. Tiap kali membaca tulisannya, pikiranku seakan tersirih. Hingga rasanya baru kemarin peristiwa itu terjadi. Kini aku kembali teringat pada masa yang telah lama berlalu, ketika perayaan Cap Go Meh ditujuh tahun usia kami.
“Coba lihat!” Mei Lan menunjukkan bakpao yang sudah tiga hari di letakkan ibunya di makan sang leluhur.
“Masih utuhkan?” ujarnya lagi. Kali ini sorot matanya nyalang menatapku.
“Ya,” aku menangguk mantap.
“Ibuku tak pernah menjawab soal bakpao ini,” Mei Lan membolak balik bakpao yang sudah tengik dan berjamur.
Aku cuma mampu mengernyitkan dahi. Aku juga tak punya jawaban untukknya. Mei Lan kelihatan tak senang karena aku hanya diam. Ada banyak guratan pertanyaan di wajahnya yang merona akibat terik yang masih memanggang punggungku.
“Apa leluhur marah pada keluargaku hingga dia tak mau makan bapao buatan ibu?”
Seperti minggi lalu. Kali ini Mei Lan tak juga mendapat jawaban atas rasa penasarannya. Seperti minggu lalu juga aku tak punya jawaban untuknya atau setidaknya gagasan untuk menjawab rasa penasarannya. Seperti minggu lalu juga pembicaraan kami terhenti pada satu pertanyaan dari bibir munggil Mei Lan yang belum menemukan jawabnya.
28 Mei 2006 ketika matahari begitu terik.
Aku senang tiap kali Pak Jafar, guru agama Islam di sekolahku megizinkanku tinggal di kelas. Aku senang mengikuti pelajarannya. Senang dengan cerita nabi yang dikisahkan Pak Jafar. Rasanya telingaku tak bosan-bosannya mendengarkan suara beratnya menerangkan tentang akidah, tauhid, kebesaran Allah, dan hikmah bulan suci Ramadhan. Sekali lagi hatiku, jiwaku, dan pikiranku sangat merindukan keberadaan Tuhan. Gejolak yang membelengguku rasanya hampir meledak.
29 Mei 2008 ketika bulan setengah lingkaran di kubah langit.
Ramadhan Putra Hanafi. Teman masa kecilku. Sahabat masa remajaku dan pemuda yang aku harapkan membinggku di jalan-Nya. Pemuda yang membuat jantungku senantiasa berdenyar tiap kali dia mengajariku surat Al-Fatihah. Membantuku menghafal bacaan salat. Tapi tangannya tak sekali pun menyentuh kulitku, tak sekali pun ada kata cinta layaknya remaja yang tengah kasmaran untukkku. Andai ia tahu betapa aku menginginkan itu.
Suara adzan Isa yang berkumandangkan membuatku bangkit dari dudukku. Kuletakkan buku diarynya di meja kecil samping tempat tidur. Kukecup keningnya penuh kasih. Lalu kuusap sisa-sisa air mataku yang mengalir ketika membaca buku kecil bergambar pelangi yang melengkung indah di langit jingga. Sebuah tulisan dari spidol biru tertulis di atas pelangi itu: My Memory.
“Salatlah berjamaah di masjid. Biar mama saja yang menemani Mei Lan,” tutur Nyonya Lie ibunda Mei Lan penuh perhatian.
“Terima kasih, Ma.”
“Terima kasih..,” suara parau ibu mertuaku membuat langkahku berat. “Terima kasih karena mencintai anakku begitu tulus. Sejujurnya ibu begitu senang dia memeluk Islam dan menikah denganmu,” ibu mertuaku meyeka air mata dengan saputangan biru berbordir mawar.
“Terima kasih karena mendidik anak yang begitu hebat,” balasku seraya menyimpulkan senyum lalu meninggalkan ibu -anak itu menuju masjid Al-Hikmah.
Hari kedua belas Ramadhan. Dia tak juga membuka matanya. Dia tak juga membuka mulutnya. Tak juga tersenyum untukku dan memanggil namaku. Aku tahu dia tengah berjuang. Berjuang untuk merasakan indahnya bulan suci. Dia bahkan belum sempat merasakn salat tarawih, tadarus Quran, tahajud di sepertiga malam denganku. Dia bahkan belum menyiapkan hidangan berbuka untukku, membuat jajanan khas puasa, dan menyiapkan makan sahur. Aku bahkan sempat berencana mengajarinya membuat ketupat janur seperti yang dulu pernah mamahku ajarkan padaku. Memasak opor ayam bersama dan menikmatinya di hari kemenangan bersama keluarga. Telah kusisihkan tabunganku yang hampir terkuras habis untuk membeli busana muslim untuknya.
“Pulanglah, Ma. Mama sudah terlihat letih,” tuturku pada ibu mertuaku yang menyandarkan tubuh kuyunya pada kursi panjang di depan kamar ICU tempat Mei Lan di rawat.
“Baiklah. Jaga kesehatanmu. Minumlah teh gingseng yang mama bawa,” balas Nyonya Lie seraya bangkit dari duduknya.
“Terima kasih. Hati-hati, Ma.”
“Semoga Tuhan memberkati mu, Nak,” ujarnya seraya mengembangkan senyum. Garis-garis halus dipipinya semakin jelas terlihat. Di mataku dia seorang ibu yang tegar. Tak sekalipun kulihat dia menangis bahkan ketika suaminya meninggal karena serangan jantung.
Nyonya Lie adalah wanita yang begitu lapang dada. Aku sering mendengarnya mengingatkan Mei Lan untuk salat berjamaah di masjid. Tiap hari bau dupa selalu menghambur dari ventilasi rumahnya. Dia tak pernah lupa meletakkan sesaji untuk leluhurnya. Dia termasuk pemeluk Khong Hu Chu yang taat. Ketika Mei Lan memutuskan untuk mengikarkan dua kalimat syahadat, Nyonya Lie menyambutnya dengan senyum ikhlas. Bahkan ketika Mei Lan memutuskan untuk berjilbab, kudengar jawaban dari mulutnya yang membuatku tersentak.
“Jika ajaran agamamu menyerukan hal itu. Lakukanlah!”
“Terima kasih, Ma,” balas Mei Lan seraya memeluk ibunya penuh kasih.
“Nak Rama nanti tolong bantu Mei Lan memilih jilbab ya?” pinta Nyonya Lie padaku yang tengah asyik menikmati keharuan penuh cinta di depanku.
“Baik, Ma.”
26 Desember 2009 di tengah malam ketika aku terjaga dari tidurku.
Mimpu itu datang lagi. Dalam mimpiku aku berjilbab dan begitu lancar membca Al-Quran. Aneh sekali. Bagaimana mungkin itu terjadi. Aku tak pernah belajar membaca Al-Quran sebelumnya…
1 Januari 2010 saat langit tak begitu pekat oleh bintang yang berpendar.
Detik pertamaku setelah mengucap dua kalimat syahadat. Detik pertama sebagai hamba Allah. Berkali-kali aku menyebut asma-Nya. Bersyukur atas hidayah-Nya untukku. Menit pertamaku bersimpuh pada-Nya. Memohon ampun karena baru sekarang aku bersujud. Baru sekarang aku menjalankan perintah-Nya. Kurasakan seperti ada gelombang yang begitu halus dalam kalbuku. Menghangatkan seluruh pembuluh darahku dan perlahan mencairkan es yang membekukan hatiku ketika aku membasuh tubuhku dengan air wudu. Subhanallah…
14 Februari 2010 saat cahaya purnama temaram di langit yang menghitam.
Rindu yang selama ini setia di sudut hatiku, kini sudah mendapat pelabuhannya. Suci dalam jiwaku yang senantiasa mendetakkan sayang untuknya, kini menemukan muaranya. Cinta yang semerbak pada tiap benang-benang fibrin di sel-sel darahku, kini menemukan penawarnya. Ijab Kabul yang ia ikrarkan di hari pernikahanku telah menasbihkan cintaku. malam ini kurasakan cinta yang begitu tulus ketika dia mengecup ubun-ubunku penuh doa. Ada janji yang terpatri dalam hatiku mengiringi kecupan itu. Menjaganya, mencintainya, dan menyanginya kerena Allah. Aku sungguh mencintaimu karena Allah, Ramadhan Putra Hanafi. Teman masa kecilku, sahabat masa remajaku, dan kasih sepanjang hidupku.
Aku semakin terisak menyadari tak menemukan satu kata pun pada lembar berikutnya. Jemari yang begitu lincah menuliskan kalimat-kalimat indah kini tak bergerak meskipun berkali-kali kumenciumnya. Haruskah sampai di sini, Tuhan? Aku masih ingin membaca tulisan-tulisannya. Dia harus tetap mengabadikan kebahagian yang akan kulimpahkan dalam diarynya. Dia harus menuliskan impian-impiannya. Buku ini pastilah akan sangat sempurna nantinya karena dia akan memenuhinya dengan cerita penuh cinta yang akan kuberikan ditiap detik nafasku.
“Lihatlah. Ini aku belikan untukmu. Warnanya merah marun, warna kesukaanmu. Bagun dan pakailah. Hari kemenangan hampir tiba. Buka matamu!” seruku dengan mata berembun seraya meletakkan satu stel busana muslim yang siag tadi kubeli di butik Bu Salim.
“Tabahlah anakku,” tutur mamahku seraya meremas punggunggu yang nyaris konyak jika tak ada keluarga yang begitu menyayangiku. Juga sahabat dan atasan yang begitu pengertian mengizinkanku hanya berkerja setengah hari supaya aku bisa merawat istriku.
“Perempuan yang kucintai sudah koma tiga puluh tujuh hari, Mah. Perempuan ini yang telah aku sayangi sejak masih kanak-kanak kini tak mau menatapku. Ia sungguh ingin melewati Ramadhan tahun ini bersamaku, Mah. Itu yang dia ucapkan sebelum hari kecelakaan itu,” air mata tak mampu lagi aku bendung. Tanpa bisa kukendalikan, ia tumpah begitu saja membasahi bulu-bulu halus di wajahku yang belum sempat kucukur.
“Sabar Rama. Sabar,” papahku menggegam erat tanganku.
“Jika Tuhan berkata lain…,” aku tercekat oleh ucapan Nyoya Lie yang sedari tadi banyak diam.
Aku langsung memotong ucapan ibu mertuaku. “Tidak, Ma, tidak. Istriku akan segera sadar sebelum Ramadhan berakhir. Dia tidak akan rela melewati Ramadhan pertamanya begitu saja. Itu tidak mungkin!” jawabku menaikkan nada suara satu oktaf.
Hari kedua puluh sembilan Ramadhan dia masih tak sadarkan diri. Pendarahan diotaknya akibat tertabrak mobil merenggut senyum manisnya. Merampas dengan ganas kesadarannya. Membuatnya hanya seperti mayat hidup. Kini aku di sini hanya bisa memohon pada Sang Pemberi Hidup supaya perempuan yang kucintai membuka matanya. Menggerakkan tangannya dan menyimpulkan senyum padaku. Lalu kembali memanggil namaku penuh rasa sayang.
Esok hari kemenangan, Idul Fitri. Suara takbir telah dikumandangkan. Mengusik nuraniku untuk ikut mengumandangkannya. Kugenggam erat tangannya, menempatkan tangan yang selalu membelai mesra rambutku di keningku. Khsusuk aku menundukkan kepala seraya mengumandangkan takbir senada dengan suara takbir dari masjid. Berkali-kali, berulang-ulang, tanpa henti, dan tanpa lelah aku terus bertakbir hingga aku mendengar suara lain yang ikut bertakbir. Suara itu sungguh lemah, tapi mampu membuat jantungku menggila. Detakknya semakin cepat tanpa bisa kukontrol. Kutengadahkan kepalaku dan kulihat mata itu berbinar lemah menatapku. Mulut itu tak lagi terkatup…
“Allahu Akbar…”

