This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 23 Juni 2011

Jangan Panggil Aku Valentine (Lagi)!


Gawat! Apa sebaiknya aku tidak masuk sekolah saja ya hari ini? Lalu, apa yang harus ku katakan pada mereka nanti? Argh... Pusing!!!
Setelah memantapkan hatinya, akhirnya Dini memutuskan untuk tetap pergi ke sekolah. Entah bagaimana respon teman-temannya nanti, Wallahu ‘alam, Dini tidak tahu. Ini merupakan keputusannya sendiri. Keputusan yang telah dirundingkan dengan sang ayah. Keputusan yang sebenarnya masih diragukan oleh sang Bunda. Dan, sebuah keputusan yang mungkin akan merubah jalan hidup gadis yang baru berusia 17 tahun tersebut.
***
Tidak ada gelak tawa atau canda ria di kelas hari ini. Semuanya seakan membisu. Kelu, tak bisa berkomentar apa-apa. Suasana surprise pesta ulang tahun untuk Dini yang memang bertepatan dengan Valentine’s Day itu berubah senyap, laksana pekuburan di samping sekolah. Puluhan terompet yang semula sudah dipersiapkan, tidak jadi ditiup. Gandum dan telur yang akan digunakan sebagai ‘bom luluran’ untuk Dini, urung dilakukan. Gadis yang dikenal satu sekolah sebagai Miss Valentine dan pernah dinobatkan sebagai Putri Sekolah itu, kini berjilbab!
Ah, kamu bercanda kan, Val?’ ucap salah satu sahabat Dini, Fina. Valen merupakan sapaan akrab bagi Dini.
Dini menggelengkan kepalanya. Ia hanya tersenyum kecil. Berusaha menenangkan hatinya yang juga kalut tak karuan.
Tapi, hanya untuk sementara kan, Val? Cuma buat hari ini doang, kan?’ Dika, yang sebenarnya mau nembak Dini saat itu juga, nampak sedih. ‘Aku suka gaya kamu yang kemarin-kemarin.
Iya, Val. Mending jangan pakai jilbab dulu.
Betul, Val. Sayang kan rambut indah kamu nggak bisa dilihat orang nanti.
Suasana mendadak riuh. Hampir semua teman sekelas Dini tidak setuju dengan penampilan barunya, termasuk sahabat karibnya. Bagi mereka, Dini adalah ‘aset’ kelas yang sangat berharga. Beberapa bulan yang lalu, kelas mereka dianugerahi gelar sebagai kelas terbaik karena prestasi Dini yang berhasil menyabet Juara 1 Putri Sekolah dan Duta Wisata Tingkat Regional. Di samping itu, sudah banyak majalah dan tabloid remaja yang berusaha mendapatkan kontrak dengan Dini. Lagipula, beberapa bulan lagi Dini akan berlaga pada ajang Duta Wisata Tingkat Nasional. Kalau pakai jilbab gitu, apa Dini bisa menang? Mustahil! Pikir teman-teman Dini.
Diam dulu, teman-teman. Kita dengar apa kata Valen,’ seru Dika kemudian. Dia tak rela kalau calon pacarnya itu berjilbab. Nggak keren!
Dini menghela nafas sejenak. Nampak berat rasanya untuk memulai kata pertamanya. Namun, ini pilihannya sendiri. Tak ada yang memaksanya, sama sekali.
Insya Allah tepat mulai hari ini Dini akan memakai jilbab. Tolong teman-teman mau menghargai prinsip Dini yang sekarang. Dini hanya ingin berubah menjadi orang yang lebih baik lagi,’ ucapnya dengan agak terbata-bata. Benar-benar perjuangan yang berat untuk mengucapkan kata-kata seperti itu di depan teman-temannya. Sudah tiga tahun mereka jadi teman sekelas. Dan untuk hari ini, mungkin Dini telah mengecewakan mereka semua.
Maaf, teman-teman... batin Dini.
Tapi nggak harus pakai jilbab kan, Val?’ sergah Karin, sahabatnya yang lain.
Dini tersenyum. ‘Jilbab ini akan membantu Dini menjadi lebih baik.
Ah, nggak asyik kamu, Val. Terserah deh kalau gitu. Itu berarti kamu nggak nganggep kita-kita ini teman kamu.
Iya nih. Kamu tuh masih muda, Val. Nggak perlu lah kolot kayak gitu.
Dini menundukkan kepala. Rasa bersalah kepada teman-temannya semakin membuncah. Terbersit keinginan untuk kembali melepas jilbab keesokan harinya. Tapi, tidak! Dini sudah berjanji kepada dirinya sendiri. Lagipula, ayah dan bunda pun sudah merestui. Teringat pesan ayah sebelum ia berangkat ke sekolah tadi pagi.
Kalau itu memang keputusanmu, kamu harus konsisten. Jangan pernah main-main dengan janji yang kamu buat sendiri. Ingat, kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban kamu di akhirat.
Bel berbunyi. Teman-teman kembali ke bangkunya masing-masing. Hiasan yang dipersiapkan untuk pesta ulang tahun Dini dibiarkan menjuntai di ruang kelas. Raut wajah kecewa dari teman-teman Dini, kini berganti menghiasi tempat itu.
Ada satu hal lagi yang ingin Dini sampaikan,’ Dini beranjak ke tengah kelas, meminta atensi dari semua mata yang sekarang memang sedang tertuju padanya.
Apa, Val? Kamu mau bilang kalau kamu cuma bercanda, kan?’ harap Karin diikuti anggukan dari teman sekelasnya.
