This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 12 Juni 2010

AKU DAN KARESHA

Buah anggur yang sudah matang, rasanya manis. Nah begitulah kisah persahabatanku dengan salah seorang teman yang baru kukenal ketika duduk di bangku SMA. Manis sekali dirasakan walaupun umurnya belum genap satu bulan. Bagaimana tidak, kami barasal dari satu daerah, tepatnya satu kabupaten. Karena aku sekolah di luar kota, maka sangat jarang kudapati teman satu daerah. Kesempatan emas bagiku, karena biasanya sangat sulit memiliki teman akrab di lingkungan baru. Kebanyakan yang lain sudah menggerombol dengan teman-teman nya sejak SMP. Apa nggak bosan? Kupikir.
Namanya Echa. Hitam manis kayak kecap, bulu matanya lentik hampir membentuk huruf U ke atas, bibir bawahnya terbelah menjadi dua bagian yang sama dan sebangun. Keriting rambutnya yang kayak bakmi spiral sepanjang lehernya tertutup kerudung kecil bertali khas miliknya. Perbedaan yang sangat mencolok bila sedang bermain, berjalan, bahkan ngobrol denganku. Tidak hanya aku yang merasakannya. Tapi jelas nyata sekali bila dilihat teman-teman yang lain juga.
Echa seperti sosok bodyguard-ku. Bagaimana tidak, kalau setiap ada yang menggodaiku atau hanya sekedar mengejekku ringan ketika kami berjalan bersama, Echa lah yang melawan. Pernah ketika kita sedang lari mengelilingi lapangan di luar sekolah, ada segerombolan siswa STM yang mengejek jilbab yang kukenakan. “Mbak, Mbak… tu jilbab apa seprei kasur? Kok lebar nian???”
“Heh !!! Berani maju sini lu!!! Lu pikir seragam lu tu nggak kayak keset kamar mandi???” tantang Echa. Jika memang sudah keterlaluan, Echa bahkan benar-benar menendangnya.
“udaaaah jangan mewek!” Begitu setiap kali setelah menolongku pasti dia menghiburku. Terasa sangat cengeng sekali aku dibandingkan dengan dia yang memiliki kepribadian tangguh.
Iya, Echa adalah orang yang pertama kali membelaku ketika aku kesulitan atau mengalami gangguan pada sistem.
Bahkan pada saat yang sangat mendesak, Echa sering muncul tanpa kuduga. Ketika seusai les kimia di rumah guru, aku sudah kehabisan angkutan karena pulang kesorean. Dan tanpa sengaja aku berpapasan dengan Echa di depan rumah guru kimia kami tadi. Seperti biasa yang kulihat Echa sahabat tomboy-ku menaiki sepeda motor matic hitamnya. Aku diantar sampai rumah, dan seperti biasanya pula Echa tidak mau kuajak masuk ke dalam rumah. “Salam saja ya buat keluarga!, maaf aku nggak bisa mampir.”
“Lili, bisa-bisanya akrab sama Echa ya? Padahal kayak bumi dan lagit.” Ku dengar salah seorang dari segerombolan anak sekelasku yang kebetulan melihat kami berjalan sehabis dari koperasi sekolah. Ah, apa sih artinya perbedaan antara bumi dengan langit? Bukankah itu artinya adalah perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin? Aku pernah membaca biodata yang dikumpulkan pada wali kelas kami Pak Dedi bahwa Echa memiliki kendaraan rumah berupa mobil. Sedangkan aku setiap pagi dan siang harus berdesak-desakan di dalam angkot atau bus mini ombrengan bercampur dengan berbagai macam penumpang lain dari berbagai tempat. Ada yang dari sawah naik bus, ada yang dari pabrik rokok, pasar hewan, kantor, sekolah, de el el. Aku sangat menikmati saat-saat itu. Ketika aku merasa tidak sendirian karena ada beberapa temanku yang juga berdiri berdesakan di sana.
Namun perlu diketahui karena perbedaan yang kurasa sangat mencolok diantara kami adalah karena Echa sangat tomboy meskipun kita sama-sama berjilbab. Echa jauh lebih tinggi dan lebih semampai. Yang kurasa sangat aneh dari pembawaannya adalah dia berperilaku dan berpenampilan sangat tomboy namun auranya sangat lembut.
Sesekali Echa merengek ingin ikut naik bus katanya. “Bosan dari pagi sampai malam naik motor terus!” celetuknya. Sempat terlintas perkataan aneh, namun tak kuteruskan untuk nenelusuri perkataan mana yang aneh tadi. Bahkan aku melupakan dan melanjutkan bercerita dengan topik yang lain.
Sebulan dua bulan dan kini tiga bulan kami telah melewati hari-hari belajar di SMA. Echa sangat berbeda dengan teman-temanku yang lain. Sama sekali tidak pernah meributkan tugas, tidak pernah mengeluh tentang banyaknya tugas yang diberikan guru. Padahal pagi nya ketika kutanya, “Apakah sudah mengerjakan?” Dengan wajah memelas dia menjawabnya, “Belum Li, aku nggak sempat. “
Tugas yang waktunya satu minggu saja dia belum mengerjakan, apalagi yang waktunya satu hari??? “Ni, aku sudah ngerjain. Cepetan disalin! Nanti dikumpulkan jam pertama.” Aku menyerahkan pekerjaan rumahku karena aku sama sekali tidak ingin nilainya jelek seperti biasanya. Sangat disayangkan ketika nilai PR saja jelek. Padahal nilai itu membantu nilai ulangan yang lain.
“Makasih ya Li, contekannya…” seperti biasanya dia hanya mengatakan terimakasih, thanks, maturnuwun, arigato, sampai-sampai aku hapal apa yang akan dia katakan setelah meminjam buku catatan, PR, dan kertas tugasku. Setelah itu, tidak ada lagi tanggapan dariku. Bahkan rasanya belum pernah menanyakan mengapa tugasnya tidak pernah beres.