Kartika Hidayati
2101406519
BSI-FBS

(Cerpen urutan ke-7 dalam Lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

Sabtu, 12 Juni 2010

KALA MASA MERANGKAI JEDA

“Temani duduk di meja operator yuk de,” ajak ustadzah Aisy.

“Iya Umi,” jawabku.

Duduk di sampingnya terasa teduh, nyaman dan betah berlama-lama. Kata-kata beliau bijak, hal sekecil apapun beliau olah menjadi deretan ilmu yang berjajar.

“Umi, kita sering iri lho sama umi,” godaku membuka percakapan.

“Lho kenapa dek?” tanya ustadzah aisy.

“Habisnya, dimanapun kalian selalu bersama. Bahkan jadi MC bareng, operator juga bareng,” jawabku.

“Hehe iya dek, tadi ada yang bercanda operatornya pasangan halal dan yang pojok sana pasangan haram,” kata ustadzah Aisy sambil menunjuk akh Athal dan adek akhwat yang berpartner jadi MC.

“Wah kalian ada-ada saja Bercandanya. Eh Umi, aku dan Mita kadang suka merhatikan kalian, gimana gitu !!”

“Ya beginilah kita dek, PACARAN ya sekarang ini. Sebelum nikah sih gak pernah, kenal saja tidak,” jawab ustadzah Aisy.

Aku diam. Gubrak !!!!! nampak biasa tapi sarat makna. Dengan detail ustadzah Aisy menjelaskan proses ta’aruf yang sama sekali tak kenal sebelumnya, diberi biodata ustadz Fajri yang tak ada fotonya, pertama ketemu di rumah murabbi, waktu khitbah yang ia tak menampakkan diri, sampai hari di ikrarkannya ikatan suci di ruang terpisah dan penjelasan QS.an-nur:26.

Subhanallah, begitu syar’i. Menanggalkan opini sahabatku yang kemarin ia tuturkan saat memprotes jilbabku yang masih saja tetap lebar meski telah berstatus menjadi mahasiswi. Masih kuingat apa yang ia katakan dengan tegas didepanku “Kita itu hidup di indonesia, gak bisa disamakan dengan negara-negara Timur tengah, kultur kita sudah beda. Kamu mau jadi seperti teroris?”

Astaghfirullah, berulang kali aku istighfar mendengarnya. Sekarang aku semakin yakin membantahkan statment sahabatku itu, ustadzah aisy buktinya.

“Agh ... gak pengen mi, aku kan masih kecil,” tiba-tiba aku protes.

“Gak papa dek nikah sama kuliah. Ustadz salim juga nikah semester 3.”

“Gak mau lah mi, belum mikir sejauh itu. Masih pengen lulus S1 dari UNS, perbaiki kualitas diri dan banyak lagi yang harus aku benahi sebelum menentukan keputusan itu,” jawabku panjang lebar.

“Bagus, tapi ingat dek, HARUS BISA JAGA HIJAB.”

“InsyaAllah umi, doakan saja aku istiqomah. Tapi masih bingung mi, hijab interaksi ikhwan dan akhwat itu seperti apa? Banyak masukan-masukan yang beda pandangan.”

“Misalnya seperti apa dek perbedaan itu?” tanya ustadzah aisy.