Bukan, bukan itu. Dini hanya ingin bilang, jangan panggil Dini dengan sebutan Valen atau Valentine lagi. Dini tidak suka.
Huhuhu... Sorak sorai membahana di kelas. Tampak teman-teman Dini mulai mencibirnya, mengatakannya sok alim lah, sok suci lah, kolot lah.
Ya Rabb... Dini berserah pada-Mu... Tangis Dini dalam hati.
***
Sudah tiga hari ini Dini didiamkan oleh teman-temannya. Hampir tidak ada yang mau berbicara dengannya, kecuali kalau terpaksa atau saat kegiatan kelompok di kelas. Dini benar-benar tidak tahan dengan itu semua. Tapi nasehat ayah, bunda, dan guru ngajinya kembali menguatkan hatinya untuk tetap tabah.
Insya Allah pasti ada jalannya. Bukankah setelah kesulitan itu pasti akan ada kemudahan? Perkataan guru ngajinya itu terngiang di telinganya.
Iya. Tapi, kapan teman-teman bisa kembali seperti sedia kala? Setelah lulus nanti? Tidak. Dini tidak ingin lulus dengan suasana kayak gini, Tuhan. Batin Dini sedih.
Rasa tidak suka mereka kepada Dini kini kian bertambah. Bahkan, mungkin naik ke level ‘benci’ setelah akhirnya Dini mengundurkan diri dari ajang Duta Wisata Tingkat Nasional.
Kamu tuh kenapa sih, Din? Okelah kalau kamu pakai jilbab. Tapi, apa juga harus mengundurkan diri dari pemilihan Duta Wisata Nasional? Ini bukan cuma buat kamu, Din. Buat sekolah kita, buat teman-teman juga. Atau jangan-jangan kamu memang benar-benar sudah nggak anggap kita-kita ini sebagai teman kamu, gitu?’ bentak Ajeng, teman sekelas Dini, yang tak bisa menahan amarahnya.
Bukan begitu, Ajeng’.
Dini mencoba menjelaskan alasan pengunduran dirinya dari ajang tersebut.
‘Salah satu sesi dalam pemilihan Duta Wisata itu adalah sesi walking. Dini harus gandengan sama pasangan Dini. Dan Dini tidak bisa melakukan hal itu,’ ucap Dini lembut, berusaha mencairkan suasana kelas yang mulai jadi pusat perhatian siswa-siswa yang lain. Bahkan, kelas sebelah pun ikut-ikutan mengompori teman-teman Dini yang lain.
Alah, muna kamu jadi cewek!
PLAAKKK... Sebuah tamparan hebat melayang di pipi kiri Dini. Gadis itu sampai terjerembab ke lantai kelas.
Sudah, sudah. Apa-apaan kamu, Jeng! Jangan seenaknya ngegampar orang kayak gitu. Apa kamu mau digampar juga, hah?’ bentak Dika yang tidak rela Dini diperlakukan kasar.
Dika kemudian menyuruh beberapa teman perempuannya untuk membantu Dini ke ruang UKS. Sepertinya tamparan itu menyisakan bercak darah di sekitar bibir Dini.
Ajeng berlalu, tak peduli dengan keadaan itu. Kerumunan pun kini sudah tak nampak lagi, menyisakan satu episode pahit bagi Dini, lagi.
Ah, betapa tidak mudahnya menjadi seorang jilbaber.
***
Akhir pekan ini OSIS sekolah Dini berencana mengadakan ajang Miss Valentine sebagai bentuk perayaan Valentine’s Day. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ajang ini selalu disambut antusias oleh warga sekolah layaknya ajang Miss Universe. Tentu saja hal ini membuat dada Dini menjadi sesak. Walaupun ia adalah pemenang tahun lalu, budaya seperti itu tidak seharusnya dilakukan lagi. Buat apa coba ikut-ikutan kultur Barat yang tidak penting dilakukan itu. Bukankah tidak perlu hari khusus untuk menyimbolkan rasa kasih sayang?
Ajang ini tidak boleh diadakan lagi! Batin Dini.
Tapi, sayang, Dini tidak punya teman pendukung. Andaikata ada Rohis di sekolahnya, pasti ajang tersebut sudah didemo habis-habisan.
Aha! Dini punya ide. Ia membuat kuesioner singkat dan segera melakukan pendekatan personal kepada teman-teman yang lain. Banyak yang mencibirnya, tapi ternyata tak sedikit yang mendukungnya. Akhirnya, setelah mendapat cukup bala bantuan dan bukti fisik atas hasil angketnya, ia memberanikan diri untuk mewakili kelasnya dalam Rapat Perwakilan Kelas bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di aula sekolah. Walau sempat bersitegang dengan sang ketua kelas, akhirnya ia diizinkan juga mengikuti rapat tersebut.
Bismillahirrahmanirrahim... bisik Dini pelan.
Rapat dimulai. Ketua OSIS SMA Persada tanpa basi-basi langsung memulai agenda rapat membahas program kerja perayaan Valentine’s Day; Ajang Miss Valentine.
Adapun tujuan dari ajang ini adalah menumbuhkan semangat kompetisi secara sehat antar siswi SMA Persada sebagai wujud emansipasi wanita sekaligus sebagai simbol hari kasih sayang tingkat dunia. Ini bukti bahwa sekolah menghargai keberagaman dan berwawasan terbuka terhadap semua kultur yang ada,’ ujar Andre, Ketua OSIS, dengan percaya diri.
Dini kontan membelalakkan mata tak percaya.
Apa? Emansipasi wanita? Simbol kasih sayang tingkat dunia? Menghargai keberagaman? Berwawasan terbuka? Apa-apaan itu? Astaghfirullah...