Lama-lama aku bosan dan kesal apabila harus memberikan jawaban tugas, PR, dan catatanku padanya. Buat apa aku memperhatikannya, padahal dia sendiri seperti sama sekali tidak membutuhkan nilai.
Teman-teman sekelasku mulai banyak yang menanyakan mengapa sekarang aku jarang makan bersama Echa di kantin. Echa lebih sering diajak Wiwin kemana-mana. Bahkan kudengar Echa pernah menginap di rumah Wiwin karena ada masalah dengan orangtuanya.
Huh! Wajar saja orangtuanya kesal jika anaknya malas sekali belajar. Dalam hati aku mulai mengatakan yang tidak-tidak tentang Echa. Sampai pada suatu saat guru sosiologiku memberikan tugas kelompok yang beranggotakan empat anak setiap kelompoknya. Kelompok pertama dibacakan, “Alwina Rumila, Bastian Santosa, Karesha Gandhi, dan Liliaviaska.” Namaku disebutkan setelah Echa. Sial sekali aku harus bekerja dalam satu kelompok dengan anak-anak malas seperti Bastian dan Echa?
“Kapan kita mau mulai mengerjakan proyek sosiologinya? Tolong secepatnya saja ya, biar cepet kelar. Tau sendiri kan, aku nggak suka sosiologi dan segala bentuk mapel yang bersifat hapalan kayak gini?” Alwina alias Wiwin yang kukenal sangat menyukai sains meributkan agar ia dengan cepat tidak lagi berurusan dengan proyek ini. Wajar saja menurutku kalau dia alergi ketika mendengar istilah sosio cultural, lapisan masyarakat majemuk, dan sebagainya. Dan sebaliknya wajahnya akan berubah sangat ceria bila mengajaknya berkunjung ke laboratorium kimia walaupun hanya sekedar mengembalikan spatula yang tak sengaja ikut kumasukan ke dalam tas sehabis praktikum. Kebiasaan burukku memang suka dengan tidak sengaja memasukan perangkat laborat ke dalam tempat pensil atau tas. Pernah suatu ketika aku menemukan kaki tiga di dalam tas ku.
“Lu tu sabar dikit Win, tema yang mau kita bahas dan teliti aja belum nemu, kok mau selese tu dari Hongkong? Kecuali kalo kita milih tema reproduksi manusia, atau larutan asam basa, nah itu mungkin lu ngebut.” Keluh Bastian.
Setelah seminggu lamanya kami merundingkan tema, akhhirnya tema yang terpilih adalah “Kemajemukan Kultur yang Mempengaruhi Perkembangan Watak Manusia Sebagai Anggota Masyarakat”, hasil usulanku. Terkesan sangat menarik bagiku karena aku menyukai ilmu-ilmu psikologi. Terkesan menyenangkan bagi Bastian karena terlihat dia senyum-senyum sendiri ketika menyambut kata-tema itu disebutkan. Terkesan sangat mengerikan bagi Alwina karena tabir hitam kelam menutupi otaknya ketika mendengar tema yang kuusulkan tadi. Dan terkesan biasa-biasa saja bagi Echa. Masih seperti Echa yang dulu, yang santai sekali menghadapi tugas berat semacam proyek ini sekalipun.
Untuk mempercepat waktu, akhirnya kita bagi tugas. Sepakat semua bahan harus terkumpul satu minggu dari hari ini. Semua setuju, namun aku masih saja meragukan apakah Echa mampu menyelesaikannya atau tidak.
Seminggu telah berlalu dan kami bersepakat untuk berkumpul di rumah Echa untuk membahas proyek sosoilogi itu. Sudah hampir pukul tujuh belum kulihat Echa datang. Masalahnya, sejak kemarin dia tidak berangkat. Mulailah prasangka burukku tentangnya.
Aku menceritakan semua yang hal tentang Echa yang kuketahui pada Wiwin. “Aku yakin Win, kalo hari ini Echa sengaja nggak berangkat. Dia pasti takut ditagih tugasnya. Sebelimnya aku memang sugah ragu apakah dia bisa menyelesaikannya atau tidak. Benci !!! sebel!!! Sama yang namanya Echa, Win! Kalo gini caranya bisa hancur nilai proyek akhir kita. Gilmana kalo hanya kelompok kita yang dapat nilai E ? lagian kamu tau nggak Win, kalo selama init tu Echa !@#$%^&*()_++_)(*&^%$#@!” Saking kesalnya aku ceritakan semua tentang Echa.
“Sabar Lili… mending nanti kita dating saja ke rumah Echa buat memastikan. Bisa saja dia memang sakit hari ini, iya kan?”
Untuk menghilangkan rasa kesalku, aku berniat pergi ke perpustakaan umum di dekat alun-alun kabupaten. Biasanya apabila sedang bosan dengan pelajaran, aku dan Echa berboncengan menuju perpustakaan. Dan sesampainya di sana kami suka sekali membaca komik-komik jepang seperti Konan.
Dengan segera kuraih bebarapa komik dari rak dan kubawa di meja baca sambil aku duduk di antara sekelompok anak-anak kecil yang kutebak masih SMP. Kuletakkan tumpukan komik yang kubawa di atas meja, dan dengan mantap duduk di kursi sambil melepas lelah karena tadi menuju ke sini berjalan kaki. Tanpa Echa, tidak ada yang memboncengiku. Sedih juga kalau sedang kesepian seperti ini.
Terasa ada yang aneh karena kulirik sekelompok anak SMP tadi seperti menertawakanku. Mereka cekikikan yang aku tidak tau alasannya. Cuek sajalah, paling ditertawakan anak kecil…
