This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 11 Maret 2010

kajian

Rahmat Allah swt Mengalahkan Kemurkaan Nya
Senin, 01 Maret 2010


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَمَّا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ وَهُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ وَهُوَ وَضَعَ عِنْدَهُ عَلَى اْلعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ

( صحيح البخاري )

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Ketika Allah menciptakan makhluk, Allah menulis di dalam kitabNya, Dia (Allah) menulis atas diriNya, lalu Dia swt meletakkan di sisi Nya pada Arasy : "Sesungguhnya rahmat Ku mengalahkan kemurkaan Ku”. ( Shahih Al Bukhari )


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلِلّه الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذِه الْمُنَاسَبَةِ اْلعَظِيْمَةِ وَفِيْ هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha berhak atas segala pujian .
Semakin seseorang memahami hakikat kehidupannya dan merenungkan darimana ia datang dan bagaimana ia memulai kehidupannya, dan ia mendengar tuntunan Ilahi bahwa Allah yang menghidupkannya. Dialah ( Allah ) pemilik diriku dan diri kalian , pemilik nafasku dan nafas kalian , pemilik panca inderaku dan kalian , Dialah ( Allah ) Maha berhak untuk dipuji dan memang paling pantas dipuji dan tiada yang lebih terpuji daripada yang paling banyak memuji Allah. Manusia yang paling banyak memuji Allah adalah sayyidina Muhammd , makhluk yang paling banyak memuji Allah adalah sayyidina Muhammad , makhluk yang paling banyak dipuji Allah adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , makhluk yang paling banyak pengikutnya yang memuji Allah adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , pemimpin orang-orang yang memuji Allah adalah Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ,


Semoga Allah subhanahu wata’ala menaungiku dan kalian dengan cahaya keterpujian Ilahi dalam setiap nafas kita , dalam hari-hari kita , dan dalam kehidupan kita . Allah Yang Maha Dermawan melimpahkan kedamaian sepanjang waktu dan zaman , genggaman kedermawanan Ilahi tiada pernah tertutup kecuali dilimpahkan ke barat dan timur dari generasi ke generasi , memberi dan terus memberi , meminjamkan dan terus meminjamkan , mengampuni dan terus mengampuni , menyeru dan terus menyeru itulah Allah subhanahu wata’ala .


Hadirin hadirat , samudera pengampunan Ilahi tiada pernah tertutup , pintu taubatNya memanggil para pendosa untuk sampai kepada pengampunan dan maaf . Maka adakah yang lebih merugi dari yang menolak cinta Allah ?!, adakah yang lebih hancur lebur kehidupan dunia dan akhiratnya tiada berguna melebihi mereka yang menolak untuk dicintai Allah ?!, adakah kita melakukan apa-apa yang dicintai Allah ? bagaimana keadaan siang dan malam kita, bagaimana kabar setiap nafas kita, bagaimana kabar setiap kalimat yang kita ucapkan apakah itu menjawab cinta Ilahi atau mengundang kemurkaan-Nya, atau mengundang kecemburuan Allah, atau menyakiti perasaan Allah ?!. Hadirin hadirat, kita selalu mengadu kepada Allah atas kelemahan kita dalam taat, semoga Allah terus memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk selalu berada dalam keluhuran.


Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits yang telah disabdakan oleh nabi akhir zaman dan tiada nabi setelah beliau, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , yang bersabda :

لَمَّا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ وَهُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ وَهُوَ وَضع عِنْدَهُ عَلَى اْلعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ

( صحيح البخاري )


Maka ketika Allah telah menciptakan alam semesta dan segenap ciptaan , lalu Allah menulis di ‘arsy , alam yang tertinggi dari semua alam yang diciptakan Allah dengan tulisan :

رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ

“ Kelembutan dan kasih sayang-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku”


Maksudnya apa? yaitu setiap hal yang dimurkai Allah, bukan tidak ada hal yang dimurkai Allah, banyak hal yang dimurkai Allah jika kita perbuat , namun Allah memberi kejelasan pada setiap para pendosa bahwa Allah akan bersabar dan mengampuni serta menyayangi jika mereka mau bertobat dan kembali kepada kelembutan-Nya.