“A bilang harus benar-benar dibatasi dalam interaksi, kata B gak papa sekedar saling mensupport yang penting bisa memproteksi hati, banyaklah pokoknya masukan-masukan itu,’ aku berusaha memaparkan.

“Gini dek, kita memang harus benar-benar membatasi interaksi dengan ikhwan. Misal ya, saling mensupport. Apa yang kita rasa? Wah, itu akhi/ukhti perhatian sama ana, dari rasa yang biasa akan timbul sesuatu yang lebih. Itu sudah fitrah manusia, maka dari itu lebih baik kita menghindari hal-hal yang menimbulkan zina hati. Saling mensupport antara ikhwan dan akhwat itu berarti hati belum terhijabi. Dan satu lagi, persahabatan ikhwan dan akhwat itu banyak mudhorotnya, tak jarang saling mengagumi meski alasannya karena Allah. Tapi endingnya????? Makanya, sebisa mungkin harus benar-benar membatasi, barpijak pada rambu-rambu islam secara kaffah itu memang sulit dek, tapi sebagai muslimah yang tunduk dan patuh terhadapnya, kita berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa perbaiki diri. Bukankah hidayah itu ada saat kita punya kesungguhan untuk perbaiki diri? Ingat dek, ...sesungguhnya allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum tanpa ia mengubah keadaannya sendiri... (QS.Ar-Ra’d:11).”

Aku diam tak mampu bertutur untuk sekedar menyanggah atau mencari celah pembelaan.

Hah ... pembelaan? Kenapa harus membela diri? Apa kamu salah dalam hal ini????? Batinku bergumam.

Rangkaian kata yang telah ku susun lebur berserakan, tak mampu tergetar oleh kedua ujung bibir dan kemudian berimprovisasi dengan alunan muhasabah.

Astaghfirullah, ya Rabb ... tak ku sadari diri ini belum mampu menghijabi hati. Nampak kontras dengan jilbab yang membalut aurat dan pandangan mata yang selalu tertunduk serta tangan yang terjaga dari sentuhan bukan mahrom. Pantaskah kusebut diri ini sebagai hamba-Mu yang patuh? Munafikkah aku? menjadi sok dewasa dan bijak ketika adik-adikku di rohis Wonosobo bertanya tentang hijab, padahal diri ini masih sering curhat dengan ikhwan, saling mensupport dan kadang bercanda (maski hanya dalam SMS).

Mana janjimu untuk berhijab yang selalu kamu ikrarkan dalam tiap penghujung 1/3 malam? Bukankah kamu juga memahami QS.An-nahl:91 –dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah di ikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah itu. Sesungguhnya allah mengetahui apa yang kamu kerjakan- Apa yang akan kamu katakan pada Allah di zaumul hisab nanti? Sanggupkah lisanmu berbohong pada hakim yang sebijak-bijaknya hakim? Naluriku mencecer banyak pertanyaan terhadap diri ini, memvonis bersalah dan menghantui dengan bayang ketakutan.

TIDAK !!! pekikku dalam hati. Aku harus perbaiki diri sebelum sang Izroil menggenggam jiwa ini menggapai kematian.

Astaghfirullahal’adzim ...

Astaghfirullahal’adzim ...

Astaghfirullahal’adzim ...

“Umi, aku telah keliru,” gumamku lirih.

“Keliru kenapa dek?” tanya ustadzah Aisy penuh kelembutan.

Ku ceritakan persahabatanku dengan beberapa ikhwan, satu ikhwan temanku sejak SMA dan yang dua ku kenal di kampus, kakak angkatan dan satunya satu angkatan denganku. Semua ku ceritakan, tanpa ada yang di tambah.

“Belum terlambat kok dek untuk perbaiki diri. Selalu ada kesempatan untuk bertaubat, umi yakin Anti bisa,” ustadzah aisy menguatkanku.

“Aku takut, tetap bimbing aku ya Umi, biar aku bisa perbaiki kekeliruan ini,” pintaku.

“InsyaAllah dek.”

***

Guyuran hujan mulai deras. Aku berlari masuk gang rumah, jadi ingat masa SMA yang selalu bandel tak mau bawa payung dan lari-lari masuk gang dengan baju basah kuyup. Tetapi kali ini berbeda, tak bisa kunikmati guyuran air hujan. Hatiku terlalu kalut, didera rasa bersalah luar biasa terhadap diri sendiri dan Allah.

Sesampai di rumah, cepat-cepat ku hapus semua inbox SMS, tak tersisa. Berlanjut menghapus nomor-nomor ikhwan di hp-ku kecuali gubernur BEM, ku SMS ke satu ikhwan sahabatku di kampus, memohon ijin menghapus nomor dia dari hp-ku dan sebaliknya serta meminta ia meremove aku dari daftar teman di FB dia jika memang mengganggu.

Tangis mengharu biru dalam sudut ruang kekalutan. Entah tangis apa, aku tak mampu menerjemah !!!

Aku pergi untuk kembali,

Dengan segenap pengharapan bahwa Rabb-ku ‘kan memberi jawab terbaik,

Untukku ataupun “dirinya”.

Rabb ... ku serahkan semua pada-Mu.

-selesai-

(Wonosobo ... memoar 14 februari 2010. Dalam diskusi dengan ustadzah atun) 


Nur Indra Murti Yulizar
4101409005
MAtematika-FMIPA

(cerpen ini menduduki peringkat ke-8 dalam lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

