This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 09 April 2010

Doa Kesembuhan

Setiap orang sakit pasti tidak menginginkan larut dalam deraan rasa sakit yang menimpanya, ia pasti menginginkan dirinya segera sembuh. Maka, dalam rangkan menggapai kesembuhan, setiap orang sakit dituntuk untuk banyak berdoa memohon kesembuhan kepada Allah SWT.

Utsman bin Abul Ash, pernah menderita suatu penyakit yang sangat mengganggunya. Maka diapun mendatangi Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw mengetahui sahabatnya itu sedang sakit, beliupun mengajarinya doa memohon kesembuhan. Beliau bersabda kepadanya, “Letakkanlah tangan kananmu di atas anggota badan yang sakit lalu ucapkanlah:

بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

BISMILLAHI A'UUDZU BI 'IZZATILLAH WA QUDRATIHI MIN SYARRI MAA AJIDU WA UHAADZIRU (Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan dan aku hindari), sebanyak tujuh kali (7X)."

Apa yang terjadi kemudian? Alhamdulillah, dengan izin dan kebesaran-Nya, orang tersebut pun sembuh dari penyakitnya. Utsman berkata, “Saya mengucapkan do'a tersebut, sehingga (dengan itu) Allah menyembuhkanku.” (HR. Ibnu Majah).

Jin Menampakkan Diri?

CARA-CARA JIN MENGGANGGU MANUSIA DAN BAGAIMANA MELINDUNGI DIRI DARINYA


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin





Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah jin dapat memberikan pengaruh kepada manusia, dan bagaimana cara melindungi diri dari mereka?

Jawaban
Tidak diragukan bahwa jin dapat memberikan pengaruh kepada manusia dengan gangguan yang adakalanya bisa mematikan, adakalanya mengganggu dengan lemparan batu, dengan menakut-nakuti manusia, dan hal-hal lainnya yang disahkan oleh sunnah dan ditunjukkan oleh kenyataan. Diriwayatkan secara sah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan seorang sahabatnya untuk pergi kepada keluarganya dalam suatu peperangan –yang saya kira perang Khandaq-, Ia seorang pemuda yang baru saja menikah. Ketika sampai di rumahnya, ternyata istrinya ada di depan pintu. Ia mengingkari perbuatan istrinya itu, lalu berkata kepadanya, “Masuklah!”. Ketika pemuda ini masuk, ternyata seekor ular melingkar di atas tempat tidur. Dengan tombak yang berada di tangannya, ia menikam ular tersebut dengan tombak tersebut hingga mati. Dalam waktu bersamaan –yakni pada saat ular itu mati- maka pria ini juga mati. Perawi tidak tahu, mana yang lebih dulu mati ; ular atau orang itu. Ketika berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau melarang membunuh ular yang berada di rumah kecuali ular yang ganas dan berbisa. Beliau bersabda.

“Sesungguhnya di Madinah terdapat para jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat sesuatu dari mereka, maka izinkanlah ia selama tiga hari. Jika ia menampakkan diri kepadamu sesudah itu, maka bunuhlah. Sebab, sesungguhnya ia adalah setan” [HR Muslim, no. 2226, kitab As-Salam]

Ini dalil yang menunjukkan bahwa jin itu adakalanya menzhalimi manusia dan menggangggu mereka, sebagaimana fenomena membuktikan hal itu. Berita-berita telah mutawatir dan sangat banyak menyebutkan bahwa manusia adakalanya memasuki rumah-rumah kosong lalu dilempar dengan batu padahal manusia tidak melihat seseorangpun di dalam rumah kosong itu. Adakalanya ia mendengar suara-suara dan adakalanya mendengar desingan lembut seperti suara pohon serta sejenisnya yang membuat ketakutan dan terganggu karenanya.