Demikian indahnya Allah , ingin memperkenalkan kepada kita inilah (Aku) Rabbul ‘alamin yang mempunyai sifat murka , tapi kasih sayang-Ku jauh lebih besar daripada kemurkaan-Ku. Maka mereka yang memilih jalan kemurkaan Allah itu salah mereka sendiri, namun jika ia terjebak dalam kemurakaan Allah sebab perbuatannya, maka ketahuliah bahwa kasih sayang-Nya lebih besar dari kemurkaan-Nya.


Hadirin hadirat alangkah indahnya Allah mengenalkan Dzat-Nya kepada kita , maka beruntunglah yang memahaminya. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, Allah subhanahu wata’ala berfirman kepada malaikat di dalam hadits Qudsy : “ Ketika hamba-Ku berniat ingin berbuat dosa maka janganlah terlebih dahulu ditulis dosanya, dan jika ia telah berbuat dosa maka tuliskan satu dosa baginya. Dan jika hamba-Ku berniat untuk berbuat baik maka tulis baginya satu pahala sebelum ia melakukannya , dan jika ia melakukannya maka lipatgandakan pahalanya sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat”.( Shahih Al Bukhari)


Begitulah Allah subhanahu wata’ala memanjakan kita , adakah yang lebih memanjakan kita melebihi Allah , adakah yang lebih berlemah lembut dan menginginkan cinta kita melebihi Allah?! . Allah tidak butuh pada setiap hambaNya, namun Allah meminta kita untuk mencintaiNya , Allah melamar kita untuk menjadi hamba yang yang dicintai-Nya . Hadirin hadirat, lamaran Ilahi setiap waktu dan saat mengangkat setiap hamba yang ingin berfikir akan hal ini untuk semakin menaiki tangga-tangga derajat mahabbah, tangga-tangga keluhuran cinta kepada Allah, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلدُّنيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ اْلكَافِرِ

“ Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir ”


Maksudnya adalah seluas-luas kenikmatan yang didapatkan seorang hamba yang beriman dan rindu kepada Allah, ia tetap merasa berada dalam penjara dan kesulitan karena dahsyatnya kerinduannya kepada Allah subhanahu wata’ala, dahsyatnya rindu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam tafsir Al Imam At Thabary Ar bahwa ketika salah seorang sahabat dari kalangan baduwi ( orang dusun ) ia mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Al Insan sampai ayat terakhir.


Surat ini lebih banyak menceritakan tentang kenikmatan, dan keindahan surga. Maka berkatalah seorang baduwy itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ Wahai Rasulullah apakah mataku ini akan memandangmu kelak di sorga?, engkau sudah menceritakan keindahan surga tapi apakah mataku ini akan memandangmu disana, keindahan surga tidak aku pedulikan karena jika aku tidak memandang wajahmu maka percuma aku masuk ke dalam surga”.


Karena cintanya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam , dan iapun mengulang pertanyaannya: “wahai Rasulullah apakah mataku akan memandang di surga?” maka Rasulullah berkata : “ ya , kau akan melihat aku kelak di surga ”, maka orang baduwy itu terjatuh pingsan karena cinta dan tangisnya, gembira karena telah dijanjikan oleh sang nabi untuk berjumpa dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , untuk melihat wajah nabi Muhammad . Demikian cintanya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , dan ketika orang ini wafat rasul pun memanjakannya, rasul yang menurunkan jenazahnya kedalam kubur, lalu rasul memangkunya sesaat kemudian beliau membaca ayat :

إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا

( الإنسان : 22 )

“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)”. ( Al Insan:22)


Maka sayyidina Abdullah bin Umar berkata : “ Wahai Rasulullah siapa orang ini...dia bukanlah orang yang menonjol diantara para sahabat sehingga kau membacakan ayat ini dan kau sangat memanjakan dia, apa yang dia lakukan ? , perjelas wahai Rasul”, maka Rasul berkata : “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya (Allah) , sungguh orang itu saat ini sedang diberdirikan di hadapan Allah subhanahu wata’ala dan Allah berkata : “ Aku akan mensucikan dan menyinari wajahmu” , kenapa ? karena cintanya kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.


