This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 17 Juli 2010

[Tauziyah] Kafirkah Orang Yang Tidak Mengkafirkan Orang Kafir ? (bag. 1)

  Oleh
Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari Al-Maidani
Dalam masalah vonis kafir, pertama kita harus mengetahui, takfir (memvonis kafir) merupakan hukum syar’i. Artinya, harus merujuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana halnya hukum-hukum syar’i yang lain. Takfir merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Penerapan hukum wajib dan hukum haram, penetapan pahala dan siksa, penetapan hukum kafir atau fasiq, rujukannya ialah Allah dan Rasul-Nya. Siapapun tidak berhak menetapkan hukum dalam masalah ini. Sesungguhnya wajib bagi siapa saja mewajibkan yang telah diwajibkan Allah dan Rasul-Nya dan mengharamkan yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya” [1]

Beliau rahimahullah juga menegaskan, hukum kafir dan fasiq termasuk hukum syar’i, bukan termasuk hukum yang dapat ditetapkan oleh akal secara bebas. Orangkafir ialah orang yang telah ditetapkan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan orang fasiq ialah orang yang telah ditetapkan fasiq oleh Allah dan Rasul-Nya. [2]
Bagitu pula Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, takfir merupakan hukum syar’i. Orang kafir ialah orang yng telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya. [3]
Lebih lanjut Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan, takfir (vonis kafir) terhadap orang-orang murtad, bukanlah syari’at yang dibuat kaum Khawarij, juga tidak oleh golongan lainnya. Juga bukan dari hasil pemikiran. Namun takfir merupakan hukum syar’i yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas orang-orang yang berhak mendapatkannya, karena melakukan salah satu dari pembatal-pembatal ke-islaman, baik pembatal qauliyah, I’tiqadiyah maupun fi’liyah, sebagaimana telah dijelaskan para ulama dalam masalah hukum-hukum bagi orang murtad. Hukum-hukum tersebut diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [4]
Demikian pula telah disebutkan dalam Mujmal Masailul Iman Al-Ilmiyah fi Ushulil Aqidah As-Salafiyah, takfir merupakan hukum syar’i, tempat kembalinmya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [5]

Istikharah Cinta

Monday, 12 July 2010 09:27
Doa adalah senjata umat Islam. Dengan doa, berbagai masalah bisa dipecahkan

SEORANG akhwat, sebut saja Aisyah. Ia mahasiswi semester akhir di perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Mengetahui godaan menjaga iman begitu besar, terbersit keinginan untuk segera menikah. Ia yakin, hanya dengan menyempurnakan agama, kesucian diri; baik hati maupun fisik bisa dijaga. Niat itu pun didukung penuh orang tuanya.

Gayung pun bersambut. Tak lama kemudian, ada dua ikhwan yang serius akan menikahinya. Keduanya termasuk orang baik dan shaleh. Rajin ibadah dan aktifis kampus. Tak hanya itu, secara fisik juga sama. Ganteng. Cuma, perbedaanya dalam hal ekonomi. Yang satu terbilang mampu, sedang yang satunya sangat sederhana. Bahkan, untuk biaya kuliah, dia mencari sendiri.

Sebagai manusia, perasaan bingung dan bimbang pasti ada. Aisyah pun tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Lalu, malam harinya Aisyah shalat istikharah dua rakaat, meminta pada Allah agar ditunjukkan yang terbaik dari salah satu pemuda shaleh itu. Sekali ia shalat, tapi belum juga ada tanda-tanda.

Waktu Shalat Isya

http://eramuslim.com

Waktu yang Utama untuk Shalat Isya
Assalamu'alaykum Wr. Wb.


Ustadz yang dirahmati Allah SWT, ada beberapa hadits shahih yang
menyatakan bahwa Rasulullah SAW lebih mengutamakan pelaksanaan Shalat
Isya di akhir waktu (1/3 malam terakhir) bahkan beliau ingin sekali
menyarankan ummatnya untuk melaksanakannya, jika beliau tidak khawatir
disalah-artikan menjadi perintah (dianggap wajib). Dalam beberapa hadits
beliau juga kita mengetahui beberapa keutamaan shalat berjama'ah, yakni
27 derajat lebih tinggi dibanding shalat sendiri, mewajibkan orang buta
untuk tetap shalat berjama'ah di masjid meskipun tidak punya penuntun,
bahkan beliau berniat membakar rumah orang-orang yang malas shalat
berjama'ah di masjid. Dalam Shirah Nabawiyah diberitakan pula beliau
hampir tidak pernah meninggalkan shalat berjama'ah sampai akhir hayat
beliau.


Nah, yang ingin saya tanyakan, apa kaitan keutamaan sholat Isya di akhir
waktu dengan sholat berjama'ah di masjid itu? Apa maksudnya di zaman
Rasulullah SAW. shalat jamaahnya (di masjid) itu memang dilakukan di
akhir waktu? Padahal shalat berjama'ah zaman sekarang umumnya
dilaksanakan di awal waktu. Apakah maksudnya jika kita sholat sendirian
di rumah karena punya uzur syar'i boleh/disunahkan untuk diakhirkan?
Jazakallah atas penjelasan Ustadz.


Wassalamu'alaykum Wr. Wb.
Nana Sudiana

RUQYAH, PENYEMBUHAN DENGAN AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/2691/slash/0

Allah menciptakan makhlukNya dengan memberikan cobaan dan ujian, lalu menuntut
konsekwensi kesenangan, yaitu bersyukur; dan konsekwensi kesusahan, yaitu sabar.
Hal ini bisa terjadi dengan Allah membalikkan berbagai keadaan manusia sehingga
peribadahan manusia kepada Allah menjadi jelas. Banyak dalil-dalil yang
menunjukkan bahwa musibah, penderitaan dan penyakit merupakan hal yang lazim
bagi manusia. Dan semua itu pasti menimpa mereka, untuk mewujudkan peribadahan
kepada Allah semata, serta untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahapengampun" [Al Mulk : 2]

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian; bahkan cobaan dan ujian merupakan
Sunnatullah dalam kehidupan. Manusia diuji dalam segala sesuatu, baik dalam
hal-hal yang disenangi maupun dalam hal yang dibenci dan tidak disukai. Allah
berfirman :

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada
Kami-lah kamu dikembalikan". [Al Anbiya`: 35].

Tentang ayat ini, Ibnu Abbas berkata: Kami akan menguji kalian dengan kesulitan,
kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram,
ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.[1]

Berbagai macam penyakit merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada
hambaNya. Sesungguhnya, cobaan-cobaan itu merupakan Sunnatullah yang telah
ditetapkan berdasarkan rahmat dan hikmahNya. Ketahuilah, Allah tidak menetapkan
sesuatu, baik berupa takdir kauni (takdir yang pasti berlaku di alam semesta
ini) atau syar'i, melainkan di dalamnya terdapat hikmah yang amat besar,
sehingga tidak mungkin bisa dinalar oleh akal manusia. Berbagai cobaan, ujian,
penderitaan, penyakit dan kesulitan, semua itu mempunyai manfaat dan hikmah yang
sangat banyak.