AKU DAN KARESHA

Buah anggur yang sudah matang, rasanya manis. Nah begitulah kisah persahabatanku dengan salah seorang teman yang baru kukenal ketika duduk di bangku SMA. Manis sekali dirasakan walaupun umurnya belum genap satu bulan. Bagaimana tidak, kami barasal dari satu daerah, tepatnya satu kabupaten. Karena aku sekolah di luar kota, maka sangat jarang kudapati teman satu daerah. Kesempatan emas bagiku, karena biasanya sangat sulit memiliki teman akrab di lingkungan baru. Kebanyakan yang lain sudah menggerombol dengan teman-teman nya sejak SMP. Apa nggak bosan? Kupikir.
Namanya Echa. Hitam manis kayak kecap, bulu matanya lentik hampir membentuk huruf U ke atas, bibir bawahnya terbelah menjadi dua bagian yang sama dan sebangun. Keriting rambutnya yang kayak bakmi spiral sepanjang lehernya tertutup kerudung kecil bertali khas miliknya. Perbedaan yang sangat mencolok bila sedang bermain, berjalan, bahkan ngobrol denganku. Tidak hanya aku yang merasakannya. Tapi jelas nyata sekali bila dilihat teman-teman yang lain juga.
Echa seperti sosok bodyguard-ku. Bagaimana tidak, kalau setiap ada yang menggodaiku atau hanya sekedar mengejekku ringan ketika kami berjalan bersama, Echa lah yang melawan. Pernah ketika kita sedang lari mengelilingi lapangan di luar sekolah, ada segerombolan siswa STM yang mengejek jilbab yang kukenakan. “Mbak, Mbak… tu jilbab apa seprei kasur? Kok lebar nian???”
“Heh !!! Berani maju sini lu!!! Lu pikir seragam lu tu nggak kayak keset kamar mandi???” tantang Echa. Jika memang sudah keterlaluan, Echa bahkan benar-benar menendangnya.
“udaaaah jangan mewek!” Begitu setiap kali setelah menolongku pasti dia menghiburku. Terasa sangat cengeng sekali aku dibandingkan dengan dia yang memiliki kepribadian tangguh.
Iya, Echa adalah orang yang pertama kali membelaku ketika aku kesulitan atau mengalami gangguan pada sistem.
Bahkan pada saat yang sangat mendesak, Echa sering muncul tanpa kuduga. Ketika seusai les kimia di rumah guru, aku sudah kehabisan angkutan karena pulang kesorean. Dan tanpa sengaja aku berpapasan dengan Echa di depan rumah guru kimia kami tadi. Seperti biasa yang kulihat Echa sahabat tomboy-ku menaiki sepeda motor matic hitamnya. Aku diantar sampai rumah, dan seperti biasanya pula Echa tidak mau kuajak masuk ke dalam rumah. “Salam saja ya buat keluarga!, maaf aku nggak bisa mampir.”
“Lili, bisa-bisanya akrab sama Echa ya? Padahal kayak bumi dan lagit.” Ku dengar salah seorang dari segerombolan anak sekelasku yang kebetulan melihat kami berjalan sehabis dari koperasi sekolah. Ah, apa sih artinya perbedaan antara bumi dengan langit? Bukankah itu artinya adalah perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin? Aku pernah membaca biodata yang dikumpulkan pada wali kelas kami Pak Dedi bahwa Echa memiliki kendaraan rumah berupa mobil. Sedangkan aku setiap pagi dan siang harus berdesak-desakan di dalam angkot atau bus mini ombrengan bercampur dengan berbagai macam penumpang lain dari berbagai tempat. Ada yang dari sawah naik bus, ada yang dari pabrik rokok, pasar hewan, kantor, sekolah, de el el. Aku sangat menikmati saat-saat itu. Ketika aku merasa tidak sendirian karena ada beberapa temanku yang juga berdiri berdesakan di sana.
Namun perlu diketahui karena perbedaan yang kurasa sangat mencolok diantara kami adalah karena Echa sangat tomboy meskipun kita sama-sama berjilbab. Echa jauh lebih tinggi dan lebih semampai. Yang kurasa sangat aneh dari pembawaannya adalah dia berperilaku dan berpenampilan sangat tomboy namun auranya sangat lembut.
Sesekali Echa merengek ingin ikut naik bus katanya. “Bosan dari pagi sampai malam naik motor terus!” celetuknya. Sempat terlintas perkataan aneh, namun tak kuteruskan untuk nenelusuri perkataan mana yang aneh tadi. Bahkan aku melupakan dan melanjutkan bercerita dengan topik yang lain.
Sebulan dua bulan dan kini tiga bulan kami telah melewati hari-hari belajar di SMA. Echa sangat berbeda dengan teman-temanku yang lain. Sama sekali tidak pernah meributkan tugas, tidak pernah mengeluh tentang banyaknya tugas yang diberikan guru. Padahal pagi nya ketika kutanya, “Apakah sudah mengerjakan?” Dengan wajah memelas dia menjawabnya, “Belum Li, aku nggak sempat. “
Tugas yang waktunya satu minggu saja dia belum mengerjakan, apalagi yang waktunya satu hari??? “Ni, aku sudah ngerjain. Cepetan disalin! Nanti dikumpulkan jam pertama.” Aku menyerahkan pekerjaan rumahku karena aku sama sekali tidak ingin nilainya jelek seperti biasanya. Sangat disayangkan ketika nilai PR saja jelek. Padahal nilai itu membantu nilai ulangan yang lain.
“Makasih ya Li, contekannya…” seperti biasanya dia hanya mengatakan terimakasih, thanks, maturnuwun, arigato, sampai-sampai aku hapal apa yang akan dia katakan setelah meminjam buku catatan, PR, dan kertas tugasku. Setelah itu, tidak ada lagi tanggapan dariku. Bahkan rasanya belum pernah menanyakan mengapa tugasnya tidak pernah beres.
Lama-lama aku bosan dan kesal apabila harus memberikan jawaban tugas, PR, dan catatanku padanya. Buat apa aku memperhatikannya, padahal dia sendiri seperti sama sekali tidak membutuhkan nilai.
Teman-teman sekelasku mulai banyak yang menanyakan mengapa sekarang aku jarang makan bersama Echa di kantin. Echa lebih sering diajak Wiwin kemana-mana. Bahkan kudengar Echa pernah menginap di rumah Wiwin karena ada masalah dengan orangtuanya.
Huh! Wajar saja orangtuanya kesal jika anaknya malas sekali belajar. Dalam hati aku mulai mengatakan yang tidak-tidak tentang Echa. Sampai pada suatu saat guru sosiologiku memberikan tugas kelompok yang beranggotakan empat anak setiap kelompoknya. Kelompok pertama dibacakan, “Alwina Rumila, Bastian Santosa, Karesha Gandhi, dan Liliaviaska.” Namaku disebutkan setelah Echa. Sial sekali aku harus bekerja dalam satu kelompok dengan anak-anak malas seperti Bastian dan Echa?
“Kapan kita mau mulai mengerjakan proyek sosiologinya? Tolong secepatnya saja ya, biar cepet kelar. Tau sendiri kan, aku nggak suka sosiologi dan segala bentuk mapel yang bersifat hapalan kayak gini?” Alwina alias Wiwin yang kukenal sangat menyukai sains meributkan agar ia dengan cepat tidak lagi berurusan dengan proyek ini. Wajar saja menurutku kalau dia alergi ketika mendengar istilah sosio cultural, lapisan masyarakat majemuk, dan sebagainya. Dan sebaliknya wajahnya akan berubah sangat ceria bila mengajaknya berkunjung ke laboratorium kimia walaupun hanya sekedar mengembalikan spatula yang tak sengaja ikut kumasukan ke dalam tas sehabis praktikum. Kebiasaan burukku memang suka dengan tidak sengaja memasukan perangkat laborat ke dalam tempat pensil atau tas. Pernah suatu ketika aku menemukan kaki tiga di dalam tas ku.
“Lu tu sabar dikit Win, tema yang mau kita bahas dan teliti aja belum nemu, kok mau selese tu dari Hongkong? Kecuali kalo kita milih tema reproduksi manusia, atau larutan asam basa, nah itu mungkin lu ngebut.” Keluh Bastian.
Setelah seminggu lamanya kami merundingkan tema, akhhirnya tema yang terpilih adalah “Kemajemukan Kultur yang Mempengaruhi Perkembangan Watak Manusia Sebagai Anggota Masyarakat”, hasil usulanku. Terkesan sangat menarik bagiku karena aku menyukai ilmu-ilmu psikologi. Terkesan menyenangkan bagi Bastian karena terlihat dia senyum-senyum sendiri ketika menyambut kata-tema itu disebutkan. Terkesan sangat mengerikan bagi Alwina karena tabir hitam kelam menutupi otaknya ketika mendengar tema yang kuusulkan tadi. Dan terkesan biasa-biasa saja bagi Echa. Masih seperti Echa yang dulu, yang santai sekali menghadapi tugas berat semacam proyek ini sekalipun.