Dan hewan-hewan pun mencintai Rasululullah, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Al Habib Salim bin Umar Al Hamid bagaimana Abdurrahman Ad Dibaa’i menjelaskan riwayat hamba-hamba yang cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika onta-onta mendekati Madinah Al Munawwarah, berkata Al Imam Abdurrahman Ad Dibaa’i : “ Jangan kau pegangi onta yang sedang mengarah ke Madinah , karena onta itu bergegas dengan kencang dan jangan tahan kekencangannya karena yang mengendalikannya adalah rindunya kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.


Semua onta ketika memasuki Madinah Al Munawwarah onta-onta itu pun mengalirkan air mata hingga saat ini, kenapa? karena mengetahui bahwa itu adalah kota sayyidina Muhammad , apakah hewan mengenal beliau ? ya , hewan mengenal beliau , tumbuhan mengenal beliau, bebatuan mengenal beliau , langit dan bumi semuanya mengenal beliau , sebagaimana sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari :

‏ ‏إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا ‏جِبْرِيْلَ ‏فَقَالَ إِنِّيْ أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ ‏‏ثُمَّ يُنَادِيْ فِي السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلّانًا فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya”


Maka orang yang paling dicintai Allah adalah sayyidina Muhammad (saw). Diriwayatkan dalam sirah (kitab sejarah nabi saw), ketika seekor onta besar yang mengamuk di Madinah Al Munawarah , tentunya jika binatang mengamuk maka ia akan beringas , maka mulut onta itu berbusa karena marah dan onta itu pun dijerat di dalam suatu kandang, dilaporkan bahwa onta besar di Madinah mengamuk, maka sampailah kabar kepada Rasulullah , maka Rasulullah berkata : “ tunjukkan aku pada onta itu ” , maka sahabat berkata : “ onta itu dijerat dalam kandang ini wahai Rasulullah” , Rasulullah berkata : “Bukalah pintunya”, maka sahabat pun berkata : “ wahai Rasulullah , onta itu sedang mengamuk dan beringas , nanti ia akan melukaimu”, rasulullah berkata: “ bukakan pintunya”!!. Semua hewan dan tumbuhan dan semua makhluk Allah mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .


Ketika pintu kandang itu dibukakan , onta yang berada jauh dari pintu itu kelihatan sedang beringas , merah matanya dan berbusa mulutnya, tetapi ketika melihat wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , ia pun tertunduk tunduk lari mendekat mencium kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , melihat wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , wajah makhluk yang paling indah dari semua makhluk ciptaan Allah , orang yang paling ramah dan tenang dan onta itu pun tahu bahwa inilah pimpinan seluruh manusia , orang yang paling dicintai Allah .


Kita bisa bayangkan seekor binatang yang sedang mengamuk, mungkin disini kita jarang melihat onta , jika kita melihat kuda atau kerbau yang mengamuk saja tentunya kita akan risau , padahal onta jika berdiri tingginya dua kali lebih tinggi dari kerbau, bayangkan saja jika mengamuk maka seperti apa buasnya, dalam keadaan seperti itu ia berlari tertunduk-tunduk mendekat menciumi kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hilang marahnya ketika memandang wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.


Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Inilah semulia-mulia idola kita , maka jangan memilih idola yang lain , karena idola kita yang lain, apalagi orang yang tidak pernah sujud kepada Allah , jika kita menjadikannya idola maka itu akan menjadikan musibah kelak di hari kiamat , di dalam Atsar sahabat dijelaskan bahwa: “Walaupun seorang hamba beribadah ratusan tahun di hadapan Ka’bah, tetap ia tidak akan dikumpulkan kecuali bersama dengan orang yang ia cintai”. Hadirin hadirat , ucapan ini diperkuat dengan riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim :

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“ Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya”


Jika ada yang berkata “orang seperti aku ini belum pantas cinta kepada Rasulullah”, kalau belum pantas mencintai Rasul , maka tidak terpilih menjadi ummatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Semua ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dihalalkan oleh Allah untuk mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mereka yang masuk Islam pun karena mengenal dan mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan hingga musuh-musuhnya berkata : “ bahwa beliau itu tidak mempunyai wajah pendusta ”, karena wajah yang demikian polos dan jujur.