Dini hanya bisa mengelus dada tak percaya dengan statemen Ketua OSIS yang baru saja dilontarkan itu.
Seabreg alasan dikemukakan oleh Tim Khusus Program Kerja Miss Valentine, sampai pada akhirnya peserta perwakilan kelas diperbolehkan untuk menyanggah ataupun menanggapi.
Dini langsung mengangkat tangan. Dilihatnya tak ada yang berani menyanggah alasan kuat Ketua OSIS untuk tetap mengadakan agenda tersebut. Maka dirinyalah yang harus membuat perubahan itu.
Sekarang atau tidak sama sekali!
Dini pun dipersilakan untuk maju ke mimbar. Nampak ia berusaha mengatur irama nafasnya agar tidak terdengar emosional yang malah akan menjatuhkan dirinya dan nama baik kelasnya sendiri.
Agaknya ajang Miss Valentine ini perlu dipertimbangkan lagi, hadirin sekalian.
Huhuhu... Aula bergemuruh, pertanda tak sepakat dengan perkataan Dini. Sementara, Dini hanya tersenyum, penuh keberanian yang ia sendiri tak tahu darimana asalnya.
Begini, mengadakan ajang Miss Valentine bukanlah mengenai emansipasi wanita, simbol kasih sayang tingkat dunia, menghargai keberagaman, ataupun berwawasan terbuka terhadap aneka kultur yang ada. Namun, di luar itu semua, kita patut mempertimbangkan urgensi atau pentingnya melaksanakan ajang ini. Kalau hadirin sekalian tahu berapa alokasi dana yang tercantum di proposal program kerja OSIS, pasti hadirin sekalian akan sangat terkejut. Bayangkan, uang sebanyak lima belas juta akan dihamburkan untuk melaksanakan sebuah kompetisi yang tidak jelas seperti ini!
Wakasek Bidang Kesiswaan sontak menengok ke arah sang Ketua OSIS. Tampak Andre gelagapan tak karuan. Rencananya untuk membelokkan dana ternyata diketahui Dini. Sial! Rutuknya dalam hati.
Salah seorang pengurus OSIS langsung berdiri dan angkat bicara.
Bukankah kamu sendiri merupakan pemenang Miss Valentine tahun lalu? Lantas mengapa sekarang kamu tidak setuju? Apakah karena sekarang kamu berjilbab? Tolong jangan bawa-bawa nama agama. Kita itu multikultural. Tidak hanya Islam yang ada di sekolah ini. Apa kamu tahu itu?
Nada pengurus OSIS yang bernama Delfi itu semakin meninggi. Agaknya emosinya benar-benar memuncak. Ia memang setali tiga uang dengan Andre. Sama saja!
Dini tak kehilangan akal. Lantunan bismillah terucap dari mulutnya sebelum akhirnya ia menjawab sanggahan itu.
Karena saya pernah menjadi Miss Valentine itulah saya akhirnya bisa berkata seperti ini. Tidak ada yang saya lakukan setelah menjuarai ajang itu. Kompetisi itu hanya sekadar sampai di situ saja. Lagipula, bukan karena jilbab panjang ini saya menentang salah satu program OSIS tersebut. Namun, karena saya menilai tidak ada manfaatnya sama sekali mengadakan acara seperti ini selain untuk hura-hura belaka. Angket yang telah saya sebarkan menunjukkan bahwa 77% siswa di sekolah kita tercinta ini menolak dengan tegas acara tersebut! Dan perlu diingat pula, masih ada siswa cerdas peraih rangking kelas yang tidak bisa bayar SPP sampai sekarang. Bukankah uang itu seharusnya bisa dialokasikan untuk mereka? Di samping itu, ada banyak agenda lain yang bisa dilakukan oleh OSIS untuk meningkatkan skill para siswa. Misal, Lomba Speech Contest, Khitobah Bahasa Arab, Kompetisi Mading antar kelas, Lomba Cerdas Cermat, Debat Ilmiah, dan sebagainya. Bukankah itu terdengar lebih bermanfaat dari sekadar ajang Miss Valentine?!’ tegas Dini lantang.
Semua hadirin menganggukkan kepala, termasuk Pak Rudi, Wakasek Bidang Kesiswaan. Sementara Andre dan sekongkolannya hanya bisa gigit jari setelah Pak Rudi benar-benar mencoret ajang Miss Valentine sebagai program kerja dan melarang ajang itu untuk diadakan di sekolah lagi.
HOORRREEE...
Sorak sorai pendukung Dini tampak jelas dari dalam ruang aula sekolah. Dilihatnya Fina, Karin, Dika dan teman-teman kelasnya membawa coret-coretan tangan untuk mendukung usahanya. Ternyata teman-teman Dini sudah tidak membencinya lagi.
Alhamdulillah, Ya Rabb. Terimakasih atas bantuan-Mu hari ini...
Dini langsung menghambur ke luar aula. Dipeluknya Fina dan Karin erat-erat.
Terima kasih sudah mau mendukung Dini,’ ucapnya terharu. Bulir-bulir airmata sudah mulai turun dari kedua pelupuk matanya.
Sama-sama, Valen eh Dini. Maafkan kita-kita ya. Kamu memang benar. Kita harus saling menghargai. Dan sepertinya kita tidak butuh Valentine’s Day untuk mengungkapkan kasih sayang kita kepada sesama. Betul nggak, teman-teman?’ seru Karin meminta persetujuan dari yang lain.