Untuk mempercepat waktu, akhirnya kita bagi tugas. Sepakat semua bahan harus terkumpul satu minggu dari hari ini. Semua setuju, namun aku masih saja meragukan apakah Echa mampu menyelesaikannya atau tidak.
Seminggu telah berlalu dan kami bersepakat untuk berkumpul di rumah Echa untuk membahas proyek sosoilogi itu. Sudah hampir pukul tujuh belum kulihat Echa datang. Masalahnya, sejak kemarin dia tidak berangkat. Mulailah prasangka burukku tentangnya.
Aku menceritakan semua yang hal tentang Echa yang kuketahui pada Wiwin. “Aku yakin Win, kalo hari ini Echa sengaja nggak berangkat. Dia pasti takut ditagih tugasnya. Sebelimnya aku memang sugah ragu apakah dia bisa menyelesaikannya atau tidak. Benci !!! sebel!!! Sama yang namanya Echa, Win! Kalo gini caranya bisa hancur nilai proyek akhir kita. Gilmana kalo hanya kelompok kita yang dapat nilai E ? lagian kamu tau nggak Win, kalo selama init tu Echa !@#$%^&*()_++_)(*&^%$#@!” Saking kesalnya aku ceritakan semua tentang Echa.
“Sabar Lili… mending nanti kita dating saja ke rumah Echa buat memastikan. Bisa saja dia memang sakit hari ini, iya kan?”
Untuk menghilangkan rasa kesalku, aku berniat pergi ke perpustakaan umum di dekat alun-alun kabupaten. Biasanya apabila sedang bosan dengan pelajaran, aku dan Echa berboncengan menuju perpustakaan. Dan sesampainya di sana kami suka sekali membaca komik-komik jepang seperti Konan.
Dengan segera kuraih bebarapa komik dari rak dan kubawa di meja baca sambil aku duduk di antara sekelompok anak-anak kecil yang kutebak masih SMP. Kuletakkan tumpukan komik yang kubawa di atas meja, dan dengan mantap duduk di kursi sambil melepas lelah karena tadi menuju ke sini berjalan kaki. Tanpa Echa, tidak ada yang memboncengiku. Sedih juga kalau sedang kesepian seperti ini.
Terasa ada yang aneh karena kulirik sekelompok anak SMP tadi seperti menertawakanku. Mereka cekikikan yang aku tidak tau alasannya. Cuek sajalah, paling ditertawakan anak kecil…
Lama-lama risih juga melihat dan mendengan cekikikan anak-anak kecil. Aku bangkit dan berniat untuk pindah tempat. Ketika aku berdiri, rok abu-abu ku tetap menempel pada kursi yang kududuki. Ops… ternyata ada permen karet yang menempel. Geram sekali rasanya dan aku ingin segera memukul, menjitak, menendang, dan kuadukan pada orangtuanya. Aku ingin memarahinya habis-habisan. Tapi yang keluar justru air mata. Iya, aku menangis… kaku, malu sekali dilihati banyak orang. Seisi perpustakaan menjadi tau kejadian ini karena sekelompok anak SMP tadi tertawa dengan sangat kencang. Di tambah mereka tau kalau mataku mulai berkaca-kaca. “Echaaaaaaa……” ingin sekali aku berteriak meminta pertolongan dari sahabat bodyguard-ku. Namun mulut ini terlalu kaku untuk memanggil nama si tomboy. Malah semakin sesak dada dan perih sekali tenggorokanku.
Aku lari meninggalkan ruang baca tanpa sempat kukembalikan komik yang belum selesai kubaca, menuruni tangga, keluar dari pintu hingga sampailah di depan jalan raya. Aku bingung ingin menumpahkan kekesalanku pada siapa. Dan baru kusadar, ternyata aku merindukan si tomboy yang melindungiku. Tanpa kupikir dua kali, aku berlari menuju rumah Echa.
Setibanya di depan rumah, aku menemui banyak tamu yang datang dengan membawa bingkisan tas mirip oleh-oleh hajatan. Dengan sangat gugup kutanyakan pada seorang wanita kira-kira lebih tua tiga tahun denganku yang sedang membugkusi nasi pada besek selamatan.
“Maaf mengganggu Kak, bisa saya bertemu Echa? Saya temanya.”
“Oh iya Dek, Echa sedang sakit. Temui saja di kamrnya, dia sedang tiduran.”
“Iya Kak, terimakasih. Oiya kak, kalo boleh tau ini lagi mengadakan acara apa ya Kak?”
“Ini acara rutin khol kalau bahasa jawa. Kalau bahasa kerennya sih berarti acara peringatan ulangtahun meninggalnya seseorang.”
“Memang siapa yang sudah meninggal Kak? Kakeknya Echa ya?”
“Bukan kakeknya Dek, tapi ayahnya.”
“Apa???” aku sangat terkejut sekali mendengarnya. Echa tidak pernah cerita apa-apa kalau selama ini dia sudah tidak mempunyai ayah. Rasa penasaranku bertambah sehingga aku ingin lebih banyak lagi mencari tau tentang hal ini. Kutanyakan apa saja tentang Echa pada Kakak tadi.
Echa sahabatku yang memiliki sifat tomboy itu adalah dikarenakan dia terbiasa menggantikan sosok ayah di keluarganya. Dia terbiasa melindungi ibu dan kedua adik nya yang masih kecil-kecil sehingga dengan aku pun dia sangat protective. Auranya yang lembut tertutup oleh sifat gagah pemberani sejak usianya tujuh tahun. Aku sangat menyesal tadi pagi sudah mengatakan hal-hal buruk tentangnya pada Wiwin. Mengapa dia terlihat santai dan sama sekali tidak pernah uring-uringan dengan nilai? Ternyata karena ia disibukkan oleh pekerjaannya. Pekerjaan sebagai tukang ojek. Iya, tak bisa kubayangkan malam-malam remaja berjilbab seusianya mengendarai sepeda motor memboncengkan orang yang sama sekali tak dikenalinya. Aku sangat terpukul mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tak sabar ingin aku memeluk dan menangis di hadapannya menyesali sifat kekanak-kanakanku terhadapnya. Aku yang tidak ikhlas ketika memberikan jawaban tugas sekolah atau hanya sekedar meminjaminya buku catatan.
Segera aku menuju kamar di sebelah kanan ruang TV. Kudapati Echa sedang berbaring. Aku duduk di sampingnya, dan dia terbangun. Matanya terbuka memandang ke arahku. Belum sempat ku tanyakan apa-apa, dia mengisak dengan sangat kencang. Tangannya meraih tanganku tanpa mengubah posisi tidurnya. Dia hanya mengatakan, “Maaf sahabatku… aku tidak bisa melindungimu lagi…”
Jilbabnya sudah sangat basah dibanjiri air mata, tanpa bisa mengucapkan kalimat yang lain.
Kubiarkan hingga ia menenang di pelukanku sampai punggungku pegal karena aku-lah yang harus membungkuk ke arah dia tidur. Kutunggu sampai dia bisa bangkit duduk memelukku seperti biasanya ketika melihat mataku mulai berkaca. Ternyata tidak, Echa tidak juga bangkit karena tubuhnya masih sakit dan kaku. Kakinya lumpuh karena kecelakaan dengan motornya ketika sudah malam dia terburu-buru pulang agar bisa mengikuti ngaji yasin-tahlil untuk almarhum ayahnya di rumah. Si bodyguard-ku tidak bisa lagi menendang segerombolan cowok STM ketika megejekku pada jam pelajaran olahraga. Karena jam olahraga pun dia hanya melihat ku jauh dari tepi lapangan. Si sopir yang biasa mengantarkan ku ke perpustakaan umum dengan sepeda motor matic favoritku kini hanya bisa kudorong di atas kursi roda. Namun Si tomboy beraura lembut yang selalu menghibur ku akan tetap dan selalu ada. Karena dia menghibur sekaligus menguatkanku saat aku sedih adalah dengan hati, bukan fisik. Dengan hatinya yang gagah tapi lembut.
Sekarang, kami berpisah karena aku harus pindah ke luar kota untuk kuliah. Sedangkan Echa ke luar jawa bekerja mengajar anak-anak penyandang cacat. Di usianya yang masih 19 tahun, aku masih sangat kekanak-kanakan namun dia sudah sangat dewasa. Bahkan tanpa kuliah dia mampu menjadi seorang pendidik anak-anak cacat.
Kulihat dari foto melalui internet, dia sudah menjadi seorang akhwat berjilbab lebar, duduk di kursi roda, dan dikelilingi oleh anak-anak penyandang cacat muridnya. Echa adalah satu-satunya sahabat yang namanya masih sangat hangat di hatiku. Dan kujaga kehangatannya sebagai motivasi syukur-ku pada Illahi Rabbi.