Lama-lama risih juga melihat dan mendengan cekikikan anak-anak kecil. Aku bangkit dan berniat untuk pindah tempat. Ketika aku berdiri, rok abu-abu ku tetap menempel pada kursi yang kududuki. Ops… ternyata ada permen karet yang menempel. Geram sekali rasanya dan aku ingin segera memukul, menjitak, menendang, dan kuadukan pada orangtuanya. Aku ingin memarahinya habis-habisan. Tapi yang keluar justru air mata. Iya, aku menangis… kaku, malu sekali dilihati banyak orang. Seisi perpustakaan menjadi tau kejadian ini karena sekelompok anak SMP tadi tertawa dengan sangat kencang. Di tambah mereka tau kalau mataku mulai berkaca-kaca. “Echaaaaaaa……” ingin sekali aku berteriak meminta pertolongan dari sahabat bodyguard-ku. Namun mulut ini terlalu kaku untuk memanggil nama si tomboy. Malah semakin sesak dada dan perih sekali tenggorokanku.
Aku lari meninggalkan ruang baca tanpa sempat kukembalikan komik yang belum selesai kubaca, menuruni tangga, keluar dari pintu hingga sampailah di depan jalan raya. Aku bingung ingin menumpahkan kekesalanku pada siapa. Dan baru kusadar, ternyata aku merindukan si tomboy yang melindungiku. Tanpa kupikir dua kali, aku berlari menuju rumah Echa.
Setibanya di depan rumah, aku menemui banyak tamu yang datang dengan membawa bingkisan tas mirip oleh-oleh hajatan. Dengan sangat gugup kutanyakan pada seorang wanita kira-kira lebih tua tiga tahun denganku yang sedang membugkusi nasi pada besek selamatan.
“Maaf mengganggu Kak, bisa saya bertemu Echa? Saya temanya.”
“Oh iya Dek, Echa sedang sakit. Temui saja di kamrnya, dia sedang tiduran.”
“Iya Kak, terimakasih. Oiya kak, kalo boleh tau ini lagi mengadakan acara apa ya Kak?”
“Ini acara rutin khol kalau bahasa jawa. Kalau bahasa kerennya sih berarti acara peringatan ulangtahun meninggalnya seseorang.”
“Memang siapa yang sudah meninggal Kak? Kakeknya Echa ya?”
“Bukan kakeknya Dek, tapi ayahnya.”
“Apa???” aku sangat terkejut sekali mendengarnya. Echa tidak pernah cerita apa-apa kalau selama ini dia sudah tidak mempunyai ayah. Rasa penasaranku bertambah sehingga aku ingin lebih banyak lagi mencari tau tentang hal ini. Kutanyakan apa saja tentang Echa pada Kakak tadi.
Echa sahabatku yang memiliki sifat tomboy itu adalah dikarenakan dia terbiasa menggantikan sosok ayah di keluarganya. Dia terbiasa melindungi ibu dan kedua adik nya yang masih kecil-kecil sehingga dengan aku pun dia sangat protective. Auranya yang lembut tertutup oleh sifat gagah pemberani sejak usianya tujuh tahun. Aku sangat menyesal tadi pagi sudah mengatakan hal-hal buruk tentangnya pada Wiwin. Mengapa dia terlihat santai dan sama sekali tidak pernah uring-uringan dengan nilai? Ternyata karena ia disibukkan oleh pekerjaannya. Pekerjaan sebagai tukang ojek. Iya, tak bisa kubayangkan malam-malam remaja berjilbab seusianya mengendarai sepeda motor memboncengkan orang yang sama sekali tak dikenalinya. Aku sangat terpukul mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tak sabar ingin aku memeluk dan menangis di hadapannya menyesali sifat kekanak-kanakanku terhadapnya. Aku yang tidak ikhlas ketika memberikan jawaban tugas sekolah atau hanya sekedar meminjaminya buku catatan.
Segera aku menuju kamar di sebelah kanan ruang TV. Kudapati Echa sedang berbaring. Aku duduk di sampingnya, dan dia terbangun. Matanya terbuka memandang ke arahku. Belum sempat ku tanyakan apa-apa, dia mengisak dengan sangat kencang. Tangannya meraih tanganku tanpa mengubah posisi tidurnya. Dia hanya mengatakan, “Maaf sahabatku… aku tidak bisa melindungimu lagi…”
Jilbabnya sudah sangat basah dibanjiri air mata, tanpa bisa mengucapkan kalimat yang lain.
Kubiarkan hingga ia menenang di pelukanku sampai punggungku pegal karena aku-lah yang harus membungkuk ke arah dia tidur. Kutunggu sampai dia bisa bangkit duduk memelukku seperti biasanya ketika melihat mataku mulai berkaca. Ternyata tidak, Echa tidak juga bangkit karena tubuhnya masih sakit dan kaku. Kakinya lumpuh karena kecelakaan dengan motornya ketika sudah malam dia terburu-buru pulang agar bisa mengikuti ngaji yasin-tahlil untuk almarhum ayahnya di rumah. Si bodyguard-ku tidak bisa lagi menendang segerombolan cowok STM ketika megejekku pada jam pelajaran olahraga. Karena jam olahraga pun dia hanya melihat ku jauh dari tepi lapangan. Si sopir yang biasa mengantarkan ku ke perpustakaan umum dengan sepeda motor matic favoritku kini hanya bisa kudorong di atas kursi roda. Namun Si tomboy beraura lembut yang selalu menghibur ku akan tetap dan selalu ada. Karena dia menghibur sekaligus menguatkanku saat aku sedih adalah dengan hati, bukan fisik. Dengan hatinya yang gagah tapi lembut.
Sekarang, kami berpisah karena aku harus pindah ke luar kota untuk kuliah. Sedangkan Echa ke luar jawa bekerja mengajar anak-anak penyandang cacat. Di usianya yang masih 19 tahun, aku masih sangat kekanak-kanakan namun dia sudah sangat dewasa. Bahkan tanpa kuliah dia mampu menjadi seorang pendidik anak-anak cacat.
Kulihat dari foto melalui internet, dia sudah menjadi seorang akhwat berjilbab lebar, duduk di kursi roda, dan dikelilingi oleh anak-anak penyandang cacat muridnya. Echa adalah satu-satunya sahabat yang namanya masih sangat hangat di hatiku. Dan kujaga kehangatannya sebagai motivasi syukur-ku pada Illahi Rabbi.