Shalat Ghaib

--- In assunnah@yahoogroups.com, emmy_atmahadi@... wrote:
> Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuuh,
> Kepada yang mengetahui,
> Mohon dijelaskan syarat2 dilaksanakannya Sholat Ghoib.

Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Setahu ana, syariat shalat Ghaib itu muncul ketika Rasulullah
memerintahkan beberapa para shabat untuk menyolatkan bersama beliau Raja
Najasy (Raja Habasyah, salah satu bagian dari Ethiopia dulu). Karena
Raja ini beragama muslim sedangkan rakyatnya masih Nasrani. Ini ada
hadits nya, tapi afwan ana lupa.

Tapi setau ana, jika seorang muslim yang meninggal sudah di sholatkan
(dilakukan shalat janazah), maka tidak wajib saudaranya yang jauh
lokasinya dengan mayyit untuk menyolatkannya kembali dengan shalat ghaib
tsb. Karena hukum dari shalat janazah ada fardhu kifayah. Bukan fardhu
'ain, yang berarti kewajiban seseorang muslim terhadap muslim akan gugur
jika sudah ada sebagian muslim yang melaksanakannya

Wallahu 'alam.

Silakan baca artikel dibawah ini

Sabtu, 19 Juni 2010

BINGKISAN IMAN

Hari yang cerah di ujung Agustus. Sejenak seorang pemuda berparas tampan berkulit sawo matang mengintip dari atas Balkon Harvard Faculty of Arts and Sciences dengan mata yang menyipit. Cahaya matahari yang memantul lewat River Cam membuatnya silau. Puluhan sampan berhilir mudik dengan tolakan galah sebagai pendayung. Wisata punt khas kota Cambridge yang memesona dunia.
”Semoga ini bukan hadiah yang memalukan...” batin Mahasiswa kandidat master Arts and Sciences Harvard University itu sembari memasukkan sebuah benda ke dalam kotak kecil berwarna krem yang terbungkus rapi. Arloji klasik berwarna perak keluaran 1960an yang memilki merk tak begitu terkenal. Dipuaskannya memandang langit Cambridge yang mulai memerah. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama di tempat itu, tetapi ia harus segera bergegas pulang karena ia tahu ada yang tengah menunggunya di Rumah.
Seharusnya hari ini bukanlah hari yang istimewa untuk Dhika hanya karena Ayahnya ulang tahun. Sejak ia mengetahui bahwa perayaan ulang tahun bukanlah termasuk ajaran Islam, ia tak pernah lagi meminta Ayahnya merayakan ulang tahunnya, atau sekadar memperingatinya secara istimewa. Kalaupun ada peringatan hari lahir, itu semata-mata adalah untuk mengingatkan tentang jatah usia di dunia yang semakin berkurang. Prinsip itulah yang masih ia pertahankan sampai sekarang. Diliriknya kembali jam tangannya sekilas, perjalanan dari Moller Centre menuju rumahnya di St. Marry Street memerlukan waktu sepuluh menit menggunakan sepeda bututnya.
”Ah, benarkah Ia masih Ayahku yang dulu?” batin Dhika. Semilir angin di sepanjang Moller Centre benar-benar menerbangkan segala kegundahan yang tengah dirasakannya. Dikayuhnya sepeda kesayangannya itu pelan sembari menghirup udara sore. Sesaat Dhika memejamkan mata sejenak, mendadak lamunanya buyar saat terdengar suara keras di telinganya.