Hadirin hadirat , Allah subhanahu wata’ala menyiapkan keluhuran bagi hamba-hambaNya yang mau membenahi dirinya, Allah subhanahu wata’ala Maha berlemah lembut kepada segenap hamba-Nya, sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang hamba yang wafat dan sebelum wafatnya ia tobat kepada Allah kemudian ia menyesal karena tidak pernah beribadah kepada Allah , maka ia berwasiat kepada anak dan istrinya “jika ia meninggal agar tidak dimandikan , dan dikafani serta dikuburkan tetapi bakarlah kemudian debunya buang di laut sebagian dan buang di darat sebagian” , anaknya berkata : “ kenapa ayah ?” , dia menjawab: “ tidak pantas aku dishalatkan dan dikuburkan dengan mulia karena aku tidak pernah berbuat amal shalih”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika wafat ia dihadapkan kepada Allah dan ditanya : “mengapa engkau berbuat demikian wahai hamba-Ku ?” , ia menjawab : “ aku malu pada-Mu wahai Allah” , maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa Allah subhanahu wata’ala mengampuni dosa-dosanya karena ia malu kepada Allah .


Maka janganlah menunggu sakaratul maut untuk malu kepada Allah , mulai sekarang malulah, aku bernafas dan setiap nafas ini adalah lambang cinta-Mu kepadaku wahai Allah, setiap detak jantungku adalah lambang kasih sayang-Mu kepadaku wahai Allah , dan sepanjang siang dan malam aku terus berdosa dan berbuat salah wahai Allah , maka kemana aku akan mengadu jika tidak kepada-Mu wahai Allah , seraya berfirman dalam hadits qudsy riwayat Shahih Al Bukhari :

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَالَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“ Aku siapkan untuk hamba-hambaKu hal-hal yang belum pernah terlihat mata , dan tiada pernah terdengar oleh mata serta tiada pernah terlintas pada fikiran manusia”


Hal ini bagi mereka yang hari-harinya banyak tertimpa kesedihan , ingatlah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Allah dibelakang kehidupan kita apakah kebaikan yang abadi atau kehinaan yang abadi wal’iyadzubillah . Allah subhanahu wata’ala berfirman :

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

( السجدة : 17)

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. ( QS. As Sajadah : 17 )


Semoga Allah menjadikan kita dalam kelompok mereka . Diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah di dalam Shahih Al Bukhari ketika sayyyidina Sa’ad Ra yang sangat pencemburu dan cinta kepada istrinya berkata kepada para sahabat nabi : “ kalau ada seseorang yang berani mendekati istriku , maka akan kutebas dengan pedang ini” , maka para shahabat datang kepada Rasulullah dan berkata : “ wahai Rasulullah Sa’ad marah dan berkata jika ada oarng yang mendekati istrinya maka akan ditebas dengan pedangnya” , maka Rasulullah berkata:

أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غِيْرَةِ سَعْدَ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهَ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّيْ

“ Apakah kalian heran dengan cinta dan cemburunya Sa’ad kepada istrinya ? , aku lebih cinta dan cemburu kepada kalian daripada Sa’ad kepada istrinya , dan Allah lebih cinta dan cemburu kepada kalian daripada aku ”


Demikian indahnya cinta nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya . Oleh sebab itu kita tidak bisa menyembah kepada selain Allah , karena Allah akan murka Allah ingin kita hanya untuk-Nya subhanahu wata’ala , hanya menyembah-Nya , hanya bersujud kepada-Nya, karena alam semesta ini milik-Nya , karena kerajaan jagad raya ini berada digenggaman-Nya , karena setiap detak nafas kita dan seluruh kejadian di alam semesta, putaran langit dan bumi dan semua kejadian ini ada dalam pengaturan tunggalnya , maka jawablah panggilan-panggilan kesucian Ilahi untuk membenahi diri kita ,membenahi rumah tangga kita, membenahi keluarga kita , membenahi kerabat dan teman kita , singkirkan dari tuntunan-tuntunan yang berpaling dari kebenaran , jangan biarkan orang lain terjebak dalam kehinaan , diantara teman kita ada yang berzina , yang berjudi dan yang terjebak narkotika , semua itu adalah ladang bagi kita untuk mencapai keridhaan Allah .