Septianing Tyas
4101409134
Matematika-FMIPA

(Cerpen urutan ke -9 dalam lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

Kamis, 10 Juni 2010

BILA ESOK TAK KEMBALI

Aku duduk sendirian di bangku panjang ini. Saat senja mulai menguning. Saat biasnya yang kuning keemasan menerpa wajahku. Untuk sesaat kedua mataku terpejam. Mencoba merasakan belai angin yang semilir.
Tiba-tiba kenangan itu kembali menguak dalam ingatanku tanpa bisa kucegah. Berkelebat tak menentu dalam ruang pikirku. Ya, sebuah kenangan yang tak terlupakan olehku. Dan sepertinya, tidak akan pernah bisa kulupakan. Selamanya. Karena kenangan itu begitu indah. Kenangan akan seorang perempuan. Perempuan terindahku.
***
Aku tak pernah berhenti memandangi murid baru itu. Wajah putihnya yang agak oval, dipadu dengan lesung pipit kecil di kedua pipinya, serta tutur lembut katanya ketika memperkenalkan diri, benar-benar membuatku terpana. Satu lagi, dan ini yang paling membuatku aneh, aku tertarik dengan seorang perempuan berjilbab.
Dari sekian nama perempuan yang pernah terdaftar sebagai pacarku sebelumnya, belum pernah ada seorangpun dari mereka yang memakai tudung kepala seperti itu. Tapi kenapa dengan yang satu ini? Ah, masa bodoh. Kalau memang suka, ya suka saja.
”Bangku kamu ada di deretan kedua dari belakang. Kamu duduk dengan...” Bu Ayu, guru bahasa Indonesiaku, tampak bingung untuk menentukan posisi duduk si murid baru itu. Hanya ada dua bangku kosong sekarang, di sebelahku dan satu lagi di sebelah Lisa, siswi berkacamata dan berkawat gigi yang tak pernah ada di dalam orbit pandanganku. Perempuan seperti itu hanya membuat sesak kelas ini.
”Duduk saja denganku.” kataku kemudian, dengan nada yang meyakinkan tentu saja. Meyakinkan untuk segera menjadikannya sebagai pacarku yang ketigapuluh tiga. Dia pasti mau. Pasti!
”Bagaimana, Azizah?” tanya Bu Ayu lagi.
Azizah, murid baru itu, sesaat melihatku. Tapi segera setelahnya dia berpaling dan meminta izin untuk duduk dengan... Lisa.
”Saya duduk dengan Lisa saja, Bu. Lebih nyaman kalau sesama perempuan.” kata Azizah kalem. Lagi-lagi ada desir halus di dadaku ketika kudengar suaranya.
Penolakan itu membuatku kecewa. Sepanjang sejarah hidupku, tidak pernah ada perempuan yang menolak duduk di sampingku. Dan kalau ditanya kenapa aku sekarang duduk sendirian, itu karena aku sendiri yang menginginkannya. Aku tidak selevel dengan mereka yang tergolong ’Kasta Sudra’. Aku hanya ingin duduk dengan sesama ’high-class level’. Tapi sayang, sekolahku ini hanya sekolah negeri biasa. Sekolah yang penuh dengan ’murid beasiswa’. Aku tak pernah ingin sekolah di sini. Itu semua kulakukan untuk menyenangkan kedua orang tuaku saja.
”Sial!” rutukku dalam hati. Beberapa siswa tertawa sinis melihat kejadian ini. Kejadian yang meruntuhkan predikatku sebagai ’cowok yang tidak pernah ditolak oleh cewek seumur hidup’.
Darah yang mengalir di tubuhku seakan mendidih. Letupan amarahku padanya hanya bisa kutahan. Bagiku, ini merupakan sebuah penghinaan besar. ”Lihat saja nanti. Kau akan bertekuk lutut menjadi pacarku.” batinku.
***
Nama lengkapnya Azizah An-Nadhifah. Anak pertama dari tiga bersaudara. Ketika ada waktu senggang di sekolah, dia suka membaca Al-Qur’an atau buku-buku Islami lainnya. Warna favoritnya biru muda. Dia tidak suka makanan yang terlalu pedas. Selalu tersenyum kepada teman-teman yang lain, termasuk kepadaku. Hampir selalu bersama-sama dengan siswi yang lain ketika jajan atau pergi ke perpustakaan. Sejauh ini baru itu yang kuketahui. Lalu, kalau dia tidak pernah sendirian, kapan aku bisa mendekatinya?
Dan yang paling menyebalkan dari info selanjutnya yang kuperoleh adalah bahwa ternyata dia memilih ekskul Kerohanian Islam (Rohis).
”Benar-benar memuakkan! Perempuan sok alim. Sok suci. Ikutan rohis segala. Rencanaku bisa gagal total kalau seperti ini jadinya.” ucapku pada diriku sendiri.
Sedikit banyak aku tahu bagaimana peraturan untuk aktivis rohis di sekolahku. Tiga yang paling kubenci, yaitu : pertama, tidak boleh berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram; kedua, tidak boleh menyentuh lawan jenis yang bukan mahram; dan yang ketiga tentu saja tidak boleh pacaran!
Akan jadi apa duniaku kalau peraturannya seperti itu? Tapi entah kenapa hatiku ini benar-benar menginginkannya. Azizah begitu istimewa di mataku. Aku tak pernah bisa melupakan senyuman pertamanya untukku. Lalu, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkannya?
***
Mungkin cahaya mentari itu akan selalu kurindukan
Ketika tiba saatnya aku tak bisa menikmatinya
Dan jutaan kerlip bintang pada malam-malamku
Akankah kiranya mereka menjadi saksi bisu
Bila esok tak kembali untukku...
Azizah An-Nadhifah
Aku tercengang melihat sebait puisi yang tercantum di mading sekolah pagi ini. Bukan hanya karena kata-katanya yang indah menurutku, tapi juga sang penulis yang tak lain adalah perempuan berjilbab itu, Azizah.
”Apa maksud puisi itu?” gumamku. Kurasakan ada makna yang tersirat dari sebait puisi indah itu. Makna yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan kini dia benar-benar telah mencairkan hatiku. Hati yang selama ini beku. Hati yang tak pernah mengenal arti keindahan. Hati yang ingin mencari sesuatu yang sejati. Sesuatu yang abstrak tapi juga sangat nyata. Sesuatu yang kuyakini sebagai cinta.
Hari ini juga aku ingin menemuinya. Saat pulang nanti akan kutanyakan apa maksud puisi itu. Memang aneh sekali rasanya. Aku yang tak pernah menyukai segala bentuk sastra, tiba-tiba terpaut dengan sebait puisi itu. Dan tak akan kupungkiri lagi kalau hatiku juga telah terpaut olehnya. Terpaut dengan segala keindahan yang dimilikinya.
***
Aku bersandar pada salah satu dinding di sepanjang koridor sekolah, menunggunya dengan penuh harap. Dan tak berapa lama, Azizah terlihat olehku. ”Tapi, kenapa dia tidak menuju gerbang sekolah? Apa dia tidak langsung pulang? Mau kemana dia?” Pikiranku berkecamuk seketika.
”Azizah!” panggilku kemudian. Aku beranikan diriku untuk menghampirinya. Azizah sedang berjalan sendirian. Inilah kesempatan baikku untuk mendekatinya. ”Bisakah kita ngobrol sebentar?” tanyaku.
Azizah melihat kanan-kirinya. Sekolah sudah sepi. Mungkin anak-anak rohis sudah berkumpul di musholla sekolah. Dia nampak menghela nafas. Panjang dan dalam. Seakan penuh beban.
”Saya ada kajian sore di musholla. Apakah bisa ditunda besok?” lanjutnya. Kata-katanya begitu lembut sekalipun dia tak menatapku secara langsung dengan kedua bola matanya.
”Kalau aku ikut kajian itu, apakah pulangnya kita bisa ngobrol?” runtutku lagi. Azizah mengerutkan keningnya. Mungkin dia bingung kenapa orang sepertiku ini mau ikut kegiatan seperti itu.
”Boleh. Tapi jangan berdua ya karena...”
”Karena yang ketiga adalah setan. Betul, kan?” potongku sambil tersenyum.
Azizah tertawa kecil. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Entah apa artinya. Tapi aku senang bisa membuatnya tertawa. Sesaat kemudian dia melangkah menuju musholla. Begitu pula denganku. Aku mengikutinya dari belakang. Tentu saja dengan jarak yang agak jauh. ”Untuk menghindari fitnah,” katanya dengan tegas. Aku mengiyakan perkataannya.