Demikian pula adakalanya jin memasuki tubuh manusia, baik dengan kecintaan, untuk bermaksud mengganggunya maupun sebab-sebab lainnya. Ini diisyaratkan oleh firman-Nya.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti beridinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila” [Al-Baqarah : 275]

Pada jenis ini adakalanya jin berbicara dari batin manusia itu sendiri, berbicara kepada siapa yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di hadapannya, adakalanya pembaca Al-Qur’an mengabil janjinya supaya tidak kembali lagi, dan perkara-perkara lainnya yang banyak diberitakan oleh riwayat-riwayat dan tersebar di tengah-tengah manusia. Atas dasar ini maka benteng yang dapat menghalangi dari kejahatan jin ialah seseorang membaca apa yang direkomendasikan oleh Sunnah yang dapat membentengi diri dari mereka, semisal ayat Kursi. Sebab, jika seseorang membaca ayat Kursi, pada suatu malam, maka ia senantiasa mendapat penjagaan dari Allah dan setan tidak mendekatinya hingga Shubuh. Dan, Allah adalah Maha Pemelihara.

[Fatawa Al-Ilaj Bi Al-Qur’an wa As-Sunnah ar-Ruqa Wama Yata’allaqu Biha, hal. 65-66]

TIDAK MUNGKIN MANUSIA BIASA BISA MELIHAT JIN


Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin


Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apakah mungkin jin menampakkan diri kepada manusia dalam aslinya?

Jawaban
Itu tidak mungkin untuk manusia biasa. Sebab jin adalah ruh tanpa jasad. Ruh mereka sangat lembut yang dapat terbakar oleh pandangan mata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka” [Al-A’raf : 27]

Sebagaimana halnya kita tidak melihat para malaikat yang menyertai kita yang mencatat amal, dan kita tidak melihat setan yang mengalir dalam tubuh manusia pada aliran darah. Tetapi jika Allah memberi keistimewaan kepada seseorang dengan keistimewaan kenabian, maka ia dapat melihat malaikat. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril, ketika turun kepadanya, sedangkan manusia di sekitarnya tidak melihatnya.

Adapun dukun dan sejenisnya maka jin adakalanya menyamar menjadi salah seorang dari mereka, kemudian sebagian jin memperlihatkannya, dengan mengatakan, “Jin telah datang kepada fulan”. Jadi bukan manusia yang melihatnya, melainkan jin yang menyamar kepadanya itulah yang melihatnya dan mengabarkan siapa yang berada di sekitarnya.

[Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang beliau tanda tangani]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]

Sebab-Sebab Mati Dalam Keadaan Su'ul Khatimah

By : Alihozi

Berikut ini penulis sampaikan sebab-sebab seseorang itu bisa meninggal dalam keadaan Su'ul Khatimah, yg penulis ambil dari beberapa kitab terkenal seperti An - Nashaaih Ad-Diniyah Wal-Wasyaha Al Imaniyah karya ulama besar Imam Habib Abdullah Hadad

1. Orang tsb sering mengabaikan perintah dan larangan Allah,SWT , meremehkan shalat fardhu dan sunnah , tidak mengeluarkan zakat dan sedekah, durhaka kepada orang tua, selalu berbuat curang/menipu dg sesama manusia dll.


2. Orang tsb Menyukai perbuatan maksiat, jika seseorang sering melakukan maksiat dan belum juga bertaubat dari perbuatan maksiat tsb s/d ajal menjemput maka syaitan dg mudah menguasainya pada saat-saat akhir hayatnya, sehingga keluarganya yg membimbing hendak mentalqinkannya agar mengucapkan dua kalimah syahadat akan sia - sia karena perbuatan-perbuatan maksiatnya telah menguasai fikirannya.

3. Orang tsb menunda-nunda untuk bertaubat, apabila seseorang itu selalu menunda taubatnya s/d ajalnya keburu menjemput ia akan menyesal sekali dan minta dikembalikan ke dunia tapi hal itu sudah tidak berguna lagi karena orang yg sudah meninggal tidak bisa hidup kembali lagi ke dunia. Seperti yang digambarkan Allah,SWT dalam Al-Qur'an : " Ya Tuhanku, kembalikan aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yg telah aku tinggalkan (Al-Mu'minun : 99-100)

4. Panjang harapan untuk hidup lama, apabila seseorang itu selalu panjang angan-angan harapan untuk hidup lama maka ia akan selalu bersemangat mengejar impian-impian hidupnya di dunia sehingga melupakan akhiratnya sehingga syaitan dg mudah memeperdayainya.