Selamatkan mereka pada keluhuran , karena dengan hal itu kita akan mendapatkan pahala, berhasil ataupun tidak . Banyak keluhan kepada saya “ mengapa Ibu saya begitu jahatnya , mengapa ayah saya banyak berzina, mengapa ibu saya banyak berzina , mengapa ayah saya banyak berjudi”, dan lain sebagainya .


Hadirin hadirat , ingatlah bahwa kita mendapatkan pahala jihad dengan berbakti kepada orang tua kita , barangkali buruknya amal mereka adalah ladang Ilahi untuk kita supaya kita bisa mencapai kemuliaan jihad yang dengan itu taubatnya ayah dan ibu kita ada di tangan kita . Sebagaimana diriwayatkan dalam Shaih Al Bukahri bahwa Abu Hurairah Ra datang kepada Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wasallam dan ia menangis , maka Rasulullah bertanya : “ wahai Abu Hurairah , engkau datang dengan wajah yang kusam , apa yang telah membuatmu menangis ?” , maka Abu Hurairah berkata : “ Ibuku tidak mau makan, karena ia tidak mau aku masuk Islam, jika aku tidak keluar dari Islam dia tetap tidak mau makan ,wahai Rasulullah doakanlah Ibuku supaya mendapatkan hidayah” , maka Rasulullah berdoa:

اَللّهُمَّ اهْدِ لِأُمِّ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

“ Ya Allah berilah hidayah untuk ibu Abi Hurairah”


Maka setelah itu Abu Hurairah kembali ke rumahnya, dan beberapa menit kemudian ia kembali kepada Rasulullah dengan wajah yang cerah, maka Rasulullah berkata: “ Wahai Abu Hurairah kau datang dengan wajah yang berbeda seperti tadi, tadi kusam sekarang gembira apa yang terjadi” ? Abu Hurairah berkata: “ wahai Rasulullah ibuku masuk Islam di tanganku” , maka Rasulullah berdoa “ Ya Allah limpahkan pengampunan dan rahmat-Mu kepada Abu Hurairah dan ibunya dan ampuni serta kasihani juga orang-orang yang mendoakan Abu Hurairah dan Ibunya” , maka berkata sayyidina Anas bin Malik : “ sejak aku mendengar doa itu dari Rasulullah maka tidak henti-hentinya aku mendoakan Abu Hurairah Ra”, karena orang-orang yang mencintai Abu Hurairah dan mendoakan Abu Hurairah didoakan oleh rasul agar disayangi oleh Allah.


http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=269&Itemid=1

KISAH

BERHUTANG DEMI CINTA

 
Kisah Bilal R.a. Berutang kepada Seorang Musrik untuk Berkhidmat kepada Nabi saw.



Pada suatu ketika Bilal r.a. di Tanya ”Bagaimanakah biaya keperluan Nabi saw.?” Jawabnya. “Beliau saw. Tidak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari. Akulah yang mengurusnya. Sudah menjadi kebiasaan Nabi saw., Jika beliau didatangi seseorang yang kelaparan, maka bila tidak ada biaya, beliau akan berkata kepadaku,”Pinjamlah dari siapa saja agar dapat memberi makan orang itu.”Lalu kan kupenuhi keperluan orang itu dengan berutang. Jika ada orang dating tanpa pakaian, maka beliau saw. Akan berkata,”Pinjamlah dari siapa saja agar dapat membelikan baju untuk orang itu.”Lalu aku carikan pakaian untuknya dengan berutang. Inilah kebiasaan Rasulullah saw. Pada suatu hari, seorang musyrik dating menemuiku. Ia berkata,”Aku telah memperoleh banyak rezeki. Jika kamu perlu uang, jangan meminjam dari orang lain, pinjamlah dariku.”Aku senang dengan tawaran itu, aku pun meminjam uangnya untuk keperluan Nabi saw.