Sekarang aku tak peduli lagi siapa diriku sebelum bertemu dengannya. Seberapa angkuh dan sombongnya diriku dulu. Seberapa buruknya kelakuanku saat dia belum ada di sini. Aku tak peduli dengan semua itu karena aku ingin berubah. Tentu saja berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi. Azizah menyebutnya sebagai ’ikhwan sejati’.
***
Aku banyak merenung sendirian di kamarku setelah mengikuti kajian sore itu. Ada cahaya yang memasuki dunia gelapku. Cahaya yang menyadarkanku akan arti hidup. Tentu saja arti hidup dalam Islam.
”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya...”
Ucapan guru agama itu terus terngiang di telingaku. Dan tak terasa air mataku telah mengalir turun dari kedua pelupuk mataku. Apa yang telah kuperbuat selama ini? Adakah aku telah bermanfaat bagi orang lain?
Terbayang dalam ingatanku semua keburukan yang telah kulakukan pada kedua orang tuaku, teman-teman di sekolah, dan pada semua orang yang sakit hati karena sikapku.
”Maafkanku, ya Robbi...” ucapku terbata-bata pada-Nya.
Malam ini tak tampak kerlip bintang di langit. Hanya nampak awan-awan kelam beriringan di lazuardi yang semakin gelap. Aku terhenyak. Aku lupa menanyakan makna puisi itu pada Azizah. Tapi tak apalah. Toh dia telah mengajariku sesuatu yang sangat berharga. Seberkas cahaya Islam.
***
Ku tak pernah mengharapkan adanya senyawa itu
Sebab kutahu tak akan ada lagi kesempatan untukku
Berjanjilah padaku kau tak akan menyesal
Meski mungkin nanti kita akan berpisah
Bila esok tak kembali untukku...
Azizah An-Nadhifah
Lagi. Sebait puisi dari Azizah terpajang di mading sekolah. Puisinya tercantum di kolom khusus artikel Islam. Dan baru kusadari sekarang kalau dia tidak masuk kelas. Kata temannya, dia sedang sakit. ”Ada apakah gerangan dengan dirinya?” batinku kalut.
Sepanjang hari ini pikiranku hanya terbayang akan dirinya. Tak kuperhatikan semua penjelasan dari guru. Walau kutahu ini tidak boleh dalam agama, tapi aku benar-benar tidak bisa menghapus sinar wajahnya. Aku ingin melihatnya setiap hari, setiap saat. Ketika dia tersenyum, maka akupun akan ikut senang. Tapi, kalau sekarang dia sakit, apa jadinya diri ini tanpanya?
Kutulis beberapa baris puisi. Aku tak tahu darimana kata-kata ini berasal. Karena untaian kata itu meluncur begitu saja melalui goresan penaku. Tentang perempuan yang telah menawan hatiku.
Tuhan, kutahu ada aturan antara laki-laki dan perempuan. Namun sekali ini kumohon pada-Mu. Berikanlah dia untukku. Aku janji tak akan menduakan dzat-Mu.
Bila esok tak kembali untukmu
Tak akan pernah kubiarkan siangmu berlalu
Agar kau tahu bahwa ku di sini untukmu
Menemanimu sampai akhir waktu
Bila esok tak kembali untukmu
Perkenankanku temani setiap malam bersamamu
Meminta bintang untuk menyampaikan pesanku pada-Nya
Bahwa kuingin berada di sisimu selamanya
Kau terangi gelap hariku
Kau ajariku Islam dengan senyum lembutmu
Dan bila esok tak kembali untukmu
Akankah esok juga tak kembali untukku?
Faris Hasan
Siang ini kuniatkan menuju rumahnya. Sekadar ingin tahu keadaannya dan juga keluarganya. ”Semoga dia tidak salah paham dengan kedatanganku.” ucapku pelan.
***
Rumah itu sepi. Aku telah berulang kali mengetuk pintu dan menguluk salam. Tapi tidak ada yang menyahut dari dalam. Aku tengok kaca pintu dan jendela. Nihil. Semuanya tertutup rapat dengan gorden.
”Mas, cari siapa?” tanya seorang kakek yang kebetulan lewat di depan rumah itu.
”Saya cari seseorang yang bernama Azizah.” ucapku sopan pada orang tua itu.
”Azizah? Gadis berjilbab panjang itu?” tanya kakek itu lagi. Aku menganggukkan kepalaku pertanda mengiyakan ucapannya.
”Wah, kau telat, Nak. Tadi pagi dia dilarikan ke rumah sakit di dekat sini. Penyakitnya kambuh lagi.” ujarnya.
”Penyakit? Penyakit apa, Kek?” Aku tidak mengerti. Apa sakit ini yang membuatnya tidak berangkat sekolah? Padahal beberapa hari yang lalu dia kelihatan baik-baik saja.
Tapi kuyakin penyakitnya tak akan separah tumor atau...
”Kanker darah. Dia divonis Leukimia, Nak.” Kakek itu lalu pergi begitu saja. Meninggalkanku yang terkulai lemah di teras rumah. Tulang-tulangku seakan mati rasa. Lidahku kelu. Kepalaku pusing tak karuan.
Puisi itu, segala aktivitasnya di sekolah, penyakitnya, dan semua hari-hari yang dilewatinya dengan penyakit separah itu... Aku tak percaya sama sekali. Aku tidak ingin percaya! Dia tidak boleh meninggalkanku sendiri. Aku masih membutuhkannya.
Tuhan, berikanlah esok untuknya agar aku masih bisa melihat senyumnya. Sekalipun hanya satu kali ini saja...
***
Sudah lima hari Azizah dirawat di rumah sakit. Dia menjalani cuci darah dan kemoterapi. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Dan sekarang aku tidak bisa berlama-lama memandangnya.
”Lelaki yang menjaga pandangannya itu lebih disukai Allah...” kata Firdaus, teman baruku di rohis.
Aku sungguh beruntung mempunyai teman seperti Firdaus dan mereka yang menjadi aktivis rohis di sekolahku. Mereka selalu mengingatkanku, membantuku agar aku bisa tetap lurus dalam jalan ini.
Aku ingin benar-benar kaffah sebagai seorang ikhwan. Aku ingin menjadi ’ikhwan sejati’ seperti yang dikatakan Azizah. Bukan untuknya, tapi untukku sendiri karena kuingin Allah mengasihiku juga.
Kini, semenjak kuberikan puisiku padanya, dia semakin menjauh. Teman-teman di rohis pun berusaha membuat jarak antara kami berdua. Aku tahu puisi itu terlalu terus terang untuknya. Tapi apakah salah kalau aku menyatakannya dengan cara seperti itu?
Siang ini aku masih menunggui Azizah di luar ruang kemoterapinya. Tentu saja bersama beberapa teman lainnya.
”Nak Faris?” ucap ibunda Azizah begitu keluar dari ruangan.
”Saya, Bu. Ada yang dapat saya bantu?” Aku berdiri menyambut sosok setengah baya itu.
”Ada titipan dari Azizah. Bacalah saat pulang nanti. Saat perasaanmu benar-benar tenang.” imbuhnya.
Aku menerima secarik kertas itu dengan penuh tanda tanya.
”Apa maksud dia memberiku surat? Dan kenapa harus dibaca saat pulang nanti? Saat perasaan benar-benar tenang?” pikirku dalam hati.
Semoga ini hal yang baik. Itu saja harapanku.
***
Assalamu’alaikum Wr Wb
Saat kau menelisik apa yang kutulis untukmu
Mungkin aku sudah pergi jauh ke sana
Ke tempat di mana ada secercah harapan
Untuk kehidupan sementaraku
Dan bila memang esok tak kembali lagi untukku
Bukan berarti esok tak kembali untukmu
Karena kita punya kehidupan sendiri
Untuk kita jalani
Kutahu pasti ada yang berubah darimu
Tapi jangan kau niatkan untukku
Sebab itu bukan makna cinta
Tapi hanya sebatas perubahan yang sesaat
Ku tak butuh itu darimu
Yang kuingin lihat hanya ketulusanmu
Semoga kau bahagia dalam hidup ini
Sampai mentari benar-benar tak bersinar lagi
Namun sebelum itu
Kuharapkan satu pertemuan dengan dirimu
Pada senja kedua puluh satu
Dari umurku
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Azizah An-Nadhifah