Wallahua'lam
Salam

Al-Faqir

Rahasia Angka 7 Dalam Al-Quran

Rahima. Cairo 7 April 2010
Bismillahirrahmaanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh



Subhanallah, wa MasyaAllah, betapa AlQuran ini, benar-benar memiliki mu’jizat yang tidak habis-habisnya. Benarlah firman Allah Ta’ala sebagaimana tercantum dalam surah Al Kahfi ayat 109. :”Katakanlah (Wahai Muhammad), seandainya lautan menjadi tinta(untuk menulis), kalimat Tuhanku, maka habislah lautan itu sebelum selesai(penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu juga”.



I’jaz A(AlQuran, dari sisi bahasa, sastra, maupun hukum syari’atnya, serta ayat kauniyyah, ataupun tanziliyyahnya, termasuk dalam I’jaz hitungan(Al Jabar, istilah moderennya, Matematikanya). Tanasuk, tanasub, keindahan, kesesuaian kalimat perkalimat, awal dengan akhir dan seterusnya, dan seterusnya…ila malaanihayaah(sampai tiada batasnya).



Kita mencoba hanya satu bahasan saja dulu. Angka 7 dalam AlQuran.



Secara undang-undang AlQuran dan UU alam, kita lihat, bahwa angka 7 ini memiliki keutamaan tersendiri.

Kita lihat UU alam, langit dan bumi memiliki 7 lapisan.(Lihat Q.S Athalaq 12, Al Mulk 3)

Kita disuruh haji dengan 7x thawaf, 7 x Sa’i, dan melempar jumrah, untuk mengusir syetan dengan 7x lemparan.



Coba sama-sama kita lihat, bagaimana hakikat dari keutamaan dari angka 7 ini dalam AlQuran.



1. Angka 7 adalah angka yang pertama sekali disebutkan didalam AlQuran, yaitu didalam Q.S AlBaqarah 29= Tsummastawaa ilassamaai fasawwa hunna SAB’A samawaatin, wahuwa bikulla syain ‘aliim.
2. Angka 7 adalah angka yang paling banyak diulang dalam AlQuran setelah angka 1 (ahad) tentunya., ini menunjukkan betapa pentingnya angka ini.
3. Awal surah dalam AlQuran adalah surah Al Fatihah, dia adalah semulia-mulia surah dalam AlQuran, itu sebabnya surah Al Fatihah dinamakan dengan sab’ul matsaani(silahkan dilihat kembali penafsiran surah ini), sementara jumlah ayatnya ada 7 ayat.
4. Jumlah bilangan huruf abjad dalam bahasa Arab yang diturunkan oleh Allah ta’ala dalam AlQuran ada 28 huruf. Jumlah 28 ini adalah perkalian dari angka 7, yakni 7x4=28.
5. Jumlah dari pintu neraka ada 7 pintu, subhanallah, kalimat jahannam dalam AlQuran jumlahnya ada 77 x, dan jumlah 77 ini adalah perkalian dari 7, yakni 7x11=77.



Kita lihat rincian dari kelima hakikat diatas:



1) Angka 7 adalah angka yang disebutkan pertama sekali didalam AlQuran. (Silahkan dilihat Q.S AlBaqarah 29 dan lihat terakhir sekali disebutkan pada surah Annaba 12), lihatlah tanasuq sungguh luar biasa, bahwa jumlah bilangan surah dari Albaqarah-Annaba ada 77 surah. Kita tahu sebelumnya angka 77 ini adalah perkalian yang habis dibagi 7.

Sungguh keajaiban luar biasa juga, bahwa jumlah bilangan ayat dari ayat pertama sampai akhir ayat berjumlah 5649 ayat, dan ini juga perkalian 7, yakni 7x807, atau 5649:7.



2) Awal dan akhir surah.

Surah pertama adalah surah AlFatihah, kita tulis dengan angka 1.