BETUL... BETUL... BETUL...’ Koor teman-teman Dini, menirukan logat Upin Ipin yang sangat tidak sukses ditirukan. Semuanya pun tertawa riang. Ajeng juga segera meminta maaf secara langsung kepada Dini. Ia menangis sesenggukan di hadapan Dini dan teman-teman yang lain. Dini dengan senang hati memaafkannya.
Eh, kamu harus berterima kasih sama seseorang lho,’ kerling Fina pada Dini.
Siapa maksud kamu?
Tuh, Dika. Kalau bukan karena dia yang berusaha meyakinkan kita, mana mungkin kita bisa ada di sini.
CIIIIIIEEEEEEEEE....
Yang disindir pun hanya bisa tersenyum malu-malu plus garuk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali.
Eh, nggak boleh dekat-dekat lho. Dini sekarang kan anti cowok. Hahaha...’ tambah Ajeng, menambah hangat suasana persahabatan siang hari itu.
Senyum itu, tawa itu, canda itu, persahabatan itu, kini hadir kembali di hidup Dini. Tak perlu ia khawatir lagi dengan penampilan barunya. Alhamdulillah, ternyata teman-temannya sudah bisa menerima ia apa adanya.
Mm, kalau seandainya Dika nembak kamu sekarang gimana, Din?’ bisik Fina di telinga Dini. Saking pelannya, teman-teman Dini yang lain bisa mendengarkan dengan jelas bisikan Fina. Ya iyalah, lha wong bisik-bisiknya saja pakai speaker musholla!
Dika pun tambah malu. Kalau diibaratkan nih, mukanya itu sudah kayak kepiting rebus ketiban cat merah... Bisa bayangin nggak?
Hm, gimana ya? Ah, kalau jodoh kan nggak kemana. Iya, kan?
Huwaaa... Valen genit!!!’ Seru Fina dan Karin bersamaan.
Heh, berani ya kamu manggil aku kayak gitu lagi.
Ayo kejar kalau bisa, Valentine!’ Mereka langsung kabur ke arah lapangan sekolah.
Awas ya kalian,’ Dini pun mengambil ancang-ancang untuk berlari.
Valen!!! Valentine!!!’ Mereka sudah semakin menjauh, berlari sekencang mungkin agar tak terkejar Dini.
Jangan panggil aku Valentine lagi!!!
***
O iya, ada pesan terakhir dari Dini nih,
Say No to Valentine ya!
(^_^)











SEDEKAH (Cerpen Faknita Utami)


Wanita itu kembali menyerapah di hadapannya. Rasa ngilu menggodam jantung hingga dia tak merasakan desir darahnya mengalir. Rusmi ingin sekali menyumpal mulut wanita itu dengan sayuran busuk di hadapannya. Namun, dia hanya tergeming dan menahan amarah yang hampir meruah. Setiap kata yang tercurah dari mulut wanita itu telah melekat di benaknya. Biarlah dia mengoceh sampai puas. Rusmi berlari menerobos ladang jagung yang menutupi rumah biliknya. Emaknya telah menanti di teras.
            “Duh Gusti, sungguh teganya dia menyuruh anakku memakan tanah. Begitu hinakah keluarga kami hingga dia memperlakukan kami tak ubahnya binatang?“ Air bening mengucur deras dari pelupuk mata Emak setelah Rusmi menceritakan semuanya.
            “Mbok Karsinem bilang kita tak boleh ngutang di warungnya lagi selama kita belum mencicil hutang yang menggunung,” terang Rusmi sembari memeluk Emak.
            “Andai bapak masih hidup.” gumamnya lirih.
            Sekelebat ingatannya melayang ke masa lalu. Hatinya terkoyak jika mengingatnya. Saat itu, tepat ketika Bapak melantunkan adzan di telinga adik keduaku yang masih merah. Tiba-tiba polisi menyeruak masuk ke dalam rumah. Tanpa alasan jelas mereka memborgol tangan Bapak. Emak hanya bisa meraung-raung berusaha menahan Bapak. Tak ada guna, polisi menghalau Emak hingga jatuh tersungkur ke tanah. Rusmi pun hanya menangis, meringkuk di balik kelambu dipannya.
Bapak dituduh telah membunuh majikannya yang ditemukan tergeletak bersimbah darah di rumahnya 3 hari setelah Bapak meninggalkan rumah majikannya. Hal yang mustahil. Bapak adalah pegawai yang patuh pada majikannya. Bahkan Bapak rela tak pulang 1 bulan, karena majikannya tak mengijinkannya.
            “Bapak bukan pembunuh pak. Dia suami yang baik,” rintih Emak.
            Semenjak hari itu keluarganya menerima stigma keluarga pembunuh. Beban yang terlalu berat dipikul Emak yang belum selesai masa nifasnya. Tak pernah ada bukti bahwa Bapak melakukan pembunuhan. Namun Bapak tak kunjung dibebaskan. Proses hukum yang berbelit-belit masih mengungkung Bapak di penjara. Hingga Bapak meninggal karena depresi dan sakit-sakitan tak kuat menahan tekanan batinnya.
            “Sholat asar dulu, Rusmi.” Emak mengusap lembut bahunya yang membuat dirinya tersadar dari lamunan. Kumandang adzan terdengar dari surau desanya. Rusmi segera beranjak dari amben untuk mengambil air wudu.
***

            Semburat merah menilik di batas cakrawala. Lembayung awan pun merona malu. Matahari telah lingsir. Arif adiknya belum juga pulang. Tadi siang, dia meronta-ronta pada Emak untuk segera membayar uang SPP yang menunggak. Sungguh, zaman yang menggila hanya dapat membuat Emak mengurut dada. Harga minyak pun hampir memutuskan batang lehernya. Ketika panas bumi semakin mengganas. Membuat ladang jagungnya meranggas, tak berbuah. Penguasa telah menggilas kaum bawah dengan trengginas. Dengan apa lagi dia harus menyambung nyawa.