”Braggghkkkkhhh!!!!” Dhika terjatuh. Sepedanya oleng dan meringsek ke semak-semak. Buah-buahan yang baru saja ia beli berjatuhan ke jalan. Ia baru sadar, ternyata sepedanya bertabrakan dengan sepeda lain. Ia meringis kesakitan sembari mencoba berdiri. Namun, mendadak ia tak lagi merasakan sakit saat matanya tertumbuk pada seorang pemuda yang jatuh terjerembab dari sepedanya juga, bahkan kelihatannya ia lebih parah karena tubuhnya tertimpa sepeda. Dhika cepat-cepat berlari ke arahnya dan berusaha mengangkat sepeda itu pelan-pelan.
”Sorry for hitting you, guy…” ucap Dhika meminta maaf sembari berusaha menawarkan pertolongan. Wajah pemuda itu tidak terlihat karena posisinya jatuh tertelungkup. Sepertinya ia juga tengah kesakitan. Sesaat ia menoleh. Dhika terperanjat melihat wajah pemuda itu.
”Omar??!” pekik Dhika setengah tak percaya. Ia tak menyangka jika pemuda itu adalah teman kuliahnya di Harvard Faculty of Arts and Sciences. Dengan sigap Dhika segera membantu pemuda yang akrab ia panggil Omar itu untuk berdiri. Rasa sakit di kakinya mendadak tak lagi terasa karena terkalahkan oleh tanda tanya yang bermunculan di kepalanya.
”Bukankah seharusnya saat ini Omar mengikuti doa bersama memperingati Maulud Nabi di Masjid Cambridge Muslim Society?” batin Arya bertanya-tanya. Di sanalah Dhika dan mahasiwa Muslim cambridge lainnya melakukan aktivitas-aktivitas sosial dan kegamaan sekaligus memeperdalam kajian tentang Islam.
”You will go to Cambridge Muslim trust centre, won’t you?” tanya Dhika. Melihat luka Omar, ia langsung mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Alkohol dan kapas. Dibalutnya luka di lutut sahabatnya itu hati-hati.
”Yes, but I think I can’t go there alone. Kakiku terlalu sakit jika harus kesana memakai sepeda…”jawab Omar. Dhika mafhum. Ia dilema. Jika, ia tidak pulang sekarang sudah bisa dipastikan Ayahnya akan berpesta tanpa dirinya, di Rumah besar pemberian Ibu tirinya yang kini ditinggalinya itu hanya ada dia, Ayahnya dan beberapa supir dan pembantu. Namun sedetik kemudian, tiba-tiba ia memutuskan sesuatu.
”Okey, let’s go there.., sekalian aku mengantarmu, Omar. Aku yakin, kakimu tidak akan kuat mengayuh sendiri.” tawar Dhika. Omar mengangguk. Pemuda jawa yang telah berpindah negara itu membiarkan bayangan wajah Ayahnya yang menyeruak dalam pikirannya tenggelam seiring kapas-kapas putih awan yang berganti mega-mega merah di langit senja Cambridge sore itu.
Pukul sembilan malam. Dhika mengayuh sepeda menuju Cambridge, St. Mary street. Pulang. Madrasah Islam di Cambridge Muslim Trust memang selesai setelah maghrib. Sarana belajar yang disediakan oleh organisasi Muslim di Cambridge itu memang diikuti banyak mahasiswa muslim, termasuk dirinya. Ia tadi sedikit berbincang dengan Ustadz Dr. Ahsen Mohammed, salah seorang pengurus organisasi itu bahwa sebentar lagi perluasan area Masjid di sekitar Cambridge Muslim Society di Elgin St. North Cambridge bisa segera terlaksana. Ada sosok misterius yang beberapa bulan belakangan ini selalu mengirimkan amplop besar berisi uang yang tak sedikit ke Yayasan Cambridge Musim trust tanpa menyebutkan namanya.
”Kami sedang melacak alamat pengirim perangko yang ada di amplop..” ucap Dr. Ahsen menjelaskan.
“Criiitttt…” Dhika mengerem sepedanya mendadak. Tak terasa ia sudah ada di depan rumah. Ia sengaja tak segera masuk . Ditatapnya sejenak rumah berlantai dua itu.
”Ibu, rumah kita dulu lebih kecil dari rumah ini. Tetapi mengapa Dhika lebih rindu dengan kita itu? tak ada lagi senyum Ibu yang begitu hangat, tak ada suara merdu Ibu usai shalat yang bisa Dhika dengar sekarang....” rintih Dhika lirih. Ada air mata yang menetes di sudut matanya. Rasa sedih yang mungkin sudah demikian dalam dan selalu menghinggapi hatinya manakala ia melihat Rumah besar yang ada dihadapannya kini. Rumah yang diberikan Ibu tirinya setelah meninggal untuk Ayahnya. Waktu dua tahun menikah sepertinya mampu digunakan dengan baik oleh wanita asing itu untuk membuat Ayah Dhika kehilangan imannya. Begitulah, cinta yang harus dibayar dengan prinsip. Berpindah agama.
”Kreekkk...!!!” pelan-pelan Dhika membuka pintu rumahnya. Kakinya berjingkat-jingkat. Namun sayang, baru beberapa langkah, ia dikejutkan oleh sebuah suara..
”Sejak kapan kau mulai mementingkan orang lain daripada Ayahmu sendiri, Dhika?! sepertinya jadwalmu di Cambridgeshire semakin membuatmu sangat sibuk sampai lupa dengan hari terpenting Ayahmu.. ” suara Ayah Dhika terdengar begitu jelas. Pertanyaan retoris yang terdengar sedikit sumbang. Rasa lelah yang dirasakannya membuatnya malas menganggapi pertanyaan sang Ayah.
”Dhika sudah pernah bilang, Dhika tidak suka pesta. Apalagi ulang tahun. Maaf jika membuat Ayah menunggu..” jawab Dhika begitu datar. Ia berjalan gontai menuju tangga.
”Apakah acara di Cambridge tadi begitu penting? apa yang mereka gunakan untuk memaksamu mengesampingkan Ayah hah?! bahkan sekadar mengantar Ayah ke Gereja pun sekarang kau menolak !!” suara Ayah Dhika meninggi. Dhika berhenti. Ada rasa sakit yang menghantam sudut hatinya.
”Hari ini bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal. Entahlah, apakah Ayah masih ingat jika tanggal itu adalah hari peringatan Maulud Nabi. Salahkah jika Dhika kesana untuk ikut berdoa bersama??” akhirnya Dhika bersuara. Suara yang terdengar begitu dipaksakan. Terlihat Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berpita cokelat, berisi arloji yang dibelinya tadi siang kemudian meletakannya di atas meja tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ayahnya.
”Meski hanya arloji murahan, Dhika harap ini cukup membuat Ayah berhenti berpikir bahwa Dhika melupakan Ayah ...” ucap Dhika sembari berlalu kemudian berjalan menaiki tangga . Tak ada ucapan manis selamat ulang tahun atau apalah itu. Ayah Dhika seketika terdiam. Didekatinya kotak kecil itu. Ada air mata yang mengambang di sudut mata sayu itu saat menatap secarik kertas yang tertempel diatasnya.
”Semoga umur yang masih Ayah punya hingga sekarang senantiasa membuat Ayah bersyukur. Selamat Hari lahir...” lelaki sepuh itu mengeja barisan tulisan putra semata wayangnya itu dengan hati bergetar. Ada bentuk keangkuhan yang luruh bersama derai sesal yang melingkupi jiwanya.
Malam yang hening. Jam kamar Dhika sudah berdetak beberapa kali. Dawai-dawai keheningan yang tengah bersenandung saat gulita itu digunakan pemuda yang tahun ini genap berusia dua puluh lima tahun itu untuk sejenak tenggelam dalam derai sujud-sujud panjangnya bermunajat pada Sang Pencipta. Usai tahajjud, ia menangis membaca Al Qur’an dengan suara parau. Hatinya yang tenggelam dalam kepasrahan seakan melengkapi keheningan sepertiga malam. Dhika tak dapat menahan isaknya saat hatinya meresapi baris-baris kalamullah itu dalam diam.
”Dan jika keduanya (orang tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahui tentang ilmu itu, janganlah engkau mengikuti mereka dan pergaulilah mereka di dunia dengan baik..(Al Luqman : 15).” Dhika menangis tegugu. Bahunya terguncang. Dalam hatinya tak putus-putus ia berdoa, semoga Allah senantiasa menjadikannya anak yang berbakti tanpa harus mengusik keimanannya yang kadang beradu dengan dilema.