Adapun nomor terakhir dari surah dalam AlQuran adalah surah Annaas, yakni surah ke 114.

Sekarang coba kita lihat dan gabungkan kedua angka tersebut menjadi 1141, adalah hasil dari perkalian angka 7 yakni 1141=7x163. Didalam kamus Allah Ta’ala, tidak ada yang dinamakan sudfah=kebetulan, semua yang dialam ini telah diciptakan oleh Allah Ta’ala penuh perhitungan dan ketelitian, yang luar biasa, tidak ada satu makhlukpun yang dapat menandingi ilmuNya Allah Ta’ala tersebut, dalam sisi apapun.



Ahli Matematika, ingin berbangga degan ilmunya, cobalah buat ketelitian dan kehebatan sebagaimana hitungan yang dibuat oleh Allah tersebut(ini baru satu yang kita lihat dari sisi Math, gimana dengan ilmu lainnya?).



Cobalah kita lihat, ilmu sastra/balaghah, sungguh, tak ada satu makhlukpun, yang bisa menandingi kesastraan AlQuran. Coba deh baca surah Annaas saja. Diakhiri ayatnya dengan huruf “S”(Qul ‘audzubirabbinnaaS, MalikinnaaS…ila akhirihi). Lihat lagi surah-surah yang lain, sungguh luar biasa, enak dibaca, mudah dihafalkan dan indah nian lagunya.



Sungguh, demi Allah Ta’ala saya benar-benar merasakan keindahan bahasa AlQuran itu, Itu sebabnya, tiada lagu dan tiada surat cinta yang paling senang saya membacanya, mendengarkannya, memperhatikannya dan terus menerus meneliti dan mencari keistimewaan kandungannya, selain surat cinta dari Allah ta’ala yakni AlQuran.



Bagaimana dengan hakikat keutamaan lainnya? InsyaAllah akan kita sambung.



(Untuk informasi saja, saya menuliskan ini, berasal dari beberapa buku tentang keutamaan angka 7 ini), dan dari sisi angka, saya sudah menguji anak saya menchecknya sendiri. Alhamdulillah mereka bertiga saya suruh berhitung tanpa pena/kertas, tapi pakai otak masing-masing, siapa yang lebih duluan dapat.

Ternyata dari ketiga anak saya, yang termuda lebih dahulu mendapatkan jumlah yang tepat. Alhamdulillah, wajar saya lihat anak ini pernah diutus oleh sekolahnya untuk lomba SILN(Sekolah Indonesia Luar Negeri).



Bersambung, insyaAllah Ta’ala.

Wassalamu’alaikum.

Kunci Surga Muslimah

Kunci Surga Muslimah
(Oleh: Ust. Izzudin Karimi, Lc)

Surga adalah idaman dan harapan setiap orang beriman, ia adalah akhir
perjalanan bagi semua orang yang taat dan patuh kepada Allah Subhanahu
waTa'ala dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Untuk menggapai surga, maka pentingnya seseorang untuk mengetahui kunci yang
dengannya dia dapat membuka pintu surga dan masuk ke dalamnya.

Dalam hal ini, Rasulullah shallallaahu 'alaih wasallam pernah menyebutkan
kunci surga yang khusus disediakan untuk para wanita yang kebanyakan kelak
menjadi penghuni neraka sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh beliau juga.
Dengan meraih kunci ini, niscaya dia tidak termasuk ke dalam golongan para
wanita penghuni neraka.

Rasulullah shallallaahu 'alaih wasallam telah merangkum kunci surga muslimah
dalam empat perkara, dari Abdurrahman bin Auf berkata, Rasulullah
shallallaahu 'alaih wasallam bersabda, "Jika seorang wanita menjaga shalat
lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati
suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan."
(HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi).