             Emak hanyalah seorang buruh penggarap ladang. Ladangnya yang hanya sepetak tak mencukupi lagi. Rusmi pun telah melepas impiannya menjadi astronom. Arif adalah harapan Emak satu-satunya untuk dapat meniti senjanya dengan damai tanpa terusik oleh nyanyian kemiskinan. Mungkinkah pupus jua asa itu karena biaya hidup yang menggorok urat nadinya.
            Bulu romanya meremang ketika menyusuri sungai bersama Emak. Rusmi mengajak Emak mencari Arif. Hanya obor satu-satunya penerangan mereka. Sungai Elo di pinggir desanya terkenal angker. Tersiar kabar dari penduduk sekitar bahwa di bantaran sungai itu terdapat kerajaan jin. Siapa pun akan bergidik mendengarnya.
Terdengar derap langkah yang melesak menuju tempat mereka berpijak. Rusmi semakin mengeratkan pegangannya ke lengan Emak. Emak menggenggam ranting bambu untuk berjaga-jaga. Rusmi mengucapkan istighfar berulang kali. Sesekali dia membaca ayat kursi yang telah dihapalnya ketika dia berumur tujuh. Bapak telah menjejalinya dengan berbagai surat Al- Qur’an. Ketika hapalannya salah, Bapak langsung menggiringnya ke sumur dan mengguyur badannya. Emak yang melihatnya pun hanya menggigit ujung bibirnya tak kuasa mencegah Bapak. Di umur sepuluh Rusmi sudah mampu menghafal juz ‘Amma. Suatu kebanggaan bagi Bapak.
Di balik temaram malam, langkah itu berubah rupa menjadi sosok kecil yang sangat Rusmi kenal. Adiknya yang masih mengenakan seragam merah putih segera berlari menghambur ke pelukan Emak. 
            “Mak, Pak Haji Sadikin bilang besok ada orang mau bagi-bagi duit,” katanya polos. Binar matanya begitu jelas di pelupuk matanya.
“Kalau kita dapet duit ntar Arif disunat ya, Mak?”
Emak tak mengucap sepatah kata hanya mendekap erat Arif.
***

            Gemerisik angin kemarau melingkupi malam buta. Bulan pun susut tak berpurnama. Suara jangkrik di ladang jagung menghalau senyap di rumah bilik Rusmi. Lampu teplok di ruang tamu adalah satu-satunya penerangan, rumahnya tak pernah tersentuh listrik. Rusmi menghampiri Emak yang tengah menekuri amplop coklat di genggamannya. Serasa mimpi segepok lembaran biru disentuhnya. Lima juta rupiah! Sungguh, angka yang begitu besar untuknya. Bahkan uang itu sanggup membungkam mulut Mbok Karsinem untuk tak mengeluarkan serapahnya lagi.
            Tadi siang Haji Sadikin mengantarkan seorang pengusaha muda ke rumahnya. Pengusaha itu baru saja memenangkan tender. Sebagai rasa syukurnya, dia mengucurkan uang puluhan juta khusus kepada anak-anak yatim di desanya termasuk Rusmi dan adiknya.
            “Mau kita apakan uang ini, Rus?”
            Rusmi terdiam, mengamati gamis putih lusuh yang dikenakan Emak. Rusmi masih ingat gamis itu pemberian almarhum bapaknya ketika Emak baru saja melahirkan Arif. Putihnya mengusam termakan zaman yang mengubahnya menjadi nestapa. Ah, sudah berapa tahun Emaknya tak mengganti gamis itu dengan gamis yang baru. Sewaktu pengajian di kampungnya pun Emak selalu memakai gamis yang sama. Tak dipedulikannya bisikan-bisikan yang mampu membuat kupingnya memerah. Emak lebih memilih mendengarkan tausi’ah yang diberikan Haji Sadikin. Emak tak seperti ibu-ibu lain yang sering mengenakan perhiasan dan baju yang berlebihan hanya sekadar untuk ikut pengajian. Gamis kusam telah menjadi seragam Emak. Dalam hati Emak pasti ingin seperti mereka.
            “Bayarlah dulu utang kita pada Mbok Karsinem. SPP Arif juga harus segera dilunasi.”
            “Apa kau tak ingin melanjutkan sekolah, Rus?”
            Batin Rusmi bergolak. Astronom adalah impiannya semenjak Bapak menunjukkan rasi bintang Orion. Gugusan bintang paling terkenal. Sebuah simbolisme pemburu besar.  Bapak menyebutnya bintang Belantik. Gugusan yang terdiri dari tiga buah bintang yang besar dan berkilauan mampu menyihir Rusmi. Dari hari itu, Rusmi ingin mengetahui rasi bintang yang lainnya dan menjadi astronom.
Mimpi itu terlalu muluk baginya. Rusmi takut bermimpi, baginya bermimpi tak ubahnya menggantang asap. Uang itu pun juga akan tandas untuk membayar semua utang Emak, tak tersisa untuknya.
            “Biarlah Arif menggapai asanya, Mak. Aku akan tetap membantu Emak di ladang. Aku pun bisa merantau ke kota.”
            Emak menggeleng pelan. Tak mungkin dia melepas Rusmi pergi ke kota yang telah membunuh suaminya. Hingga larut malam masih saja dihitungnya uang di genggaman. Entah sudah berapa puluh kali mengitungnya sembari menanam angan untuk apa uang itu.