”Robbul ’izzati..., berikan ruang untuk hati Ayah hamba agar ia dapat kembali mendapat cahayaMU seperti dulu....” rintih Dhika. Dibacanya kembali barisan-barisan ayat penyejuk hati itu tanpa berniat untuk tidur lagi. Ia memang biasa tilawah sembari menunggu waktu shubuh tiba.
”Benarkah? ustadz sudah menemukan orang itu??” tanya Dhika usai mengajar anak-anak Cambridge mengaji Al Qur’an di Masjid Cambridge Muslim Society. Ia diberitahu bahwa orang yang selama ini memberikan bantuan tanpa nama itu sudah berhasil dilacak dan diketahui identitasnya. Ustadz Hasan Hawkins, guru mengajinya di Cambridge mengajaknya untuk bertemu orang itu.
”What?! Mr. Fred??!” ucap Dhika tak percaya. Siapa sangka, ternyata orang yang selama ini dicari identitasnya oleh orang-orang di Cambridge Muslim society itu ternyata sudah dikenalnya. Ya, Mr. Fred adalah tetangga baiknya di St. Marry Street. Lelaki asli Inggris itu memang seorang Muslim, Ayahnya pun sangat mengenal baik lelaki itu.
”Yes, but wait...perlu kau tahu, Mr. Fred hanya orang suruhan, dia hanya kurir. Ada orang yang menyuruhnya melakukan itu..” lanjut Ustadz Hasan serius.
“Ada yang menyuruhnya? siapa dia Ustadz?” tanya Dhika penasaran. Ustadz Hasan mendadak terdiam. Sejenaknya ditatapnya kedua mata Dhika lekat.
”He is your father, Son. Mr. Wiguna Atmaja..” ucap Ustadz Hasan lirih. Dhika begitu terperanjat, ia sungguh tak percaya apa yang didengarnya. Ustadz Hasan mengusap pundak murid kesayangannya itu pelan. Dhika benar-benar termangu. Mendadak serpihan memorinya terbang membawanya melintasi waktu, ia teringat saat setahun lalu ia memutuskan untuk aktif dalam kegiatan Masjid di Cambridge Muslim Society. Ayahnya terang-terangan menentang dan melarangnya sampai-sampai ia harus berdebat hebat. Meski setelah itu, karena ia terlalu keras kepala akhirnya ayahnya tak lagi mempedulikan hal itu. Ah, mendadak Dhika menjadi pusing memikirkannya.
”Benarkah ayah yang mengirimkan amplop berisi uang ke Masjid di Elgin selama ini?!” tanya Dhika malam-malam sewaktu ia di Rumah. Di hadapannya tengah duduk sang Ayah sembari membaca buku tebal. Lelaki keturunan jawa ningrat itu diam. Tak menjawab.
”Kenapa Ayah diam? jawab Dhika, Ayah..!”
”Bukankah itu yang selama ini kamu mau?! masjid itu sedang butuh dana, bukan? kau tinggal bilang berapa lagi yang harus Ayah keluarkan untuk mereka agar tak lagi memaksamu ikut dalam kegiatan-kegiatan itu lagi,,” jawab Ayah Dhika dingin. Mendengar jawaban ayahnya, Dhika sungguh kaget dan tak menyangka. Rasa sakit di hatinya yang selama ini ada semakin bertambah. Bahkan, kali ini ia telah demikian terluka.
”Begitukah mau ayah selama ini? begitu inginkah Ayah agar Dhika behenti? mengapa ayah selalu meminta Dhika untuk menghargai Ayah jika Ayah sendiri tak sedikitpun bisa menghargai Dhika? Sebanyak apapun uang yang ayah punya tidak akan membuat Dhika berhenti melangkahkan kaki ke Masjid Cambridge!” ucap Dhika dengan suara meninggi. Matanya berkaca-kaca. Ayah Dhika hanya diam. Tak bergeming.
”Baiklah..Dhika mengerti. Dhika sadar, mungkin terlalu sulit bagi Dhika untuk mencari sosok Ayah yang dulu. Mungkin terlalu sulit bagi Ayah untuk bisa menerima Dhika apa adanya. Andai saja ayah tahu, betapa Dhika berusaha untuk rela mati-matian menerima Ayah sekarang. Ayah yang jauh dari Dhika, Ayah yang telah melupakan Ibu, dan Ayah yang telah membuang iman yang pernah membuat kita semua dekat!!!”
“Plaakkk!!!” sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dhika. Tangan Ayah Dhika bergetar. Dhika merasakan perih yang teramat sangat di pipinya. Ia menunduk. Ayah Dhika tak berkata sepatah katapun. Matanya yang sempat menyala, perlahan kembali redup. Tanpa menghiraukan Dhika, ia berjalan meninggalkan Dhika dalam kebisuan. Dhika masih mematung, Beribu jarum penyesalan kini tengah menusuk seluruh ulu hatinya. Hening. Tak ada suara apapun selain desah nafas Dhika yang ingin sekali memuntahkan tangis yang tak terbendungkan.
Langit pagi Cambridge terlihat tak begitu cerah. Mendung. Seperti hati Dhika yang demikian muram karena tergerus kesedihan dan kegundahan. Pagi itu Dhika sengaja pegi ke Rumah Ustadz Hasan tanpa sepengetahuan Ayahnya. Ia sungguh butuh sesuatu yang dapat menguatkan hatinya.
”I’m so confused, Ustadz. I don’t know what should I do. Aku terlalu sulit mengenal Ayah sekarang, Andai aku bisa memberikan nyawaku agar Allah mau mengampuni Ayah, aku rela melakukannya. Sungguh..!!” desah Dhika. Wajahnya yang tampan terlihat sangat pucat. Matanya sembab.
”Mohon ampunlah atas ucapanmu, Dhika. Tak ada hak bagi kita untuk memaksakan ampunan bagi orang yang tidak beriman, meskipun dia saudara kita...!!” ucap Ustadz Hasan mengingatkan. Dhika langsung beristighfar lirih. Sejenak Ustadz Hasan membacakan arti petikan ayat al Qur’an dengan suara pelan.
”Tidak pantas bagi nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik. Sekalipun orang-orang itu kaum kerabat (nya) setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahannam. (Q.S At taubah : 113)”
Dhika langsung beristighfar. Ia menunduk. Sungguh, saat ini ia benar-benar merasa tak mampu lagi menyelami sosoknya sendiri yang mendadak begitu cengeng. Ia terlalu larut dalam kesedihan dan kebingungan. Harapan-harapan yang pernah tersemai seakan luruh kembali dan menimpa tubuhnya. Begitu sakit terasa. Namun, ustadz Hasan justru tersenyum.
”Sabar, anakku. Rencana Allah itu lebih indah dari apapun. Bahkan terlalu indah jika dibayar dengan sebuah keputusasaan. Bersyukurlah, karena pagi ini Allah telah mengijabah doa-doamu...”
”Kreeek....” tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, membuat Dhika seketika menoleh. Dhika kaget.
”Ayah???!!”
”Kau tak perlu memberikan nyawamu untuk Ayah, Nak. Itu terlalu berharga untuk membayar keangkuhan dan kesombongan Ayah selama ini. Kau benar, Ayah terlalu egois mengikatmu untuk selalu mengerti Ayah, bahkan membawamu dalam kesesatan yang menyedihkan ” Ayah Dhika muncul sambil terisak.
”Andai kau tahu, Dhika. Betapa Ayah ingin sekali menangis seperti setiap kali mendengar kau terisak seusai Shalat. Betapa ingin ayah mendampingimu waktu itu. Bantu ayah kembali mendapatkan hidayah itu, Nak. Bantu Ayah kembali untuk mengenal Allah, bantu Ayah bersyahadat...!!!!” pinta Ayah Dhika tergugu. Ia benar-benar menangis tersungkur. Dhika tergagap. Tak percaya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Benarkah apa yang tengah dilihatnya kini? ditatapnya mata Ustadz Hasan dengan sorot yang meminta penjelasan.
”Ayahmu datang kesini shubuh tadi, Dhika. Doa yang selama ini kau panjatkan membuat hidayah kembali mengetuk pintu hati Ayahmu. Bimbinglah dia,” ucap ustadz Hasan tersenyum. Dhika langsung bersujud. Ia tak henti-henti mengucapkan syukur. Ia memeluk sosok terkasihnya yang sempat jauh darinya itu penuh keharuan. Rencana Allah memang tak tertandingi oleh apapun. Tak ada yang tahu, Alah telah memberi Ayahnya sebuah bingkisan berharga. Bingkisan Iman di sudut ruang hatinya. Bingkisan yang akan selalu membingkainya dalam derai syukur yang tak terlukiskan.