Satu hal yang terpetik dari sabda Nabi shallallaahu 'alaih wasallam di atas
adalah bahwa beliau hanya menyebutkan perkara-perkara yang masuk ke dalam
jangkauan seorang muslimah, di mana seorang muslimah mampu melaksanakannya
tanpa bergantung kepada orang lain atau bergantung kepada suaminya, di sini
Rasulullah shallallaahu 'alaih wasallam tidak menyinggung, misalnya, haji,
karena pelaksanaan ibadah ini oleh seorang muslimah bergantung kepada suatu
perkara yang mungkin tidak dimilikinya, seperti tersedianya bekal haji atau
tersedianya mahram, di sini Rasulullah shallallaahu 'alaih wasallam juga
tidak menyinggung zakat, karena perkaranya kembali kepada kepemilikan harta
dan pada umumnya ia berada di tangan kaum laki-laki, karena harta adalah
hasil bekerja dan yang bekerja pada dasarnya adalah kaum laki-laki.

Kunci pertama, menjaga shalat lima waktu

Shalat adalah ibadah teragung, hadir setelah ikrar dua kalimat syahadat,
satu-satunya ibadah yang tidak menerima alasan 'tidak mampu', wajib
dikerjakan dalam keadaan apa pun selama hayat masih dikandung badan dan akal
masih bekerja dengan baik, pembatas antara seseorang dengan kekufuran dan
kesyirikan, tidak heran jika suatu ibadah dengan kedudukan seperti ini
merupakan salah satu kunci surga.

Jika menjaga shalat adalah kunci surga, maka sebaliknya menyia-nyiakannya
adalah gerbang neraka, ketika para pendosa dicampakkan ke dalam neraka,
mereka ditanya, apa yang membuat kalian tersungkur ke dalam neraka? Mereka
menyebutkan rentetan dosa-dosa yang diawali dengan meninggalkan shalat.
Allah Subhanahu waTa'ala berfirman, artinya, "Apakah yang memasukkan kamu ke
dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk
orang-orang yang mengerjakan shalat." (QS.al-Muddatstsir: 42-43).

Perkara menyia-nyiakan shalat tidak jarang terjadi pada kaum muslimin secara
umum dan kaum muslimat secara khusus, banyak alasan dan hal yang membuat
mereka terjerumus ke dalam perbuatan tidak terpuji ini, di antara mereka ada
yang menyia-nyiakan shalat karena malas dan meremehkan, di antara mereka ada
yang terlalaikan oleh kesibukan hidup, sibuk bekerja, sibuk memasak, sibuk
mengurusi rumah tangga, sibuk mengurusi anak-anak dan suami, sibuk dengan
kegiatan-kegiatan lainnya sehingga ibadah shalat terbengkalai, padahal
ibadah shalat tidak menerima alasan apa pun yang membuatnya tersia-siakan,
dan Allah Subhanahu waTa'ala telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak
terlalaikan oleh dunia dari mengingatNya, termasuk mengingatNya melalui
ibadah shalat.

Firman Allah Subhanahu waTa'ala, artinya, "Hai orang-orang beriman,
janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang
merugi." (QS. al-Munafiqun: 9).

Menjaga shalat lima waktu mencakup menjaga waktunya dalam arti
melaksanakannya tepat waktu, tidak menundanya dan mengulur-ulur waktunya
sampai waktunya hampir habis, atau bahkan membiarkannya habis, ini adalah
shalat orang-orang munafik, dan seorang muslimah tidak patut bermental
munafik dalam ibadah shalat.

Menjaga shalat mencakup menjaga syarat-syarat dan rukun-rukunnya di mana
shalat tidak sah tanpanya, menjaga wajib-wajib dan sunnah-sunnahnya yang
merupakan penyempurna bagi ibadah shalat, semua ini menuntut seorang
muslimah untuk belajar dan membekali diri dengan ilmu yang shahih tentang
shalat. Tanpa ilmu yang shahih tidak akan terwujud menjaga shalat.

Kunci kedua, berpuasa di bulannya

Puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu kunci surga, lebih dari itu di
surga tersedia sebuah pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa yang
dikenal dengan 'ar-Rayyan', pintu masuk para shaimin secara khusus, jika
mereka telah masuk, maka ia akan ditutup.

Di samping berpuasa sebagai kunci surga, ia juga merupakan tameng dan
pelindung dari neraka, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menyatakan,
ash-shaumu junnah, puasa adalah tameng atau pelindung, yakni dari api
neraka.