***

            Pandangan Rusmi menyapu ke dalam kamar Emak. Didapatinya Emak tengah bersimpuh beralaskan sajadah. Air matanya menggenang seraya melantunkan kidung do’a.
            “Ya Allah, terima kasih atas segala nikmat yang Kau berikan. Limpahkanlah rahmat-Mu pada pengusaha itu.  Lapangkanlah rezekinya. Bukakanlah pintu surga-Mu untuknya. ”
            Semenjak pengusaha itu bertandang ke rumahnya, setiap malam Emak berdo’a untuknya. Dia ibarat malaikat yang membawanya terbang dari titik nadir. Meskipun Emak tahu do’anya tak mampu membalaskan budi kepada malaikatnya.
Emak telah membayar lunas semua hutangnya pada Mbok Karsinem. Belenggu selama bertahun-tahun akhirnya terlepas. Begitu juga uang SPP Arif telah terbayar hingga 3 bulan ke depan. Arif pun akan segera disunat usai liburan. Satu yang Rusmi tak terima dengan keputusan Emak untuk memberikan 20% uang itu kepada saudaranya.
“Uang itu terlalu besar, Mak. Kita juga butuh. Apa Emak tak ingat ketika meminjam sedikit uang untuk membayar uang sekolahku dulu? Namun, dengan pongahnya mereka mengusir kita!”
“Istighfar, Rus. Dia itu saudara kita. Sekarang dia sedang meregang nyawa. Jika tak segera dioperasi penyakitnya semakin parah,” ucap Emak berusaha menenangkan Rusmi.
“Jika saja dia mau meminjami sedikit uangnya aku masih bersekolah, Mak.”
Rusmi masih mendendam. Luka itu kembali menganga. Dia masih tak mengerti dengan keputusan Emak. Hati Emak begitu lembut meski telah dilempar sekam yang berbara tak membuatnya berubah. Mungkin Emak adalah malaikat.
***
            Gedoran pintu menyadarkan Rusmi dari alam mimpinya. Berani sekali subuh-subuh datang bertamu, pikirnya. Rusmi beranjak dengan malas dari dipa bambunya untuk membuka pintu depan. Haji Sadikin berdiri di hadapannya dengan raut muka pasi. Sepertinya ada hal yang genting yang segera ingin beliau kabarkan. Tangannya gemetar hebat. Barangkali kedinginan. Angin subuh pagi ini begitu menusuk seakan menyiratkan sesuatu.
            “Makmu mana, Rusmi?”
            “Ada apa pak Haji?” Rusmi malah balik bertanya.
            “Aku harus bertemu Makmu sekarang. Masih banyak hal yang harus aku kerjakan.” Haji Sadikin nampak kesal. Rusmi pun segera beringsut masuk ke dalam rumahnya.
            Emak berjalan tergopoh-gopoh menuju teras depan. Tak dipedulikan kerudungnya yang berantakan. Degup jantungnya mengencang. Tak mungkin Haji Sadikin datang subuh-subuh jika tak ada berita penting.
            “Pengusaha itu meminta uangnya kembali. Usahanya bangkrut. Siang ini dia akan datang.” terang Haji Sadikin tanpa memberikan Emak kesempatan untuk bertanya sebelumnya.
            Emak berdiri mematung. Darahnya tersirap. Dingin telah merasuki ulu hatinya. Dongeng kemiskinan kembali mengusik sukmanya. Emak tak menangis, urat matanya telah beku oleh nasib buruk yang mendekapnya. Bibirnya terkatup rapat. Hanya memandang Haji Sadikin dengan getir.
            “Subhanallah,” ucap Emak sebelum limbung ke tanah.  
***


Aku Tidak Boleh Bertemu Allah Lagi


Ketika kau sedang berada dalam bus Santoso, Tri Sakti, Sri Sejati, Sumber Alam, Tri Kusuma, atau pun bus - bus lain yang melewati Kota Gombong dan kau melihat lelaki kecil memainkan kecrek sambil mengiringi lagu "punk rock jalanan" yang dinyanyikan seorang gadis usia SMP, kuberi saran padamu, kawan. Masukkanlah uang ke dalam kantong plastik yang ia sodorkan pada akhir lagu. Kemungkinan yang bernyanyi itu mbakku dan yang menyodorkan kantong plastik itu adalah aku. Bayu. Begitu mbakku selalu memanggilku. Aku tak tahu berapa tepatnya usiaku. Tapi, anak - anak yang tingginya hampir sama denganku sering kulihat memakai seragam merah-putih diantar bapak - bapak atau ibu - ibu ke SD Negeri 2 Gombong tempat biasa bus - bus berhenti. Aku pernah bertanya di mana mamak dan bapakku pada mbakku.  Kata mbakku, mereka pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan sejak aku masih suka ngompol. Entah di mana. Jadi, lebih baik tak usah kuceritakan tentang mereka padamu, kawan. Takutnya kau salah berimajinasi. Aku pun sama sekali tak ingat wajah mereka. Pastinya, mereka tak mirip mamak dan bapak Tebe yang sering aku lihat di TV terminal, mereka terlalu cakep untuk memiliki anak sepertiku. Hehe.
Oh ya, pernahkah kalian berlibur ke Beteng Van Der Wicjk? Jika kau belum pernah dan ingin ke sana tapi tak tahu tempatnya, mudah saja. Kau tinggal bilang pada kondektur bus untuk menurunkanmu di SGB. Ya, beteng peninggalan Belanda itu tak jauh dari SGB. SGB itu nama sebuah halte. Mungkin saja kau akan melihatku sedang menghitung receh untuk uang setoran bersama mbakku sambil minum es  dawet ireng di sana. Ya, tiap hari kami harus menyetor Rp 10.000,00/anak pada Bu Nyai.