Septianing Tyas
4101409134
Matematika-FMIPA

(Cerpen urutan ke -9 dalam lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

Kamis, 10 Juni 2010

BILA ESOK TAK KEMBALI

Aku duduk sendirian di bangku panjang ini. Saat senja mulai menguning. Saat biasnya yang kuning keemasan menerpa wajahku. Untuk sesaat kedua mataku terpejam. Mencoba merasakan belai angin yang semilir.
Tiba-tiba kenangan itu kembali menguak dalam ingatanku tanpa bisa kucegah. Berkelebat tak menentu dalam ruang pikirku. Ya, sebuah kenangan yang tak terlupakan olehku. Dan sepertinya, tidak akan pernah bisa kulupakan. Selamanya. Karena kenangan itu begitu indah. Kenangan akan seorang perempuan. Perempuan terindahku.
***
Aku tak pernah berhenti memandangi murid baru itu. Wajah putihnya yang agak oval, dipadu dengan lesung pipit kecil di kedua pipinya, serta tutur lembut katanya ketika memperkenalkan diri, benar-benar membuatku terpana. Satu lagi, dan ini yang paling membuatku aneh, aku tertarik dengan seorang perempuan berjilbab.
Dari sekian nama perempuan yang pernah terdaftar sebagai pacarku sebelumnya, belum pernah ada seorangpun dari mereka yang memakai tudung kepala seperti itu. Tapi kenapa dengan yang satu ini? Ah, masa bodoh. Kalau memang suka, ya suka saja.
”Bangku kamu ada di deretan kedua dari belakang. Kamu duduk dengan...” Bu Ayu, guru bahasa Indonesiaku, tampak bingung untuk menentukan posisi duduk si murid baru itu. Hanya ada dua bangku kosong sekarang, di sebelahku dan satu lagi di sebelah Lisa, siswi berkacamata dan berkawat gigi yang tak pernah ada di dalam orbit pandanganku. Perempuan seperti itu hanya membuat sesak kelas ini.
”Duduk saja denganku.” kataku kemudian, dengan nada yang meyakinkan tentu saja. Meyakinkan untuk segera menjadikannya sebagai pacarku yang ketigapuluh tiga. Dia pasti mau. Pasti!
”Bagaimana, Azizah?” tanya Bu Ayu lagi.
Azizah, murid baru itu, sesaat melihatku. Tapi segera setelahnya dia berpaling dan meminta izin untuk duduk dengan... Lisa.
”Saya duduk dengan Lisa saja, Bu. Lebih nyaman kalau sesama perempuan.” kata Azizah kalem. Lagi-lagi ada desir halus di dadaku ketika kudengar suaranya.
Penolakan itu membuatku kecewa. Sepanjang sejarah hidupku, tidak pernah ada perempuan yang menolak duduk di sampingku. Dan kalau ditanya kenapa aku sekarang duduk sendirian, itu karena aku sendiri yang menginginkannya. Aku tidak selevel dengan mereka yang tergolong ’Kasta Sudra’. Aku hanya ingin duduk dengan sesama ’high-class level’. Tapi sayang, sekolahku ini hanya sekolah negeri biasa. Sekolah yang penuh dengan ’murid beasiswa’. Aku tak pernah ingin sekolah di sini. Itu semua kulakukan untuk menyenangkan kedua orang tuaku saja.
”Sial!” rutukku dalam hati. Beberapa siswa tertawa sinis melihat kejadian ini. Kejadian yang meruntuhkan predikatku sebagai ’cowok yang tidak pernah ditolak oleh cewek seumur hidup’.
Darah yang mengalir di tubuhku seakan mendidih. Letupan amarahku padanya hanya bisa kutahan. Bagiku, ini merupakan sebuah penghinaan besar. ”Lihat saja nanti. Kau akan bertekuk lutut menjadi pacarku.” batinku.
***
Nama lengkapnya Azizah An-Nadhifah. Anak pertama dari tiga bersaudara. Ketika ada waktu senggang di sekolah, dia suka membaca Al-Qur’an atau buku-buku Islami lainnya. Warna favoritnya biru muda. Dia tidak suka makanan yang terlalu pedas. Selalu tersenyum kepada teman-teman yang lain, termasuk kepadaku. Hampir selalu bersama-sama dengan siswi yang lain ketika jajan atau pergi ke perpustakaan. Sejauh ini baru itu yang kuketahui. Lalu, kalau dia tidak pernah sendirian, kapan aku bisa mendekatinya?
Dan yang paling menyebalkan dari info selanjutnya yang kuperoleh adalah bahwa ternyata dia memilih ekskul Kerohanian Islam (Rohis).
”Benar-benar memuakkan! Perempuan sok alim. Sok suci. Ikutan rohis segala. Rencanaku bisa gagal total kalau seperti ini jadinya.” ucapku pada diriku sendiri.
Sedikit banyak aku tahu bagaimana peraturan untuk aktivis rohis di sekolahku. Tiga yang paling kubenci, yaitu : pertama, tidak boleh berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram; kedua, tidak boleh menyentuh lawan jenis yang bukan mahram; dan yang ketiga tentu saja tidak boleh pacaran!
Akan jadi apa duniaku kalau peraturannya seperti itu? Tapi entah kenapa hatiku ini benar-benar menginginkannya. Azizah begitu istimewa di mataku. Aku tak pernah bisa melupakan senyuman pertamanya untukku. Lalu, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkannya?
***
Mungkin cahaya mentari itu akan selalu kurindukan
Ketika tiba saatnya aku tak bisa menikmatinya
Dan jutaan kerlip bintang pada malam-malamku
Akankah kiranya mereka menjadi saksi bisu
Bila esok tak kembali untukku...
Azizah An-Nadhifah
Aku tercengang melihat sebait puisi yang tercantum di mading sekolah pagi ini. Bukan hanya karena kata-katanya yang indah menurutku, tapi juga sang penulis yang tak lain adalah perempuan berjilbab itu, Azizah.
”Apa maksud puisi itu?” gumamku. Kurasakan ada makna yang tersirat dari sebait puisi indah itu. Makna yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan kini dia benar-benar telah mencairkan hatiku. Hati yang selama ini beku. Hati yang tak pernah mengenal arti keindahan. Hati yang ingin mencari sesuatu yang sejati. Sesuatu yang abstrak tapi juga sangat nyata. Sesuatu yang kuyakini sebagai cinta.
Hari ini juga aku ingin menemuinya. Saat pulang nanti akan kutanyakan apa maksud puisi itu. Memang aneh sekali rasanya. Aku yang tak pernah menyukai segala bentuk sastra, tiba-tiba terpaut dengan sebait puisi itu. Dan tak akan kupungkiri lagi kalau hatiku juga telah terpaut olehnya. Terpaut dengan segala keindahan yang dimilikinya.
***
Aku bersandar pada salah satu dinding di sepanjang koridor sekolah, menunggunya dengan penuh harap. Dan tak berapa lama, Azizah terlihat olehku. ”Tapi, kenapa dia tidak menuju gerbang sekolah? Apa dia tidak langsung pulang? Mau kemana dia?” Pikiranku berkecamuk seketika.
”Azizah!” panggilku kemudian. Aku beranikan diriku untuk menghampirinya. Azizah sedang berjalan sendirian. Inilah kesempatan baikku untuk mendekatinya. ”Bisakah kita ngobrol sebentar?” tanyaku.
Azizah melihat kanan-kirinya. Sekolah sudah sepi. Mungkin anak-anak rohis sudah berkumpul di musholla sekolah. Dia nampak menghela nafas. Panjang dan dalam. Seakan penuh beban.
”Saya ada kajian sore di musholla. Apakah bisa ditunda besok?” lanjutnya. Kata-katanya begitu lembut sekalipun dia tak menatapku secara langsung dengan kedua bola matanya.
”Kalau aku ikut kajian itu, apakah pulangnya kita bisa ngobrol?” runtutku lagi. Azizah mengerutkan keningnya. Mungkin dia bingung kenapa orang sepertiku ini mau ikut kegiatan seperti itu.
”Boleh. Tapi jangan berdua ya karena...”
”Karena yang ketiga adalah setan. Betul, kan?” potongku sambil tersenyum.
Azizah tertawa kecil. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Entah apa artinya. Tapi aku senang bisa membuatnya tertawa. Sesaat kemudian dia melangkah menuju musholla. Begitu pula denganku. Aku mengikutinya dari belakang. Tentu saja dengan jarak yang agak jauh. ”Untuk menghindari fitnah,” katanya dengan tegas. Aku mengiyakan perkataannya.