Suatu ketika, setelah aku berwudhu untuk adzan, tiba-tiba datanglah orang musyrik itu dengan kelompoknya. Ia berteriak,”Hai orang Habsyi!” Aku pun menoleh lalu menjumpainya. Ia langsung memaki dan berkata kasar kepadaku. Katanya,”Tinggal berapa hari lagi bulan ini?” Jawabku,”Sudah hamper habis.” Ia berkata,”Bulan ini tinggal empat hari lagi. Jika kamu tidk membayar utangm dalam empat hari ini, maka aku akan menjadikan dirimu sebagai budakku dan kamu harus mengembalakan kambing seperti dahulu.”Setelah berkata demikian, ia pun pergi meninggalkanku.

Sepanjang hari aku sangat sedih memikirkan hl itu. Setelah shalat Isya, aku mendekati Nabi saw. Kuceritakan seluruh kejadian tersebut kepada beliau. Aku berkta,”Ya Rasulullah, sekarang engkau tidak memiliki apapun untuk melunasi utangku. Aku juga tidak memiliki apa-apa untuk membayarnya. Si musyrik itu pasti akan menghinaku lagi. Oleh karena itu, Jika diizinkan, aku akan pergi dari sini sampai mendapatkan uang untuk membayar utang itu. Jika engkau memanggilku, aku akan segera dating.”Setelah kuucapkan hal tersebut kepada beliau saw., aku segera pulang. Kupersiapkan pedang, perisai, sepatu, dan barang-barang lainnya untuk keberangkatan esok harinya.

Ketika Shubuh hampir tiba, datanglah seseorang dan berkata,”Cepatlah, Nabi ingin menjumpaimu.” Aku segera pergi. Setibanya disana, kulihat ada empat ekor unta penuh muatan sedang duduk. Nabi saw. Bersabda,”Ada kabar gembira untukmu, wahai Bilal. Allah memberikan karunia-Nya untuk membayar utangmu. Ambillah unta-unta itu beserta muatannya, barang ini telah dikirim sebagai hadiah untukku dari pemimpin kaum Fadak atas nazarnya.”Aku pun mengucapkan rasa syukur kepada Allah swt., lalu segera aku bayar semua utangku. Pada saat itu, Nabi saw. Masih menunggu di masjid. Aku kemnbali ke mesjid menjumpai Nabi saw. Aku berkata,”Alhamdulillah, dengan berkah engkau utangku dapat terbayar, ya Rasulullah. Dan sekarang tidak ada lagi utang yang tersisa.”Beliau saw. Bertanya,”Apakah masih tersisa barang-barang itu?”Sahutku,Ya” ada sedikit tersisa.”Nabi saw. Berkata,”Sisa barang-barang itu pun harus kamu bagikan sampai habis, sehingga aku dapat tenang. Aku tidak akan pulang sebelum barang itu habis dibagikan.” Kemudian aku pergi untuk membagi-bagikan barang tersebut. Setelah shalat Isya, Nabi saw. Bertanya kepadaku,”Apakah masih ada sisa dari yang kukatakan tadi?” Jawabku,” Ada sedikit sisa, belum dating yang memerlukannya.”Maka nabi saw. Kembali beristirahat di masjid. Keesokan harinya, setelah shalat Isya, Nabi saw. Bertanya lagi,”Apakah masih ada sisa barang dari yang kukatakan kemarin?” Jawabku,” Allah telah memberkati engkau dengan ketentraman jiwa. Semua barang-barang itu telah habis dibagikan.”Mendengar kabar tersebut, beliau saw. Memuji dan bersyukur kepada Allah swt. Rasulullah saw. Sangat takut jika nyawa beliau dicabut, sedangkan masih ada sisa harta yang menjadi miliknya. Barulah pada malam itu Nabi saw. Kembali ke rumanya menemui istri-istri beliau. (Badzlul-Majhud).