Kedua mataku berkaca-kaca membaca surat darinya. Perasaanku tak menentu. Sedih, kecewa, terharu menjadi satu. Ya, harapan itu masih ada. Dan aku akan berusaha untuk meraihnya. Sesulit apapun jalan itu, aku tak akan pernah menyerah. Karena kutahu, ada rencana yang indah dari-Nya. Bukankah Dia akan menjadikan semua indah pada waktunya?
Untuk perempuan terindahku, aku akan menunggumu. Akan kunanti senja kedua puluh satu itu. Sempatkanlah saat itu untukku. Meskipun hanya sebentar kau menemuiku.
***
Aku membuka kembali kedua mataku yang terpejam sesaat. Bias senja masih membelaiku dengan lembut. Senyum kecil tersungging di bibirku. Kuhela nafas dengan berat. Ah, kejadian tiga tahun lalu itu selalu tercetak jelas dalam ingatanku. Dan sampai saat ini aku masih menunggunya. Menunggu kedatangannya. Setiap senja kedua puluh satu...
”Kaukah itu, Faris?”
Aku menoleh ke belakang. Seorang perempuan berjilbab dengan kursi roda tampak di hadapanku. Di belakangnya, berdiri seorang laki-laki dan perempuan setengah baya. Mereka tersenyum padaku.
”A...Azizah? Benarkah apa yang kulihat saat ini?” Suaraku bergetar. Ternyata dia datang memenuhi janjinya. Janjinya untuk menemuiku.
Aku berjalan pelan menghampirinya. Kutangkupkan kedua tanganku di dadaku. Begitu pula dia. Lalu, aku menyalami ayah dan ibunya dengan takzim. Aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Ini nyata.
”Maukah kau berbincang denganku?” ajakku sembari menunjuk bangku panjang tempat dudukku tadi. Dia menganggukkan kepala. Tampak senyum manis yang selalu kurindukan itu. Meskipun kondisinya terlihat lemah. Aku harap dia baik-baik saja.
Ayah Azizah membantunya duduk di bangku itu. Aku pun mengikutinya dari belakang. Dia duduk di ujung bangku. Demikian juga denganku yang duduk di ujung bangku yang lain.
Ayah dan ibu Azizah agak menjauh dari tempat itu. Mungkin mereka ingin memberikan kesempatan kepada kami untuk saling berbicara.
Azizah ternyata tidak banyak bicara. Aku yang selalu bertanya padanya. Dan jawabannya pun selalu singkat, tapi penuh makna bagiku. Sampai akhirnya aku mengutarakan keinginan terbesarku padanya.
”Aku selalu memikirkan hal ini. Bukan hanya sehari, seminggu, atau setahun aku melakukannya. Tapi telah tiga tahun aku menyimpan keinginanku ini sendiri.” Untuk sesaat aku menahan nafas. ”Bila esok masih ada untukmu, maukah kau menikah denganku?”
Azizah tersentak. Kata-kataku seakan membuat nafasnya tercekat. Dia menatapku. Menatap lurus pada kedua bola mataku. Mungkin sedang berusaha mencari ketulusan atau kebohongan yang tersirat di sana.
”Aku bukan perempuan yang sempurna. Paling tidak aku tidak sempurna untukmu. Kau lihat sendiri bagaimana keadaanku. Tak berdaya di kursi roda.” ucapnya lemah.
”Apakah aku pernah peduli dengan itu? Dan sejak kapan kau mengeluh atas semua yang diberikan Tuhan? Apakah kau mulai berpikir picik, Azizah?” Aku menyusuri wajahnya yang kini mulai menunduk.
”Hatiku benar-benar telah mantap memilihmu. Dan aku tidak menemukan alasan sedikitpun kau menolak hal ini. Bukan juga alasan fisikmu itu. Karena aku tak peduli dengan itu. Aku menyukai hati dan keyakinanmu.”
”Meskipun mungkin esok tak akan kembali untukku?” tanya Azizah dengan suara yang mulai mengisak.
”Meskipun senja ini yang terakhir, dan esok tak kembali untukmu, aku tetap pada pendirianku. Maukah kau menikah denganku?” Aku mengulangi pertanyaanku lagi.
Aku tidak sedang mengkhayal, dan itu bukanlah bayangan kabur, ketika kulihat dia menganggukkan kepalanya. Ungkapan syukur segera kupanjatkan kepada Tuhan karena pada akhirnya Dia telah memberikan salah satu anugerah terindah-Nya untukku. Sekalipun mungkin esok benar-benar tak kembali untuknya.
Berjanjilah padaku kau tak akan menyesal
Meski mungkin nanti kita akan berpisah
Bila esok tak kembali untukku...