***
Jarum panjang jam dinding di dekat tempat imam menunjuk angka 4 sedangkan yang pendek berada di antara 5 dan 6. Kata mbakku, itu artinya hampir setengah enam.
Tetes air yang turun lewat tepi - tepi atap Masjid Kauman sudah kecil - kecil tak seperti setelah salam  kedua sholat dzuhurku tadi. Serambi Masjid Kauman kini sudah sepi, tinggal ada aku, mbakku, dan tiga bapak - bapak berjaket hitam. Sejak hujan deras lengkap dengan petir dan geluduk tadi, tak ada jama'ah dzuhur yang meninggalkan masjid ini. Sholat 'ashar pun masih dengan jama'ah yang sama seperti ketika dzuhur.
Selama hujan tadi, mbakku mengajari do’a untuk memohon hujan yang bermanfaat. Syukurlah do’anya sangat pendek, jadi mudah saja kuhafalkan.
Allohumma shoibannaa fi’a.
“Yaa Allah jadikanlah hujan ini membawa manfaat yang besar.”

Aku melihat ke arah mbakku. Ia menghitung uang yang ada di dalam plastik berkali - kali.
            "Kurang rongatus" begitu katanya tanpa melihatku tapi sepertinya ia tahu bahwa ia sedang kupandangi.
Setoran kurang.
Akhirnya mbakku memegang tanganku lantas mengajakku menuju SGB. Jarak SGB dan Masjid Kauman tak jauh, hanya lima menit sudah sampai. Di tempat itu bus - bus besar sering menurunkan penumpang.
Lihat! Sudah ada tiga anak kecil yang duduk di sana. Wajah mereka mirip sepertiku, hitam sekali. Bedanya, rambutku lebih rapi dibanding mereka. Jelas saja, tiap kali habis sholat mbakku selalu menyisir rambutku. Air wudhu yang membasahi rambutku membuatku seperti keramas 5 kali sehari.
Oh ya, kukenalkan tiga anak itu. Yang kurus tinggi itu namanya Ucup. Yang rambutnya keriting kecil - kecil itu Abid. Dan yang biasa - biasa saja itu Charly. Nama yang terakhir itu bukan nama sebenarnya. Dia yang meminta dipanggil dengan nama itu. Maklumlah, dia sudah sangat tergila - gila dengan vokalis group band ST 12 itu.
Kami tinggal dalam satu rumah. Tentulah mbakku yang paling cantik di antara kami. Meskipun Bu Nyai selalu memakai merah - merah di bibir dan pemutih wajah, tetap saja mbakku yang nomor satu. Bagiku, Bu  Nyai itu orang yang baik sekali. Buktinya, ia mau memungut kami dari jalanan. Selain itu, ia juga selalu memberi kami makan tiap malam dengan "sego kucing". Sayangnya, ia tak pernah membelikan kami baju sejak lebaran tahun lalu, itu pun karena baju yang lama sudah sobek di sana - sini. Alhasil, kami tumbuh menjadi orang - orang super bau sedunia.
Tapi, tetap saja Bu Nyai bukan orang jahat. Bagiku, orang terjahat di dunia adalah Pak Polisi yang suka bawa pentungan dan peluit. Pernahkah kalian kena pentungan Pak Polisi? Kusarankan jangan, kawan. Rasanya sakit sekali. Aku sudah pernah kena tiga kali. Mbakku tak pernah bisa melindungiku karena ia juga kena pentungan Pak Polisi lainnya.
Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt.....
Kami berdiri dengan cekatan dan mencari sumber suara.
Baru saja kuceritakan orang - orang jahat itu padamu, kawan. Eh, ini sudah muncul.
Dua mobil polisi berhenti tepat di depan Toko Buku Gramedia yang halamannya cukup luas.
            "Mlayuuuuuuuuuu...." Ucup memberi aba-aba.
Mbakku memegang tanganku kuat - kuat lantas berlari tanpa melihat belakang menuju dapur Kawedanan. Tempat itulah persembunyian yang aman bagi kami berdua. Ruangan yang terletak di pojok Timur - Utara Kawedanan itu hanya digrendel kayu berkarat dari luar. Jadi, mudah saja bagi kami untuk bersembunyi di dalamnya. Kawedanan bersebelahan dengan Masjid Kauman. Biasanya, pegawainya sudah pulang selepas pukul 14.00 WIB. Hehe, kali ini kami tak perlu minta izin untuk bersembunyi pada pegawainya. Semoga boleh.
Jarak antara SGB dan Kawedanan tidaklah jauh, hanya sekitar 200 meter.
Kawedanan, Masjid Kauman, dan Bank BRI membentuk leter U. Masjid Kauman menghadap Timur berhadap-hadapan dengan Bank BRI. Di Bank BRI itulah aku melihat Pak Satpam yang juga punya pentungan. Setiap aku selesai sholat dan duduk di serambi masjid, cita-citaku menjadi satpam selalu muncul dan semakin menggebu-gebu. Aku ingin menjadi satpam yang punya pentungan supaya bisa mengalahkan Pak Polisi.
Kawedanan berada di antara keduanya dan menghadap ke Selatan. Di tempat itu sering diadakan lomba antarsekolah se-kecamatan Gombong. aku paling senang melihat drum band dan sepeda hias saat agustusan.
            "Alhamdulillaaah..." kata mbakku sambil cepat - cepat mengganjal pintu dapur Kawedanan dengan kursi kayu dari dalam.