Akidah

Jin Dari Api, Apakah Diadzab Di Neraka?


Pertanyaan:
Apakah jin yang beriman akan masuk surga? Jika memang benar bahwa jin itu diciptakan dari api, lalu bagaimana mungkin jin yang kafir dapat diadzab di neraka?

Syaikh Dr. Abdullah bin Jibrin Rahimahullah* menjawab:
Tidak diragukan lagi bahwa jin yang beriman akan mendapatkan ganjaran yang baik di akhirat yang sesuai bagi mereka. Dan tidak ragu lagi bahwa jin yang kafir akan dihukum. Sebagaimana firman Allah Ta’ala ketika menceritakan tentang jin:

وأنا مِنَّا المسلمون ومنَّا القاسطون فمن أسلم فأولئك تحروا رشدا. وأما القاسطون فكانوا لجهنم حطبا

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam” (QS. Al Jin: 14-15)

Adapun mengenai keadaan mereka yang tercipta dari api, hal ini tidak menghalangi adzab neraka. Karena api neraka 70 kali lebih panas dari api di dunia. Dan sangat dimungkin juga terdapat api khusus untuk mereka di neraka. Intinya, keadaan di akhirat berbeda dengan keadaan di dunia. Silakan merujuk pada Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah untuk penjelasan tambahan.



(Diterjemahkan oleh Yulian Purnama dari Fatawa Asy Syaikh Ibnu Jibrin, 18/2, Asy Syamilah)

*) Beliau adalah salah seorang ulama zaman ini. Beliau pernah menjadi anggota Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Tetap Bidang Penelitian dan Fatwa, Saudi Arabia). Beliau berguru pada ulama-ulama besar Islam semisal Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Muhammad bin Ismail Al Anshari, dan Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahumullah. Beliau telah wafat tahun lalu, bertepatan dengan 20 Rajab 1430 H, semoga Allah merahmati beliau.

Minggu, 07 Maret 2010

KISAH

Bukakan Pintumu…!

Oleh Syarif Niskala (also blogged at syarifniskala.com)


Banyak pemilik rumah yang menjadikan pintu tidak hanya sebagai satu-satunya akses resmi keluar-masuk. Saya teringat, salah seorang pemilik perusahaan gas bius terkemuka di Indonesia membuat sebuah pintu salah satu rumahnya seharga tempat tinggal saya. Memang nyaman memandang sebuah pintu yang indah. Memang membanggakan memiliki sebuah pintu yang unik. Tapi pintu adalah pintu. Dia hanya berguna jika bisa dibuka. Jika tidak, sebaiknya diganti tembok saja.

Selasa sore yang dingin di kota kembang. Hujan agak deras menemani perjalanan pulang kerja dari gerbang kantor hingga depan pintu rumah. Seperti biasa, sang permaisuri mengondisikan pintu rumah setengah terbuka sebagai tanda dia siap menerima kedatangan saya. Juga untuk memudahkan dua putra yang senantiasa berhamburan sambil berteriak saat mendengar deru motor memasuki halaman. Rutinitas yang memesona senantiasa terjadi di depan pintu. Celoteh anak usia 4 tahun menyapa dan melapor, mata berbinar anak usia 7 tahun yang seringkali bertingkah lucu untuk menarik perhatian, serta senyum termanis tuan putri. Seperti inikah suasana pintu surga nanti…?

Sejumput waktu setelah mandi, sang istri bertanya, “Bi … bapak yang tadi minta makan mana? Kok tidak ada…. Mama sudah siapkan nasi, lauk, dan air minum untuk dibawa”. “Wah, dari tadi Abi tidak lihat, Ma. Mungkin kelamaan nunggunya atau dia tidak mendengar suara Mama sewaktu memintanya menunggu”. “Sudah terdengar iqamah, Abi ke masjid dulu ya” saya menyudahi perbincangan singkat. “Ma, simpan saja di kursi teras, siapa tahu bapak yang tadi lewat lagi dan melihatnya.”