Anti Aufiyatus T.
2101407077
BSI-FBS


(pemenang lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

Jumat, 18 Juni 2010

CINCIN MAS UNTUK RANI

Barisan orang pejalan kaki baru saja kembali dari gunung di ujung Desa Sidoagung itu. Tanah merah melekat di bawah sandal jepit seakan enggan untuk lepas. Senja di ufuk Barat mengantarkan sorot jingga pertanda mereka harus segera pulang. Pulang pada cita – cita dan kenyataan. Tentang Ardiansyah Eka Saputra.
---
Sabtu, 2 Mei 2009
Pukul 23.57 WIB di warnet ujung jalan.
“Sudah ngantuk, Ran?” ucap Ardi pada seorang gadis yang sejak satu jam yang lalu asik menatap layar komputer di depannya.
“Nggak mungkin ngantuk, Mas… Kurang 3 menit lagi.” Gadis pemilik gigi gingsul itu berkali – kali melirik jarum di jam tangannya.
Jam tangan yang selalu ia pakai sejak 3 tahun lalu, tepatnya saat ayah baru pulang dari Semarang. Pak Bambang Kusdiharto; seorang pekerja keras yang selalu menanamkan semangat pada kelima anaknya. Seorang pegawai yang patuh pada perintah atasan. Seperti saat itu, ketika atasan memerintahkannya untuk segera berangkat ke Semarang, mengecek proyek yang harus segera diselesaikan. Padahal, lima hari yang lalu bangsal rumah sakit menemani tidurnya. Tapi, tugas adalah amanah, begitu pikirnya. Alhamdulillah, tidak lebih dari 6 hari beliau sudah bisa pulang ke Kebumen, kota di mana ia dilahirkan dan bertemu dengan seorang wanita ayu keturunan Solo; Bu Endang Setiasih. Seorang wanita yang tak pernah bisa marah yang kini telah memberikan keturunan yang sehat – sehat pada beliau. Malam itu, Bu Endang bersama Ardi, Rani, Nindya, Salma, dan Bagas menanti seorang pria gagah yang kabarnya akan sampai rumah sekitar pukul 22.00 WIB.
“Kriiing…” suara telepon di ruang tengah.
“Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikumussalam… Maaf, benar ini rumah Pak Bambang?” suara pria di ujung telepon dengan nada rendah.
“Iya, benar. Saya istrinya. Ada apa, ya Pak?”
“Maaf, Bu…Bapak baru saja kecelakaan saat perjalanan pulang.”
Sejak saat itu, wanita kepala empat itu harus membiayai kehidupan kelima anaknya seorang diri. Bila cinta adalah hanya memberi dan tak harap kembali, begitulah kiranya apa yang dilakukan Bu Endang pada mereka. Saat tujuh hari sepeninggal suaminya, ia baru berani membuka kotak yang ditemukan polisi di tempat kecelakaan. Di dalamnya ada cincin perak untuk Ardi, jam tangan untuk Rina, kerudung pink untuk Nindya, baju tidur untuk Salma, dan popok untuk si bungsu.
“Mas, udah lebih satu menit, nih…Tapi lola banget…” Rani harap – harap cemas menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa baru lewat jalur tes masuk di universitas yang sebulan lalu ia ikuti. Suasana warnet malam ini tak sesepi biasanya.
“Ini , Ran…udah ada pengumumannya.”
SELAMAT KEPADA MAHARANI KARTIKA PUTRI
NOMOR PENDAFTARAN : 4100760
DITERIMA PADA JURUSAN MATEMATIKA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA, S1
“Alhamdulillah,, Yaa Rabb…” Ardi langsung sujud syukur.
Kebumen, 12 Agustus 2009
Ardi harus segera pergi sebelum ia ditinggal rombongan ke tempat kerjanya yang baru. Sejak ayah wafat, ia putus kuliah. Ada banyak kebutuhan yang harus segera dipenuhi, begitu pikirnya waktu ditanya ibu tentang alasannya keluar dari bangku kuliah. Saat guru di STM tahu tentang keputusannya, mereka sangat menyayangkan bintang sekolah harus memilih jalan itu. Memang tidak dipungkiri, uang pesangon dari tempat ayah bekerja dalam sekejap habis ketika Ardi harus bolak – balik opnam karena penyakit bronchitis yang dideritanya sejak SD. Alhamdulillah kini paru – parunya sudah bersih. Cita – cita menjadi arsitek seperti ayah tercinta pupus sudah. Bayang – bayang gedung megah hasil designnya pun kini telah ambruk di makan kenyataan. Kenyataan tentang cita – cita. Cita – cita tentang kenyataan.
“Mas harus pergi sekarang, Ran.” Ucap tenang Ardi pada adik yang baru saja lulus SMA itu.
“Rani harus bisa membantu Mas untuk mewujudkan cita – cita. Belajar yang tekun. Ini cincin Mas untuk Rani, untuk Adik tersayangku. Sampai sekarang, Mas belum tahu kenapa Ayah memberikan cincin untuk Mas. Menurut Mas, cincin lebih cocok untuk perempuan, untuk Rani.” Kalimat langsung terakhir yang ia ucapkan sebelum akhirnya rombongan membawanya pergi dari Kebumen.
---
Ibu kota Jawa Tengah
Hari ini, bulan kesepuluh sejak Rani kuliah di Universitas konservasi yang terletak di kota Semarang; Unnes. Itu berarti, sudah sepuluh kali pundi – pundi uang di ATMnya bertambah berkat kiriman dari masnya.
“Alhamdulillah, Masku baru ngirim uang, hehe.” Tergores raut bahagia dari air mukanya, yang selalu ia bagikan pada teman – temannya di kampus.
Pendidikan Matematika angkatan 2009 seharusnya tak mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia di semester 2, namun karena IP Rani mencukupi untuk menambah jumlah SKS, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil mata kuliah yang seharusnya diambil di semester 3.
“Sebelumnya saya minta maaf karena selama 2 minggu berturut – turut Saya tidak mengajar karena ada tugas dari jurusan.” Dosen berperawakan subur yang sering membuat alasan untuk tidak mengajar itu terlihat cantik dengan balutan kerudung di kepalanya.
“Iya, Buuuu….” kompak serasa paduan suara amatiran.
“Kali ini Saya akan memberikan materi tentang paragraf deskripsi. Materi ini pasti sudah pernah diberikan pada saat kalian di bangku SMP dan SMA. Tolong Saya buatkan salah satu contohnya dalam 15 menit, setelah itu silakan hasilnya dikumpulkan pada saya.”