Muzaki Bashori
2201408113
Pend.Bahasa Inggris-FBS

(Cerpen ini berhasil menjadi peringkat ke-10 dalam Lomba cerpen Islami Sigma 1431H)

10 Besar Lomba Cerpen Islami Sigma 1431H

Assalamualaikum...
Berikut kami tampilkan 10 cerpen favorit yang akan diupload secara berkala dari peringkat 10 menuju peringkat 1. Kami dari panitia mohon izin dari pihak penulis untuk dapat mempublikasikan semua cerpen yang sudah masuk dalam database kami dimana saja dan kapan saja. Mohon maaf kami sampaikan dari panitia Lomba Cerpen Islami apabila ada kesalahan selama proses dari awal dibukanya lomba hingga pengumuman lomba cerpen. Partisipasi Anda kami tunggu di event-event SIGMA selanjutnya. Syukron Jazakallah...

Wassalamualaikum...

Tertanda,

Panitia Lomba Cerpen Islami SIGMA 1431 H

Sabtu, 22 Mei 2010

Jum'atan Jangan Ngantuk to Bro......!!!!!

Jika seseorang merasa ngantuk saat mendengarkan Khutbah Jum’at, sebaiknya ia bergantian tempat duduk dengan jama’ah lainnya. Tanpa bicara namun cukup dengan isyarat kepada yang akan di ajak bertukaran tempat duduk.

Dalil dalam masalah ini adalah hadits Samrah رضي الله عنه, beliau berkata.
”Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“jika salah seorang dari kalian merasa ngantuk pada hari jum’at, maka hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat duduk temannya dan temannya berpindah ke tempat duduknya.” (HR. Al-Baihaqi 238 & Shahihul jami’ 812)

Begitu pula hadits Ibnu Umar رضي الله عنه , beliau berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“jika salah seorang dari kalian merasa ngantuk dimasjid hari jum’at, hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat lain”. (HR. Abu Dawud 1119 & Shajijul Jamii’ 809)

Disalin dari kitab “ Fiqih Darurat” oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid, Penerbit Inas Media. (dengan sedikit perubahan)

Sumber
Jika seseorang merasa ngantuk saat mendengarkan Khutbah Jum’at, sebaiknya ia bergantian tempat duduk dengan jama’ah lainnya. Tanpa bicara namun cukup dengan isyarat kepada yang akan di ajak bertukaran tempat duduk.

Dalil dalam masalah ini adalah hadits Samrah رضي الله عنه, beliau berkata.
”Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“jika salah seorang dari kalian merasa ngantuk pada hari jum’at, maka hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat duduk temannya dan temannya berpindah ke tempat duduknya.” (HR. Al-Baihaqi 238 & Shahihul jami’ 812)

Begitu pula hadits Ibnu Umar رضي الله عنه , beliau berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“jika salah seorang dari kalian merasa ngantuk dimasjid hari jum’at, hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat lain”. (HR. Abu Dawud 1119 & Shajijul Jamii’ 809)

Disalin dari kitab “ Fiqih Darurat” oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid, Penerbit Inas Media. (dengan sedikit perubahan)

Sumber http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/05/yang-harus-dilakukan-apabila-mengantuk.html

SAH ASHABUL UKHDUD dari surah Al-Buruj.

Kisah ini sangat penting untuk dijadikan rujukan dan ikutan kepada pemuda-pemudi Islam zaman ini kerana ia mengisahkan seorang pemuda yang berani kerana Allah s.w.t, hatta ditaruhkan nyawa sekalipun. Ilmu yang benar akan memimpin kita kepada Allah s.w.t, dan ini lah yang di ajarkan oleh pendeta (ahli Ibadat) sedangkan ilmu yang diajarkan oleh ahli sihir istana adalah bathil semata-mata. Tawaqqal dan berserahnya pemuda itu kepada Allah s.w.t menyebabkan bukan sahaja dia seorang, malah keseluruhan rakyat mendapat hidayah dan beriman kepada Allah s.w.t. . Kita dapat mengikuti kisah pemuda ini tertera dalam Surah Al-Buruj dan diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad s.a.w dalm hadith baginda seperti berikut ;

Shuhaib bin Simaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir"
Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.
Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.

Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, mendadak (tiba-tiba) di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang (ramai) tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendita itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini".Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang ramai gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu.

Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendita), maka berkatalah Rahib itu kepadanya : "Anda kini telah afdhat (pesan) daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang.

Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka".

Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu".

Maka langsung dia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh dengan izin Allah s.w.t.
Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja
"Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu" Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)".
Raja bertanya: "Aku?".
Jawabnya "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu iaitu Allah".
Ditanya oleh Raja "Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?"
Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu ialah Allah".

Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.

Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit"

Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. maka tanya raja itu "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?" Jawab pemuda "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Maka pemuda itu ditangkap dan disiksa seberat-beratnya sehingga terpaksa dia menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.

Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya pergi ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka".

Lalu pemuda itu diperintah untuk membawanya ke laut dan naik perahu, bila telah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu anda ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku". Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya lentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.

Maka adanya orang berjejal-jejal (berbaris-baris) dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggandong(membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menurut mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang hak.
(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa'i)

Berkata Ibnu Abbas kisah ini berlaku 70 tahun sebelum Nabi saw.

Semoga pemuda-pemudi Islam kita akan mengambil iktibar dan pedoman dari kisah yang hebat ini.

Akhirnya, Situs Penyelenggara Lomba Gambar Kartun Nabi Di Hack

Website pelaksana gerakan "menggambar nabi Muhammad" yang beberapa waktu terakhir ramai diberitakan, saat ini tidak bisa diakses. Situ dengan alamat http://www.drawmohammed.com/ jika dibuka saat ini hanya akan tampil halaman berwarna hitam dengan beberapa pesan.

Cyber-Warior TIM For ISLAM, nama kelompok hacker tersebut. Sepertinya mereka berasal dari Turki, dan tidak rela terhadap diadakannya kegiatan "menggambar nabi Muhammad" yang akan dilaksanakan mulai tanggal 20 Mei 2010 secara global.

Seperti ramai diberikatan sebelumnya, di situs jejaring sosial Facebook.com muncul grup baru yang mendukung kegiatan melecehkan Islam dengan menggambar nabi Muhammad. Grup bernama "Everybody Draw Muhammad" tersebut sudah mendapatkan banyak pengikut. Namun disitu banyak juga yang menyampaikan protes serta makian terhadap dibukanya grup ini.


Saat ini, jika situs http://www.drawmohammed.com/ diklik, maka pengunjung akan mendapati halam hitam dengan beberapa pesa berbahasa Inggris :

"While All Islam World regard with reverence to your prophet and address him as Hz. ISA A.S ( Christ ) ( putting a holy prefix in front of his name ), ou keep abusing, Islam's almighty Prophet with disgusting and disgraceful cartoons using excuses of freedom of speech. o doubt, Hz. Isa ( Christ ) would dislike and hate your nation.
Be God's Curse On You !

We Will be Your Curse on Cyber World !"

Selang beberapa saat, halaman tadi akan me-redirect (mengarahkan secara otomatis) browser anda ke situs http://www.lastprophet.info/en/?lang=en.

Paling tidak aksi hacker Turki ini adalah sebagai salah satu cara mereka membela nabi Muhammad Salallahu 'alaihi wasalam. (md/dtk/Fani)

sumber http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/05/akhirnya-situs-penyelenggara-lomba.html

Rabu, 05 Mei 2010

LAUNCHING GEMA UKHUWAH 1431 H “ADA APA DENGAN UKHUWAH KITA?”

"Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya." (QS. Ibrohim : 34)

Alhamdulillah, dengan segala nikmat yang senantiasa Allah limpahkan kepada hamba-Nya, termasuk nikmat kesehatan dan waktu luang, dan tak terhingga lagi banyaknya nikmat yang senantiasa dianugerahkan, maka telah terlaksana kegiatan Launching Gema Ukhuwah Sigma pada Senin (3/5) kemarin. Acara yang diformat sebagai gerbang awal dari serangkaian kegiatan Gema Ukhuwah ini menghadirkan Bapak Hardi Suyitno sebagai pemateri dengan tema materi tentang Ukhuwah. Setelah Acara pembukaan yang dibuka langsung oleh Sekretaris Jurusan Matematika, Bapak Isnarto, acara inti materi pun dimulai. Berikut isi materi yang disampaikan pemateri, kami tuangkan kembali dengan beberapa perubahan yang diperlukan.

***
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat (49) : 10)

Jika kita mau memperhatikan keadaan umat Islam saat ini, maka nyatalah bahwa kerekatan ukhuwah yang terangkai dalam jalinan persaudaraan seakidah ini masih sangat kurang. Salah satu penyebabnya di Negara ini barangkali adalah semangat dalam berislam (menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari) yang masih sangat kurang. Bahkan jika dibandingkan dengan Negara non muslim sekalipun. Dalam keseharian umat Islam disini, sering terasakan bahwa yang lebih ditekankan dalam berislam itu hanya sekedar ritual tanpa adanya penghayatan lebih dalam.

Sebuah contoh yang dipaparkan oleh pemateri adalah ketepatan waktu atau kedisiplinan. Sebagai Negara yang notabene sebagian besar penduduknya tercatat beragama Islam, ternyata masalah waktu merupakan hal yang amat mudah sekali menglami ketidaktepatan. Keterlambatan sepertinya merupakan suatu hal biasa dalam setiap gerak aktivitas keseharian. Hal ini berbeda dengan apa yang pernah di alami oleh pemateri di negeri Paman Sam. Meskipun tidak banyak penduduknya yang memeluk agama Islam yang tentunya mengenal QS Al-Asr, tetapi semangat kedisiplinan mengalir disana. Padahal jika kita sebagai umat Islam mau mengakui, sudah banyak sekali ajaran Islam yang menunjukkan pentingnya menjaga waktu. Bahkan Allah Swt bersumpah demi masa dalam firman-Nya dalam al-Qur’an surat Al-Asr. Dalam ayat lain pun, Allah berfirman,

“Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,”(QS. Al Insyirah:7)

Lalu apa hubungannya hal ini dengan pembahasan kita mengenai ukhuwah?
Tentu kesemangatan ini berpengaruh pada kualitas ukhuwah kita. Jika semangat dalam menerapkan Islam itu kurang, tentu saja semangat dalam berukhuwah ini pun kurang, karena ukhuwah juga merupakan salah satu inti dalam ajaran Islam. Bagaimana bisa seseorang akan merasakan kebermaknaan salam kita jika kita sendiri saja dalam memberikan salam tidak dengan takzim dan menjalankannya hanya sebatas ritual biasa. Padahal kita tahu bahwa salam merupakan doa yang kita tujukan untuk orang yang kita beri salam.

Selain hal yang sudah dibahas sebelumnya, pemateri juga menjelaskan hal lain yang bisa mempengaruhi kerekatan suatu ukhuwah. Terdapat beberapa hal yang bisa menjadi penyebab renggangnya ukhuwah. Diantaranya adalah:
1. Perbedaan pemahaman.
Perbedaan setiap orang dalam memahami agama ini memang seringkali menimbulkan perbedaan. Namun, hal ini akan menjadi pemicu pecahnya ukhuwah jika suatu kelompok ataupun seseorang merasa dirinya paling benar sendiri. Ini bisa menjadi sulutan pertama bagi timbulnya api permusuhan yang terjadi diantara umat muslim. Mudahnya lontaran kata bid’ah atas sesuatu atau pengkafiran seseorang karena ternyata berbeda dengan apa yang dia yakini memang kerapkali menjadi dasar yang sangat kuat dalam membentangkan jurang perbedaan yang akhirnya berujung pada perpecahan. Padahal belum tentu semua tuduhan salah yang terlontar itu tepat.
2. Adanya penyakit hati.
Penyakit hati yang dimaksud disini antara lain adalah ujub, takabur, dan sombong. Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Takabur adalah merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain dan meremehkan orang lain, pada akhirnya timbul sikap tidak mau menghormati orang lain. Muara dari semua itu adalah kesombongan yang bisa menjerumuskan kita pada hal yang sangat buruk.

Nabi Saw bersabda, “ Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. (HR. Nasa’i)

Ketiga penyakit hati ini tentunya akan menimbulkan semacam rasa permusuhan karena adanya sikap merendahkan orang lain atau meremehkan dan tidah menghormati. Jika permusuhan sudah terlanjur ada, maka akhlak pun bisa ikut rusak. Tidak peduli tua ataupun muda, pasti semua mendapat pengaruhnya. Padahal kita tidak pernah tahu penilaian Allah atas apa yang kita perbuat.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan), lebih baik dari mereka (yagn mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Jangalah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memangil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS Al Hujurat (49) : 11)

Hal yang harus kembali diingat bahwa tiada nikmat yang kita terima itu melainkan semua berasal dari Allah. Maka kesuksesan itu juga dari Allah, atau jika kita mau berpikir lagi orang-orang di sekitar kita pun turut membantu dalam keberhasilan kita. Seperti apa yang disampaikan pemateri tentang kata-kata dari ilmuwan ternama Einstein.

“Saya bisa berdiri seperti ini karena saya berdiri di atas pundak ilmuwan yang terdahulu,”ujar pemateri.

Maka itulah tadi gambaran mengenai keadaan ukhuwah kita. Ukhuwah ini merupakan ajaran Islam, tetapi umat Islam sendiri belum mantap dalam menjalinnya. Ini benar-benar menjadi PR bersama untuk kembali merangkai indahnya persaudaraan dalam Islam.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara… .” (QS Al Hujurat (49) : 10-11)

Salam Ukhuwah!!!


***
“Kasih Putih”
Snada

Dalam dunia ini
Banyak yang tiada mengerti
Hidup yang kita jalani
Mesti berbagi

Dalam cinta kasih
Kita bersama berdiri
Bergenggam jemari
Menyatukan hati

Dia berikan
Kepada seluruh manusia
Kasih sayang
Karena kita semua tiada berbeda

Bila kau mau sadari
Cinta kasih tak memilih
Kau dan aku kita semua sama

Bila kau mau berbagi
Apalagi yang dinanti
Kasih putih karunia sejati
(Dibawakan oleh Sigma Voice di penghujung acara Launching GU)