Karena puasa merupakan salah satu kunci surga sekaligus pelindung dari
neraka maka seorang muslimah harus menjaganya, dalam arti melaksanakannya
dengan baik, memperhatikan syarat, rukun dan pembatalnya, karena tanpanya
dia tidak mungkin berpuasa dengan baik.

Seorang muslimah juga harus memperhatikan perkara qadha puasa Ramadhan di
hari-hari lain jika dia mendapatkan halangan pada bulan Ramadhan sehingga
tidak mungkin berpuasa secara penuh, jangan sampai Ramadhan berikut hadir
sementara dia belum melunasi hutang puasanya, perkara mengqadha puasa di
hari lain ini sering terlupakan atau terabaikan, karena kesibukan hidup,
padahal ia adalah hutang yang jika tidak dilaksanakan maka seorang muslimah
tidak bisa dikatakan telah berpuasa di bulannya, selanjutnya dia gagal
meraih kunci kedua dari kunci-kunci masuk surga, dari sini bersikap
hati-hati dengan menyegerakan qadha adalah sikap bijak, karena penundaan
terkadang malah merepotkan dan menyulitkan.

Kunci ketiga, menjaga kehormatan.

Surga hanya bisa diraih dengan keshalihan, hanya wanita shalihah yang akan
masuk surga, shalihnya seorang wanita dibuktikan dengan beberapa sifat dan
akhlak, salah satunya dan yang terpenting adalah menjaga kehormatan diri.
Allah Subhanahu waTa'ala berfirman, artinya, "Wanita yang shalih ialah yang
taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena
Allah telah memelihara (mereka)." (QS. an-Nisa`: 34).

Ayat ini menetapkan bahwa memelihara diri meruapakan wujud dari ketaatan
seorang wanita shalihah kepada Allah kemudian kepada suaminya.

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik wanita adalah
wanita yang jika kamu melihat kepadanya, maka kamu berbahagia, jika kamu
memerintahkannya maka dia menaatimu, jika kamu bersumpah atasnya maka dia
memenuhinya dan jika kamu meninggalkannya, maka dia menjagamu pada diri dan
hartamu." (HR. an-Nasa`i)

Menjaga kehormatan berarti membentengi diri dari perkara-perkara yang
mencoreng dan merusak kehormatan, yang menodai dan menggugurkan kemuliaan,
dengan tetap bersikap dan bertingkah laku dalam koridor tatanan syariat yang
suci lagi luhur.

Menjaga kehormatan di zaman di mana ajakan dan propaganda kepada kerusakan
dan perbuatan keji semakin meningkat dan menguat, seruan dan arus serangan
yang ditujukan kepada wanita-wanita muslimah dengan agenda dan maksud
terselubung semakin gencar, menjaga kehormatan di zaman seperti ini terasa
demikian sulit dan berat, para penyeru dan para jurkam kerusakan membidik
wanita muslimah sebagai sasaran, mereka memakai dan menggunakan cara-cara
yang melenakan dan menggiurkan dengan nama kemajuan, modernisasi,
pemberdayaan, pengentasan, pembebasan dan kedok-kedok palsu lainnya,
zhahiruhu fihi ar-Rahmah, wa bathinuhu ya`ti min qibalihi al-adzab, racun di
balik kelembutan ular berbisa.

Dari sini maka seorang wanita muslimah harus jeli dan cermat sehingga dia
tidak termakan oleh rayuan gombal para serigala yang berbulu domba,
hendaknya seorang muslimah tetap berpegang kepada aturan-aturan dan
rambu-rambu Islam yang luhur lagi suci karena di sanalah terkandung
kebersihan dan kesucian diri, hendaknya seorang muslimah menimbang dan
mengukur setiap seruan dan ajakan dengan timbangan dan ukuran syar'i yang
baku dan menyeluruh, hal ini agar dia selamat dan tidak terjerumus ke dalam
perkara-perkara yang merusak kemuliaan dan kehormatannya.

Kunci keempat, menaati suami.