“……Bvajhdabdcxm??<’<<> Sementara, Rani di barisan kedua dari depan tampak senyam – senyum. Ia tak mengerti mengapa selalu bersemangat jika sedang belajar Bahasa Indonesia. Sekilas, ingatannya kembali pada masa kelas 2 SD. Saat ayah masih segar – bugar. Malam itu, tatapan ayah tak seperti biasanya. Terlihat agak angker. Keduanya saling berhadapan di tengah suara jangkrik yang teramat jelas terdengar. Ibu berkali – kali mengingatkan bahwa jam peninggalan kakek yang masih kokoh menempel di dinding ruang tengah sudah berdentang sembilan kali. Waktu yang sudah terlalu larut untuk anak kelas 2 SD. Ini bukan kali pertama Rani melihat tatapan mata ayah seperti malam itu. Hampir di setiap malam sebelum ada kompetisi apapun, ayah selalu begitu. Terlihat angker. Seperti malam ini, ketika esok hari ada lomba hafalan surat pendek di sekolah.
“Rani memang sudah hafal, tapi belum benar tajwidnya.” Begitu berkali – kali ayah mengulang ucapannya sambil menepuk bahu gadis kecilnya.
“Rani harus yakin, insyaAllah bisa.” Lagi – lagi ayah membakar semangat gadis yang matanya sudah lima watt itu.
“Coba sekali lagi, setelah itu kita tidur.”
Siang harinya, Rani pulang membawa bungkusan hadiah di tangan mungilnya. Ayah, Rani bisa. Ayah yang hebat, Rani yang penurut, ibu yang lembut. Begitulah kiranya menggambarkan mereka. Pemilik cinta – cinta termesra dalam keluarga.
“Lima menit lagi.” Peringatan dari Bi Siti.
Ternyata, Rani sudah melamun kira – kira 10 menit. Yaa Rabb, coba lihat kertasnya, bersih.
Otaknya mulai diperas hingga keringat bercucuran keluar. Ia bingung akan mendeskripsikan apa. Pelan – pelan tangan lentiknya mulai meliuk – liukkan deretan huruf – huruf yang berjejer rapi membentuk kata pembangun kalimat yang bersinergi membentuk paragraf deskripsi.
“Baik, dari hasil pekerjaan kalian, akan Saya ambil secara acak. Setelah itu, namanya yang Saya sebut silakan paparkan hasilnya di muka.”
“Maharani Kartika Putri” nama itu terdengar disebut.
Deg!
Gadis itu berdiri sambil menggeser kursi ke belakang sedikit, lalu merapikan rok, lantas menuju ke depan papan tulis.
Suasana kelas tampak hening. Di dalam hati mahasiswa terucap “yes…yes…yes… Aku nggak maju”
“Aku mencintainya dengan teramat sangat. Cinta yang menurutku tak wajar kuberikan pada lawan jenis.”
“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu…..” spontan teriakan mahasiswa menghebohkan ruang pojok di gedung D4.
“Tolong didengarkan dahulu.” Bu Siti kembali menenangkan kelas. Dosen itu mulai paham, mahasiswi itu akan membuat deskrispi diri. Kelas Bahasa Indonesia rombel 38 ini memang berasal dari berbagai fakultas yang pasti memiliki perbedaan kebiasaan. FBS yang dari dandanan terlihat lebih wah, FIS yang agak sering telat (berdasarkan pengalaman), FIP yang tenang menghanyutkan, FIK yang sering ceplas – ceplos, FH yang diam karena menjadi kaum minoritas, FT yang terlihat sangar, dan FMIPA yang katanya terlihat serius dalam hal berbagai - bagai.
Rani meneruskan paragraf deskripsinya, kali ini tanpa membaca hasil tulisannya karena memang tulisannya dalam lima menit tadi terkesan kacau.
“Dia seorang pria yang tampan, berperawakan tinggi, pemilik senyum termanis, bijaksana, sholeh, penyayang, tidak gampang marah, dan yang teramat lembut untuk ukuran seorang pria. Jika kata dunia mata elang adalah mata yang paling tajam, tidak bagiku. Karena mata pria itu melebihi tajamnya. Rambutnya yang agak mengombak terlihat rapi tanpa diberi gell. Kulit telapak tangannya yang tak halus menandakan ia seorang pekerja keras yang memiliki cita – cita teramat tinggi. Bila aku ada di dekatnya, seakan dunia berpihak padaku. Rasa tenang dan nyaman yang ia suguhkan untukku membuat aku aman berada di sampingnya. Saat ia tak suka makan ikan, aku yang menghabiskan jatahnya. Saat aku tak boleh makan mie instan, ia yang susah payah menelannya. Kami saling melengkapi. Ia memang tak sempurna, tak istimewa, tapi tak biasa. Ia bukan ayahku, ia juga bukan temanku. Kalau kau bertanya,’Apakah ia pacarmu?’ lantang kujawab,’Bukan’. Ia juga bukan musuhku, ia bukan orang yang selalu memberikan bahunya untukku bersandar. Tapi, ia adalah orang yang mampu menarikku berdiri lagi ketika aku mulai terjatuh dan tertatih. Ia mengerti apa yang aku mau. Ia adalah seorang pria gagah yang sulit untuk didefinisikan terlebih lagi untuk dideskripsikan. Ia adalah Ardiansyah Eka Saputra; kakakku.
---
Akhir semester 2
Hari ini Rani pulang ke Kebumen. Bertemu ibu, Nindya, Salma, dan Bagas.
Ibu masih sibuk membuat pola baju pesanan Pak Camat yang akan diambil tiga hari lagi. Nidya yang sudah bercita – cita menjadi koki sejak kecil, tampak asik dengan pisau di tangannya. Ah, gadis itu sudah mulai beranjak remaja. Bila ada di dekatnya, kau akan mencium bau wangi dari minyak wangi yang selalu ia bilang… “Biar PeDe…”.
Salma sepertinya menuruni bakat menggambar ayah. Meskipun di bangku SD belum dikenalkan cara membuat gambar – gambar proyeksi, ia sudah mulai memenuhi buku gambarnya dengan goresan kasar bangunan rumah, gedung – gedung tinggi, jembatan, sekolah yang megah, dsb. Bagas sudah terlihat semakin besar, ia kini sedang senang memakai baju hijau – kuning plus topi yang ia dapatkan dari TK Aisyiah Bustanul Athfal 3, surga keduanya di bumi kali ini.
Rani senyum – senyum melihat perkembangan itu semua.
“Sayang, Mas Ardi tak bisa ikut kumpul di sini.” Lirih batin Rani.
“Bu, apa ndak ada libur untuk Mas Ardi, ya? Kan kasihan kalau disuruh kerja terus.”
“Sabar, Masmu itu kan lagi rekoso, lagi prihatin. Ya biar, nanti kalau waktunya pulang kan pasti pulang.” Ucap Ibu menenangkan.
“Tapi, Rani sampun kangen banget, Bu…”
“Kalau kangen, ya matur sama Allah. Biar Masmu cepet ada waktu libur, biar cepet pulang.”
---
Semester 6
Tugas perkuliahan semakin menumpuk. PPL harus segera dilaksanakan. Skripsi menunggu giliran untuk segera diawali. Tinggal membakar semangat sedikit lagi, semuanya akan terselesaikan dengan rapi. Tak ada kata untuk menyerah. Tak ada kata untuk berkata tidak bisa atau tidak mampu. Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlan waanta taj’alul hazna sahlan. Ya Allah tiada yang mudah kecuali yang Engkau mudahkan, hanya Engkaulah yang menjadikan sulit menjadi mudah.