Napasnya terdengar ngos - ngosan. Ruangan ini pengap sekali. Sepertinya memang sudah sangat jarang digunakan. Aku mengintip keadaan di luar dari jendela kaca. Mbakku memperingatkanku berkali - kali untuk duduk saja, kalau Pak Polisi lihat bisa kacau jadinya.
Ah, aku bandel kali ini. Aku ingin melihat adakah temanku yang tak seberuntung aku? Benar saja. Charly ketangkap! Tapi, konyolnya dia masih bisa menyanyi,"Biar orang berkata tidak, yang penting aku padamuuuuu..." sambil cengar-cengir. Aku ikut cengar-cengir dari dapur.
Tetes air dari langit tinggal satu-dua yang terlihat mata. Entah sekarang sudah pukul berapa. Mungkin sebentar lagi maghrib. Benar saja. Aku melihat Pak Rahmat menggandeng anak lelaki yang tingginya hampir sama sepertiku berjalan menuju Masjid Kauman yang hanya berjarak puluhan meter dari tempatku mengintip sekarang. Baju mereka bagus. Keduanya memakai baju putih-putih dan kupluk sewarna. Hmmm...aku ingin sekali punya baju seperti yang dipakai anak Pak Rahmat. Sudah berkali-kali aku meminta maaf pada Allah karena selalu bertamu dengan baju dan tubuh yang super bau. Tapi, mau bagaimana lagi? Cuma ini yang aku punya.
Padahal aku  sudah berkali-kali matur pada Bu Nyai, ingin dibelikan satu stel baju lagi. Kalau Bu Nyai ingin aku memakai baju yang sekarang untuk 'dinas', bolehlah. Tapi, saat bertamu pada Allah aku ingin sekali tidak memakai baju ini. Mbakku lebih beruntung daripada aku. Di lemari masjid ada beberapa rukuh bersih meskipun warnanya sudah putih semu-semu krem. Setidaknya lebih wangi daripada bajuku. Apa Allah tahu bahwa di dalam rukuh bersih itu ada baju kotor yang menempel di tubuh mbakku? Kata mbakku,"Mesti Allah yo ngerti."

Aduuuuuuuuuuuhhhh....ini nih yang paling aku tak suka kalau sedang musim hujan. Aku gampang kebelet pipis. Padahal tadi sebelum 'ashar aku sudah pipis. Aduuuuhh...tak nyaman sekali rasanya. Sudah tak bisa ditahan.
            "Mbaaaaaaaaaakkkk...." aku memegang bagian bawah sambil meringis menjunjukkan gigi-gigi gupisku.
            "Nang kene wae." mbakku cepat-cepat menyodorkan baskom yang ia ambil dari rak piring.
            "Emoh, ora ono banyu kok. Ora biso wawik." kataku sambil menahan rasa tak nyaman ini.
Mbakku segera mencari air di teko-teko yang berjejer di atas meja. Tapi tak ada setetes pun. Kosong.
Aku masih ingat waktu mbakku mengatakan bahwa kalau aku mau ketemu Allah, badanku harus suci dulu. Tidak boleh ada cipratan pipis, ee', darah, dll. Selain itu juga harus wudhu dulu supaya debu-debu dan kotoran yang aku bawa dari jalanan bisa hilang terguyur air. Nah, kalau aku tidak wawik, artinya di celanaku pasti ada cipratan pipis. Itu artinya aku tidak bisa ketemu Allah setelah ini? Ini celana satu-satunya yang aku punya.
Allah, aku ingin ketemu Engkau selalu di setiap saat Engkau mengundangku.
Srreeeettt....
Kutarik kursi yang mengganjal pintu dapur. Lantas aku berlari sekencang-kencangnya menuju kamar mandi masjid. Mbakku berteriak sejadi-jadinya. Aku yakin pasti Pak Polisi juga mendengar teriakannya. Sayang, tangannya tak sempat menahanku untuk tetap bertahan di dalam dapur Kawedanan. Sepintas aku melihat Pak Polisi pada jarak sekitar sepuluh meter dari tempatku berlari, lantas menjauh dan lebih jauh lagi. Benar saja. Ia mengejarku sambil meniup peluit panjang-panjang.
Ah, biarlah jika pentungan di tangan kanannya melayang di tubuhku lagi. Sepertinya, kena pentungan untuk keempat kalinya boleh juga, satu lagi dapat piring cantik nih aku.
Hap! Hampir saja tangan Pak Polisi berhasil memegang tanganku. Alhamdulillah pintu kamar mandi sudah kututup dulu.
Yes!
Ah, leganyaaa...
Pak Polisi berkali-kali menggedor pintu kamar mandi. Biarkan.
Allohuakbar allohuakbar...
Suara Pak Rahmat menggema di seluruh langit Gombong. Allah mengundangku lagi.
Pelan-pelan aku naik di bibir bak kamar mandi sambil berpegangan pada dinding berlumut. Dari ventilasi aku lihat Pak Polisi gendut yang tadi mengejarku kini sedang duduk di serambi masjid sambil melepas sepatu hitanya bersama Pak Polisi lainnya. Segera mereka ikut antre bersama bapak-bapak lain di tempat wudhu. Orang-orang jahat, ups! Orang-orang sangar itu ternyata tamu Allah juga.
            "Amaaaaannnn..." pikirku.

Catatan :
Sego kucing : nasi bungkus
Rongatus : dua ratus
Mlayu : lari
Grendel : kunci
Mesti Allah yo ngerti, : Patsi Allah ya tahu.
Nang kene wae : di sini saja
Emoh, ora ono banyu kok. Ora biso wawik. : Tidak mau, tidak ada air. Tidak bias cebok.