Sekarang aku tak peduli lagi siapa diriku sebelum bertemu dengannya. Seberapa angkuh dan sombongnya diriku dulu. Seberapa buruknya kelakuanku saat dia belum ada di sini. Aku tak peduli dengan semua itu karena aku ingin berubah. Tentu saja berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi. Azizah menyebutnya sebagai ’ikhwan sejati’.
***
Aku banyak merenung sendirian di kamarku setelah mengikuti kajian sore itu. Ada cahaya yang memasuki dunia gelapku. Cahaya yang menyadarkanku akan arti hidup. Tentu saja arti hidup dalam Islam.
”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya...”
Ucapan guru agama itu terus terngiang di telingaku. Dan tak terasa air mataku telah mengalir turun dari kedua pelupuk mataku. Apa yang telah kuperbuat selama ini? Adakah aku telah bermanfaat bagi orang lain?
Terbayang dalam ingatanku semua keburukan yang telah kulakukan pada kedua orang tuaku, teman-teman di sekolah, dan pada semua orang yang sakit hati karena sikapku.
”Maafkanku, ya Robbi...” ucapku terbata-bata pada-Nya.
Malam ini tak tampak kerlip bintang di langit. Hanya nampak awan-awan kelam beriringan di lazuardi yang semakin gelap. Aku terhenyak. Aku lupa menanyakan makna puisi itu pada Azizah. Tapi tak apalah. Toh dia telah mengajariku sesuatu yang sangat berharga. Seberkas cahaya Islam.
***
Ku tak pernah mengharapkan adanya senyawa itu
Sebab kutahu tak akan ada lagi kesempatan untukku
Berjanjilah padaku kau tak akan menyesal
Meski mungkin nanti kita akan berpisah
Bila esok tak kembali untukku...
Azizah An-Nadhifah
Lagi. Sebait puisi dari Azizah terpajang di mading sekolah. Puisinya tercantum di kolom khusus artikel Islam. Dan baru kusadari sekarang kalau dia tidak masuk kelas. Kata temannya, dia sedang sakit. ”Ada apakah gerangan dengan dirinya?” batinku kalut.
Sepanjang hari ini pikiranku hanya terbayang akan dirinya. Tak kuperhatikan semua penjelasan dari guru. Walau kutahu ini tidak boleh dalam agama, tapi aku benar-benar tidak bisa menghapus sinar wajahnya. Aku ingin melihatnya setiap hari, setiap saat. Ketika dia tersenyum, maka akupun akan ikut senang. Tapi, kalau sekarang dia sakit, apa jadinya diri ini tanpanya?
Kutulis beberapa baris puisi. Aku tak tahu darimana kata-kata ini berasal. Karena untaian kata itu meluncur begitu saja melalui goresan penaku. Tentang perempuan yang telah menawan hatiku.
Tuhan, kutahu ada aturan antara laki-laki dan perempuan. Namun sekali ini kumohon pada-Mu. Berikanlah dia untukku. Aku janji tak akan menduakan dzat-Mu.
Bila esok tak kembali untukmu
Tak akan pernah kubiarkan siangmu berlalu
Agar kau tahu bahwa ku di sini untukmu
Menemanimu sampai akhir waktu
Bila esok tak kembali untukmu
Perkenankanku temani setiap malam bersamamu
Meminta bintang untuk menyampaikan pesanku pada-Nya
Bahwa kuingin berada di sisimu selamanya
Kau terangi gelap hariku
Kau ajariku Islam dengan senyum lembutmu
Dan bila esok tak kembali untukmu
Akankah esok juga tak kembali untukku?
Faris Hasan
Siang ini kuniatkan menuju rumahnya. Sekadar ingin tahu keadaannya dan juga keluarganya. ”Semoga dia tidak salah paham dengan kedatanganku.” ucapku pelan.
***
Rumah itu sepi. Aku telah berulang kali mengetuk pintu dan menguluk salam. Tapi tidak ada yang menyahut dari dalam. Aku tengok kaca pintu dan jendela. Nihil. Semuanya tertutup rapat dengan gorden.
”Mas, cari siapa?” tanya seorang kakek yang kebetulan lewat di depan rumah itu.
”Saya cari seseorang yang bernama Azizah.” ucapku sopan pada orang tua itu.
”Azizah? Gadis berjilbab panjang itu?” tanya kakek itu lagi. Aku menganggukkan kepalaku pertanda mengiyakan ucapannya.
”Wah, kau telat, Nak. Tadi pagi dia dilarikan ke rumah sakit di dekat sini. Penyakitnya kambuh lagi.” ujarnya.
”Penyakit? Penyakit apa, Kek?” Aku tidak mengerti. Apa sakit ini yang membuatnya tidak berangkat sekolah? Padahal beberapa hari yang lalu dia kelihatan baik-baik saja.
Tapi kuyakin penyakitnya tak akan separah tumor atau...
”Kanker darah. Dia divonis Leukimia, Nak.” Kakek itu lalu pergi begitu saja. Meninggalkanku yang terkulai lemah di teras rumah. Tulang-tulangku seakan mati rasa. Lidahku kelu. Kepalaku pusing tak karuan.
Puisi itu, segala aktivitasnya di sekolah, penyakitnya, dan semua hari-hari yang dilewatinya dengan penyakit separah itu... Aku tak percaya sama sekali. Aku tidak ingin percaya! Dia tidak boleh meninggalkanku sendiri. Aku masih membutuhkannya.
Tuhan, berikanlah esok untuknya agar aku masih bisa melihat senyumnya. Sekalipun hanya satu kali ini saja...
***
Sudah lima hari Azizah dirawat di rumah sakit. Dia menjalani cuci darah dan kemoterapi. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Dan sekarang aku tidak bisa berlama-lama memandangnya.
”Lelaki yang menjaga pandangannya itu lebih disukai Allah...” kata Firdaus, teman baruku di rohis.
Aku sungguh beruntung mempunyai teman seperti Firdaus dan mereka yang menjadi aktivis rohis di sekolahku. Mereka selalu mengingatkanku, membantuku agar aku bisa tetap lurus dalam jalan ini.
Aku ingin benar-benar kaffah sebagai seorang ikhwan. Aku ingin menjadi ’ikhwan sejati’ seperti yang dikatakan Azizah. Bukan untuknya, tapi untukku sendiri karena kuingin Allah mengasihiku juga.
Kini, semenjak kuberikan puisiku padanya, dia semakin menjauh. Teman-teman di rohis pun berusaha membuat jarak antara kami berdua. Aku tahu puisi itu terlalu terus terang untuknya. Tapi apakah salah kalau aku menyatakannya dengan cara seperti itu?
Siang ini aku masih menunggui Azizah di luar ruang kemoterapinya. Tentu saja bersama beberapa teman lainnya.
”Nak Faris?” ucap ibunda Azizah begitu keluar dari ruangan.
”Saya, Bu. Ada yang dapat saya bantu?” Aku berdiri menyambut sosok setengah baya itu.
”Ada titipan dari Azizah. Bacalah saat pulang nanti. Saat perasaanmu benar-benar tenang.” imbuhnya.
Aku menerima secarik kertas itu dengan penuh tanda tanya.
”Apa maksud dia memberiku surat? Dan kenapa harus dibaca saat pulang nanti? Saat perasaan benar-benar tenang?” pikirku dalam hati.
Semoga ini hal yang baik. Itu saja harapanku.
***
Assalamu’alaikum Wr Wb
Saat kau menelisik apa yang kutulis untukmu
Mungkin aku sudah pergi jauh ke sana
Ke tempat di mana ada secercah harapan
Untuk kehidupan sementaraku
Dan bila memang esok tak kembali lagi untukku
Bukan berarti esok tak kembali untukmu
Karena kita punya kehidupan sendiri
Untuk kita jalani
Kutahu pasti ada yang berubah darimu
Tapi jangan kau niatkan untukku
Sebab itu bukan makna cinta
Tapi hanya sebatas perubahan yang sesaat
Ku tak butuh itu darimu
Yang kuingin lihat hanya ketulusanmu
Semoga kau bahagia dalam hidup ini
Sampai mentari benar-benar tak bersinar lagi
Namun sebelum itu
Kuharapkan satu pertemuan dengan dirimu
Pada senja kedua puluh satu
Dari umurku
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Azizah An-Nadhifah