Sejak duduk di bangku kuliah, sudah puluhan bulan ia habiskan malam – malam untuk memanjatkan do’a, untuk mengiba pada Yang Mahapunya. Mahapunya segalanya. Punya kekayaan untuk mengucurkan rizki yang tak henti – henti untuk ibu Rani. Punya kekuatan untuk mendobrak semangat anak – anak Pak Bambang – Bu Endang dalam menghadapi hidup. Punya kekuatan untuk sedikit saja menggetarkan hati Si Bos supaya memberikan waktu libur untuk Mas Ardi. Punya kekuatan untuk menyuplai energy yang pasti terkuras habis untuk merancang bangunan supaya berdiri kokoh. Punya kejernihan yang mampu menjernihkan mata Mas Ardi yang setiap hari menghadapi garis – garis pembentuk sketsa bangunan megah. Punya kelembutan yang mampu sedikit saja melembutkan tangan Mas Ardi yang mungkin saja ia gunakan untuk mengangkat batu bata ketika proyek harus segera dirampungkan sementara anak buahnya kekuarangan tenaga. Yang Mahpunya, pasti juga punya wewenang untuk mengabulkannya. Rani percaya itu.
---
Rani memandangi surat di tangannya. Siang tadi waktu di kampus, ada temannya yang memberi tahu bahwa ada surat untuknya di kantor jurusan. Awalnya ia bingung, surat dari siapa? Tahun 2012 masih zamannya surat – suratan?
Ketika dilihat nama pengirimnya, tertulis rapi di sana nama kakaknya; Mas Ardi.
Assalamu’alaikum ww.
Untuk Rani, adikku tersayang.
Ini Mas Ardi. Alhamdulillah cinta Allah tak pernah berhenti hingga Mas menulis surat ini. Selalu saja ada rizki dalam bentuk yang berbagai – bagai yang Rabb titipkan untuk Mas. Semoga, Rani pun demikian. Amiin.
Mungkin Rani bingung kenapa Mas kirim surat. Begini sayang, Mas baru mendapat proyek baru di sebuah pedalaman yang sangat terpencil. Di tempat itu insyaAllah akan dibangun sekolah untuk anak – anak usia SD dan SMP. Di daerah itu sama sekali belum ada signal. Itu sebabnya, Mas tidak bisa menghubungi Ibu, Nindya, Salma, Bagas, dan juga Rani via seluler. Tempatnya sangat terpencil, Ran. Jadi, Mas putuskan untuk mengirim surat.
Dua minggu lalu ketika Mas menelepon Rani, Rani bilang sedang menyusun skripsi? Itu tandanya, sebentar lagi Rani memakai toga dan menyandang gelar S1. Tahukah kau, Rani? Bahwa Mas begitu bangga padamu. Profesi guru adalah pekerjaan yang mulia, yang mampu mendidik generasi menjadi terdidik. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan untukmu, amiin.
Oh ya, cincin yang Mas berikan untuk Rani, masih kan? Sekarang Mas tahu kenapa dulu Ayah memberikan cincin untuk Mas. Sesuatu yang menurut kita tidak wajar. Ayah memberi cincin itu karena cincin tak memiliki ujung; melingkar dan terus melingkar. Tak ada awal dan akhirnya. Cincin melambangkan ikatan yang mampu mengingatkan pada pemakainya bahwa yang memberi telah mengikatnya dengan kasih yang tak berujung. Begitu pun dengan kasih sayang Ayah yang beliau berikan untuk Mas, yang tak pernah berujung. Ketika Ayah memberikan cincin itu, pertanda bahwa Mas menjadi pengganti Ayah. Begitupun dengan Rani. Ketika Mas memberikan cincin itu, Rani menjadi pengganti Mas dalam menggapai cita – cita yang sempat terputus di bangku kuliah. Seperti cincin itu pula, kasih Mas untuk Rani tak pernah terputus.
Wassalamu’alaikum ww.
Masmu tercinta,
Ardiansyah Eka Saputra
---
11 Januari, 2014
Assalamu’alaikum ww.
Alhamdulillah karena cinta Allah, Rani, Ibu, dan adik – adik masih bisa berdiri tegar di bumi-Nya. Semoga Masku yang jauh di sana juga begitu adanya, semakin kuat dan semakin kuat. Rani percaya itu, Mas. Kalau tidak salah, ini surat ketujuh sejak Mas Ardi mengirim surat untuk pertama kalinya.
Sejak Rani diwisuda, Alhamdulillah Rani langsung bisa mengajar di SMA N 1 Gombong. Nindya tidak mau kuliah setelah lulus dari SMKK jurusan Tata Boga. Ia langsung buka chatering di rumah. Jahitan ibu semakin ramai, sebenarnya Rani tak tega jika ibu terus bekerja di masa sepuhnya. Tapi, ibu bersikeras. Salma sudah SMP. Kamarnya penuh dengan kertas gambar bangunan – bangunan megah. Bagus sekali, Mas…. Gambarnya seperti gambar Ayah dan Mas. InsyaAllah Salma akan menjadi arsitek seperti cita – cita Mas yang belum terwujud. Bagas sudah tumbuh menjadi lelaki kecil yang tampan, Mas. Seperti wajahmu. Beberapa kali ia naik ke atas panggung menerima hadiah lomba hafalan surat – surat pendek, adzan, dan qiro’ah di TPQ tempat ia mengaji.
Mas, maaf sebelumnya kalau Rani lancang. Bengini, satu minggu yang lalu ada teman SMP Rani yang datang ke rumah. Bertemu dengan Ibu. Katanya, mau melamar Rani. Kata Ibu, semua keputusan tergantung Rani. Tapi, Rani belum berani memutuskan sebelum Rani matur Mas. Sebagai wali Rani, Mas Ardi juga berhak untuk menentukan siapa jodoh Rani. Dia bernama Iqbal. Kata Bayu; teman dekatnya, iqbal ikhwan yang sholeh, lulusan ITB jurusan arsitektur. Oh ya, perawakannya mirip Mas Ardi. Itu salah satu alasan Ibu menerima baik kedatangan Iqbal, katanya mirip Mas.
Jawaban iya dan tidak akan Rani sampaikan setelah Rani mendapat surat balasan dari Mas. Rani tunggu kebijaksanaan Mas.
Wassalamu’alaikum ww.
---
Dua minggu kemudian…
Assalamu’alaikum ww.
Alhamdulillah Mas sehat. Semoga keluarga Kebumen juga begitu. Mas sudah menerima surat terkahirmu. Jawabannya akan Mas katakan ketika kita bertemu di rumah. Kita bicarakan bersama. Tunggu Masmu pulang, insyaAllah tanggal 3 Febuari ini. Sambut Masmu dengan senyum dan semangat yang senantiasa tersemat ya. Sungkem untuk Ibu dan salam untuk Adik – Adik.
Wassalamu’alaikum ww.
Masmu, dalam ingin pulang
Ardi
Semua penghuni rumah bernomor 17 di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen itu sontak berucap hamdallah…
“Alhamdulillah Masmu mau pulang, Nduk…” pelupuk keriput mata ibu tak mampu membendung lagi tangis bahagia.
“Ibu, hari ini kan tanggal 3 Febuari.” Bagas si kecil menunjuk angka di kalender yang terpasang rapi dengan sedikit hiasan gambar Salma.