Menaati suami merupakan lahan dan medan besar dan luas bagi seorang
muslimah, ia merupakan ladang ibadah bagi seorang muslimah yang sesungguhnya
setelah penghambaannya kepada Rabbnya.


Kamis, 01 April 2010

HAFALAN

Kiat agar hafalan tidak cepat hilang

Pertanyaan

Assalamu'alaikum wr.wb.

ustadz yang di rahmati Allah SWT...!

Saya punya target menghafal Al Quran dalam 1 bulan 1 juz, Alhamdulillah sudah berjalan 5 bulan.

Yang ingin saya tanyakan, mengapa setelah hafal 1 juz, dan saya lanjutkan dengan juz berikutnya, juz yang sudah saya hafal kok jadi hilang ?

Mohon Saran dan penjelasannya.

Jazakallahu Khoiron Katsiir



hamba Alloh

Jawaban

Subhanallah, anda mampu menghafal Al-Quran dalam tempo sebulan 1 juz. Berarti dalam tempo tiga hari anda bisa menghafal dua halaman atau satu lebar. Ini adalah target dan capaian yang luar biasa. Artinya, kalau proses menghafal ini berjalan lancar, atas izin Allah SWT dalam tempo 30 bulan atau 2 tahun setengah anda sudah hafal Al-Quran 30 juz.

Sebenarnya menghafal Al-Quran itu sangat mudah sekali. Demikian jaminan dari Allah SWT. baca dan renungi firman-Nya :

"وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ"

“Dan sugguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (Q.S. Al-Qamar/54 : 17, 22, 32, 40)

Kalau ada masalah dengan kita dalam hal menghafal dan murajaah, tentunya jangan disalahkan ayatnya, yang harus kita lakukan adalah kita harus berintrospeksi, kenapa hafalan kita mudah sekali hilang setelah kita menghafal juz berikutnya?. Oleh karena itu dalam menghafal Al-Quran harus memiliki metode yang tepat sehingga hasilnya pun akan memuaskan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menghafal Al-Quran, semoga bisa membantu kita dalam proses menghafal Al-Quran. Diantaranya, usahakan anda selalu menggunakan mushaf Al-Huffazh (Mushaf ini biasa digunakan para penghafal Al-Quran), di mana dalam mushaf ini setiap awal halaman adalah permulaan ayat dan di setiap akhir halaman adalah akhir ayat, membacanya secara perlahan dan tenang, membagi ayat dalam beberapa maqtah’ (satu pembahasa tertentu), usahakan membaca ayat yang sudah dihafal dalam shalat, memahami makna ayat secara umum, ini akan banyak membantu kita dalam memantapkan hafalan. Usahakan ikut serta dalam halaqat tahfizh Al-Quran, baik itu di masjid, di mushalla atau di tempat yang lainnya.

Hambatan dan penghalang dalam menghafal

Perbuatan Maksiat

Anda juga harus berusaha seoptimal mungkin untuk selalu menghindari tempat-tempat maksiat, apalagi –na’udzu billah- gemar bermaksiat dengan segala macam bentuknya.

Tentunya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah seorang Imam besar, Imam Syafi'I peletak madzhab Al-Syafi’iyyah yang memiliki kecepatan dalam menghafal, beliau pernah mengadu kepada gurunya, Waki’, karena suatu hari beliau mengalami masalah dalam menghafal. Sang guru pun lalu memberikan obat mujarab, yaitu dengan nasihat agar sang Imam meninggalkan perbuatan maksiat. Imam Syafi'I rahimahullah berkata:

Aku mengadu kepada (guruku) Waki' atas buruknya hafalanku

Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan kemaksiatan
Dia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.

Barangsiapa memiliki kesungguhan untuk menjauhi kemaksiatan, maka Allah SWT akan membukakan hatinya untuk mengingat-Nya, membimbingnya dalam mentadaburi ayat-ayat kitab-Nya, memberikan kemudahan dalam menghafal dan mempelajarinya.