Kedua mataku berkaca-kaca membaca surat darinya. Perasaanku tak menentu. Sedih, kecewa, terharu menjadi satu. Ya, harapan itu masih ada. Dan aku akan berusaha untuk meraihnya. Sesulit apapun jalan itu, aku tak akan pernah menyerah. Karena kutahu, ada rencana yang indah dari-Nya. Bukankah Dia akan menjadikan semua indah pada waktunya?
Untuk perempuan terindahku, aku akan menunggumu. Akan kunanti senja kedua puluh satu itu. Sempatkanlah saat itu untukku. Meskipun hanya sebentar kau menemuiku.
***
Aku membuka kembali kedua mataku yang terpejam sesaat. Bias senja masih membelaiku dengan lembut. Senyum kecil tersungging di bibirku. Kuhela nafas dengan berat. Ah, kejadian tiga tahun lalu itu selalu tercetak jelas dalam ingatanku. Dan sampai saat ini aku masih menunggunya. Menunggu kedatangannya. Setiap senja kedua puluh satu...
”Kaukah itu, Faris?”
Aku menoleh ke belakang. Seorang perempuan berjilbab dengan kursi roda tampak di hadapanku. Di belakangnya, berdiri seorang laki-laki dan perempuan setengah baya. Mereka tersenyum padaku.
”A...Azizah? Benarkah apa yang kulihat saat ini?” Suaraku bergetar. Ternyata dia datang memenuhi janjinya. Janjinya untuk menemuiku.
Aku berjalan pelan menghampirinya. Kutangkupkan kedua tanganku di dadaku. Begitu pula dia. Lalu, aku menyalami ayah dan ibunya dengan takzim. Aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Ini nyata.
”Maukah kau berbincang denganku?” ajakku sembari menunjuk bangku panjang tempat dudukku tadi. Dia menganggukkan kepala. Tampak senyum manis yang selalu kurindukan itu. Meskipun kondisinya terlihat lemah. Aku harap dia baik-baik saja.
Ayah Azizah membantunya duduk di bangku itu. Aku pun mengikutinya dari belakang. Dia duduk di ujung bangku. Demikian juga denganku yang duduk di ujung bangku yang lain.
Ayah dan ibu Azizah agak menjauh dari tempat itu. Mungkin mereka ingin memberikan kesempatan kepada kami untuk saling berbicara.
Azizah ternyata tidak banyak bicara. Aku yang selalu bertanya padanya. Dan jawabannya pun selalu singkat, tapi penuh makna bagiku. Sampai akhirnya aku mengutarakan keinginan terbesarku padanya.
”Aku selalu memikirkan hal ini. Bukan hanya sehari, seminggu, atau setahun aku melakukannya. Tapi telah tiga tahun aku menyimpan keinginanku ini sendiri.” Untuk sesaat aku menahan nafas. ”Bila esok masih ada untukmu, maukah kau menikah denganku?”
Azizah tersentak. Kata-kataku seakan membuat nafasnya tercekat. Dia menatapku. Menatap lurus pada kedua bola mataku. Mungkin sedang berusaha mencari ketulusan atau kebohongan yang tersirat di sana.
”Aku bukan perempuan yang sempurna. Paling tidak aku tidak sempurna untukmu. Kau lihat sendiri bagaimana keadaanku. Tak berdaya di kursi roda.” ucapnya lemah.
”Apakah aku pernah peduli dengan itu? Dan sejak kapan kau mengeluh atas semua yang diberikan Tuhan? Apakah kau mulai berpikir picik, Azizah?” Aku menyusuri wajahnya yang kini mulai menunduk.
”Hatiku benar-benar telah mantap memilihmu. Dan aku tidak menemukan alasan sedikitpun kau menolak hal ini. Bukan juga alasan fisikmu itu. Karena aku tak peduli dengan itu. Aku menyukai hati dan keyakinanmu.”
”Meskipun mungkin esok tak akan kembali untukku?” tanya Azizah dengan suara yang mulai mengisak.
”Meskipun senja ini yang terakhir, dan esok tak kembali untukmu, aku tetap pada pendirianku. Maukah kau menikah denganku?” Aku mengulangi pertanyaanku lagi.
Aku tidak sedang mengkhayal, dan itu bukanlah bayangan kabur, ketika kulihat dia menganggukkan kepalanya. Ungkapan syukur segera kupanjatkan kepada Tuhan karena pada akhirnya Dia telah memberikan salah satu anugerah terindah-Nya untukku. Sekalipun mungkin esok benar-benar tak kembali untuknya.
Berjanjilah padaku kau tak akan menyesal
Meski mungkin nanti kita akan berpisah
Bila esok tak kembali untukku...

Muzaki Bashori
2201408113
Pend.Bahasa Inggris-FBS

(Cerpen ini berhasil menjadi peringkat ke-10 dalam Lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

10 Besar Lomba Cerpen Islami Sigma 1431H

Assalamualaikum...
Berikut kami tampilkan 10 cerpen favorit yang akan diupload secara berkala dari peringkat 10 menuju peringkat 1. Kami dari panitia mohon izin dari pihak penulis untuk dapat mempublikasikan semua cerpen yang sudah masuk dalam database kami dimana saja dan kapan saja. Mohon maaf kami sampaikan dari panitia Lomba Cerpen Islami apabila ada kesalahan selama proses dari awal dibukanya lomba hingga pengumuman lomba cerpen. Partisipasi Anda kami tunggu di event-event SIGMA selanjutnya. Syukron Jazakallah...

Wassalamualaikum...

Tertanda,

Panitia Lomba Cerpen Islami SIGMA 1431 H