---
19.31 WIB
Setelah sholat berjama’ah di mushola Darul Muqomah depan rumah, semuanya duduk di ruang tamu dengan pintu terbuka lebar. Nindya asik menata kue yang langsung ia buat tadi sehabis membaca surat dari kakak yang sudah sangat ia nantikan kedatangannya. Salma sibuk mengumpulkan kertas – kertas gambarnya yang ingin ia tunjukkan pada kakak sulungnya. Bagas memandangi foto yang ibu berikan untuknya sejak kakaknya pergi merantau. Ibu selalu menceritakan sosok kakak yang belum ia kenal sebelumnya di usia yang teramat kecil saat itu. Ibu khusyuk dengan tasbih di tangan keriputnya. Sementara Rani tak henti – hentinya melihat keluar kalau – kalau tiba – tiba masnya muncul sambil merapikan baju hijau muda dan rok hijau agak tua serasi dengan kerudungnya.
Dari kejauhan tampak becak membawa seorang penumpang dengan beberapa tas besar.
“Mas Ardiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………………” teriak Rani, Nindya, dan Salma. Sementara Bagas masih mencocokkan wajah yang ada di foto dengan wajah orang yang datang, sepertinya tampak berbeda.
“Assalamu’alaikum, Ibu….” Bibirnya mencium tangan wanita yang teramat ia rindukan selam bertahun – tahun.
Malam itu, tak banyak yang dibicarakan. Setelah menyantap kue buatan Nindya dan memandang sekilas gambar – gambar Salma, Ardi membersihkan diri lantas tertidur lelap. Ibu yang memintanya demikian.
Di dalam hati wanita berkepala lima itu, tersimpan tanda tanya besar. Jika anakku menjadi arsitek yang kerjanya menggambar, kenapa tangannya begitu kasar? Kulitnya hitam legam, badannya kurus, dan rambutnya tak serapi saat ia melepas kepergian anak sulungnya. Pekerjaan apa yang sebenarnya anaknya lakukan selama ini?
---
23.45 WIB
“Uhuk…uhuk…uhuk…”
Sejak kedatangannya, Ardi sudah berkali – kali batuk, ratusan atau bahkan mungkin ribuan kali.
---
4 Febuari 2010
“Masmu belum bangun – bangun, Nduk…. Coba dibangunkan. Disuruh subuhan dulu.”
“Nggeh, Bu…” Nindya pelan – pelan membuka pintu kamar Ardi yang memang tak dikunci.
“Mas, bangun, Mas…. Sudah pagi. Subuhan dulu. Nindya sudah masak nasi goreng telur untuk Mas Ardi, enak lho Mas. Mas, bangun, Mas…. Mas, Salma agak ngambek tuh gara – gara semalem gambarnya cuma dilihat sekilas. Habis makan nanti, kita membicarakan tentang lamaran Mbak Rani, ya Mas…. Kasihan Mbak Rani, sudah ingin segera mendengar jawaban dari Mas Ardi. Mas, katanya Bagas juga mau ngajak Mas main bola di lapangan dekat rumah Bu Harun. Ayo, bangun, Mas…. Banyak yang harus Mas lakukan hari ini.
Mas…Mas Ardi….”
Nindya mulai menyadari ada yang aneh. Masnya tak menanggapi apapun yang ia ceritakan. Matanya tak sedikit pun dibuka. Badannya tak sedikit pun bergerak.
“Ibu….Mbak Rani….Salma….Bagas…..”
---
Sekali lagi, ini adalah cita – cita tentang kenyataan dan kenyataan tentang cita – cita.
Satu lagi nisan tertanam di dalam tanah dengan 3 baris deretan kata
Ardiansyah Eka Saputra
Lahir : Kebumen, 31 Juli 1988
Wafat : Kebumen, 4 Febuari 2014
Barisan rombongan pengantar jenazah menjadi saksi kembalinya seorang lelaki muda yang bertanggung jawab pada keluarga.
“Cepat pulang, Nduk….” Ibu terlihat lebih tabah dibanding Rani.
---
Rumah nomor 17 Desa Sidoagung, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen
Di kamar ini, waktu aku masih berusia 7 tahun, Mas Ardi pernah mengajakku menuliskan cita – cita. Aku bingung mau menulis apa. Profesi yang baru aku tahu hanyalah penggambar (sebenarnya arsitek, tetapi yang aku lihat dari pekerjaan Ayah adalah menggambar terus), penjahit seperti Ibu, dokter yang rutin memberikan obat untuk Mas Ardi karena bronchitis itu, dan guru yang selalu mengajarkan aku menulis, membaca, menggambar, menyanyi, dsb. Aku tak ingin seperti Ayah yang kerjaanya hanya menggambar karena aku tak suka menggambar, aku tak ingin seperti Ibu yang sering tertusuk jarum jahit, aku juga tak ingin seperti dokter yang jahat karena selalu memaksa Mas Ardi minum obat pahit. Lalu, kuputuskan aku menuliskan cita – citaku sebagai seorang guru; satu – satunya profesi terakhir yang aku tahu. Lantas, aku dan Mas Ardi menempelkan kertas cita – cita di dinding kamar ini. Masih ada hingga kini. Tertulis kata “ARSITEK” pada kertas cita – cita Mas Ardi.
Mas Ardi bilang, “Kalau Rani sedang ingin pertolongan dan merasa sangat sedang membutuhkan Allah…buka Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 214. Dan kalau Rani ingin tahu betapa besarnya cinta Mas untuk Rani, Rani boleh membuka kotak di lemari Mas bagian bawah. Tapi, Rani hanya boleh membukanya saat Rani benar – benar ingin tahu tentang cinta Mas. Jangan dibuat mainan, ya….”
Mas, Rani ingat kata – kata itu.
Pelan – pelan ia membuka lemari pakaian milik kakaknya. Tercium minyak wangi Casablanca warna biru yang sangat ia hafal baunya.
Rani buka ya, Mas….
Mata merah Rani menatap sesuatu…
Sebuah design rumah.
Rani, ini untukmu. Mas buatkan ini setelah Mas menerima surat terkahirmu tentang lamaran teman SMPmu. Kelak, ketika Rani dan Iqbal ingin membuat rumah, pakai design dari Mas Ardi ya. Mas tahu, Iqbal jauh lebih pandai karena waktu belajarnya di bangku kuliah jauh lebih lama dibanding Masmu ini. Tapi, biarkan Mas merasakan menjadi arsitek sekali saja, arsitek khusus untuk Adik tersayangku. Karena, sebenarnya selama ini pekerjaan Mas di proyek – proyek bukan ‘penggambar’ seperti katamu waktu kecil, tapi… menjadi pekerja bangunan. Lha wong lulusan STM kok, masa mau jadi arsitek, ya mimpi itu namanya, hehe.
Debu bangunan sering nakal sama Mas, membuat bronchitis yang sempat sembuh menjadi kambuh lagi. Masmu berniat pulang karena paru – paru ini sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Mas perlu istirahat, sejenak.
Segeralah menikah, dengan arsitekmu; Iqbal.


Desti Anisa Zoraida
4101409006
Matematika-FMIPA

(cerpen peringkat ke-2 dalam lomba cerpen Islami Sigma 1431 H)