Tidak mengulang secara rutin

Seorang penghafal Al-Quran harus memiliki jadwal khusus untuk mengulang hafalan, jadi dia harus memiliki wirid harian untuk murajaah hafalan yang pernah dia hafal, baik di dalam shalat atau di luar shalat. Karena diantara yang membuat hafalan Al-Quran kita cepat hilang karena kita memiliki jadwal khusus untuk murajaah.

Sejak dahalu Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada orang yang menghafal Al-Quran untuk selalu menjaga hafalan, karena Al-Quran akan lebih cepat lepas dibandingkan dengan seekor onta yang terikat kuat, jika dia tidak selalu mengulang-ulang hafalan.
Rasulullah SAW bersabda :

"تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ قُلُوْب الرِّجَالِ مِنَ اْلإِبِلِ مِنْ عِقَلِهَا".

“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari hati penghafalnya dari pada lepasnya seekor onta dari ikatannya” (H.R. Bukhari)

Jadi pandai mengatur waktu akan dapat membantu seorang penghafal Al-Qur’an dalam memelihara hafalannya. Mengatur waktu untuk mengulang-ulang hafalan yang senantiasa terus berkelanjutan, harus terus dilakukan oleh seorang penghafal Al-Qur’an. Biasakan jangan melewatkan waktu tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Berlebihan dalam memandang dunia

Tidak sedikit orang yang menghafal Al-Quran karena lebih disibuki dengan kegiatan yang dapat melalaikannya dari aktifitas menghafal bahkan mengajar Al-Quran, bahkan juga tidak sedikit orang yang menghafal Al-Quran ikut suatu bisnis tertentu, lalu tanpa mereka sadari, sedikit banyak melalaikan dari kegiatan menghafal yang selama ini dia lakukan secara rutin. Sebenarnya ada banyak cara dalam menghindari lupa akan hafalan yang pernah melekat dalam memori kita seperti motivasi atau niat kita dalam menghafal Al-Quran adalah bukan untuk mengejar-ngejar kenikmatan dunia. Kemudian kita juga harus banyak berdoa kepada Allah SWT agar kita diberikan kemudahan dalam menghafal kalam-Nya. Biasakan hati kita selalu mengigat Allah SWT (berdzikir) dalam setiap keadaan, dengan banyak mengingat Allah SWT maka kita akan merasa selalu diawasi oleh-Nya sehingga kita pun malu apabila Dia mendapi kita sedang berada dalam lembah kemaksiatan. Dan tentunya kita semua ingin dan terus berusaha menjaga agar kualitas hafalan yang ada seperti kualitas hafalan surat al-Fatihah, atau minimal seperti orang yang membaca surat yasin dan al-kahfi, karena sering dibaca jadi tidak mudah hilang.

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kapada anda dan kepada kita semua dalam menghafal Al-Quran serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bishshawab.

(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)

http://www.warnaislam.com/konsul/quran/2009/10/15/63600/Kiat_agar_hafalan_tidak_cepat_hilang.htm

JILBAB

Jilbab Menurut Islam, Kristen dan Yahudi: Mitos dan Realita
Diposting pada Kamis, 22-10-2009 | 18:47:17 WIB

Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: "Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala" dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat," dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan."

Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap "telanjang". Dr. Brayer juga mengatakan bahwa "Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."

Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.

Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.

Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).

Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?
Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat". (I Korintus 11:3-10).

St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of Virgins" menulis: "Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu."

Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: "Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan," logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).

Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur'an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..... Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..." (An Nuur:30,31)

Di dalam Al Qur'an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Ahzab 59: "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al Ahzab:59)

Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.

Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Qur'an sangat
memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;

"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nuur 4)

Bandingkan sikap Al Qur'an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:

"If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel's father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days" (Deut. 22:28-29).

Terjemahannya:
"Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya" (Ulangan. 22:28-29).

Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur'an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?

Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.

Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager,
Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !

Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women's office di Universitas Queen berikut :

* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.

* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.

* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.

* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.

* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.

Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.

Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: "...for the person who receives the blows is not like the one who counts them." (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.

Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol 'kesucian' saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []

Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.

Terjemahan
ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.

http://www.muslimdaily.net/wanita/4325/jilbab-menurut-islamkristen-dan-yahudimitos-dan-realita