Memasuki masjid, mata saya tertumbuk seorang laki-laki berpakaian basah, gesture sangat lelah, berdiri di shaf terakhir tetapi menyendiri dekat dinding, tidak merapat dengan jemaah yang lain. Selepas salam, pojok kanan mata saya menyelidik body language pria seusia saya itu. Dzikir saya terputus-putus karena memperhatikan dia sedang khusyu sekali berdoa. Ketika dia bangkit hendak keluar masjid, saya tahu dia sangat lapar. Tengadah tangannya saat berdoa tadi agak menggeletar, persis seperti saya berpuasa di awal ramadhan. Langkahnya agak berat dan dia memegangi perutnya sesekali.

Cepat saya bangkit dan berjalan agar dapat berdampingan hingga ke teras masjid. “Bapak, tadi mendatangi rumah berpagar kuning ya?” tanya saya. “Ya. Saya lapar sekali, dan karena hanya pintu rumah itu yang terbuka, maka saya meminta makanan. Tapi tidak diberi” jawabnya lemah sambil menunduk. “Kalau begitu, saya antar ya ke rumah itu. Ibu yang punya rumah telah menyiapkan makanan untuk Bapak” saya mengajak sambil meminta pengertian murid-murid ngaji yang sudah berbaris rapi. Di jalan saya mengumpulkan beberapa informasi terkait pria malang ini. Setelah makan, minum teh hangat manis; saya membungkuskan sebuah kaos bersih dan jaket karena saya lihat pakaiannya basah dan udara sangat dingin. Sambil titip salam untuk keluarganya di kampung Pamijahan – Tasikmalaya, saya memberinya 100% uang ongkos pulang dan uang cadangan 50%. Nasihat saya padanya hanya satu, bersabarlah dalam mencari rizki.

---

Sahabat-sahabat yang budiman.

Dari 53 pintu rumah yang menghadap ke jalan Jembar III itu, mungkin hanya satu pintu yang sedang terbuka saat lelaki malang itu memberanikan diri meminta makanan. Itulah keberuntungan bagi dirinya. Itulah pula keberuntungan bagi penghuni rumah. Dengan membuka pintu rumah saat kondisi keamanan baik, maka Tuhan mengantarkan seseorang agar kita dapat berbuat baik padanya. Jika pengertian rezeki adalah kebaikan yang manfaatnya telah kita dan orang lain nikmati, maka itu juga berarti membuka pintu rumah mendatangkan rezeki.

Sahabat, jika menghilangkan haus dan lapar seekor anjing adalah kebaikan yang berita mulianya telah melintasi benua-benua dan melipat waktu beratus tahun; apakah nilainya lebih tinggi dibandingkan menghilangkan haus, dahaga, dan kepanikan seorang hamba?

Mari kita buka pintu rumah kita…

Agar kebaikan mudah menghampiri…



From the note of Syarif Niskala

KISAH

Tenangkanlah akal pikiranmu, maka dunia disekelilingmupun akan tenang


Bismillahirrahmaanirrahiim



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh



Tenangkanlah Akal Pikiranmu, maka duniapun akan tenang


Seorang guru dan murid berjalan ditepi pantai, tatkala hari sangatlah dinginnya, sementara angin sangat kencang, sampai meninggikan ombak di tepi pantai itu beberapa meter.



Kemudian sang guru bertanya kepada muridnya: "Apakah yang bisa engkau ingat dari ombak(gelombang) dipantai itu?"



Kemudian sang muridpun menjawab: "Ombak dipantai itu mengingatkan aku akan akal pikiranku yang penuh dengan sikap tergesa-gesa dan kegoncangan, keraguan".



Sang gurupun berkata:"Yah, engkau benar, pantai ini menyerupai akal manusia, dia bersikap netral, tidak baik, tidak pula buruk.

Dan gelombang itu seumpama pemikiran manusia, sementara gelombang dibuat oleh angin, sebagaimana pemikiran manusia adalah hasil dari keinginan-keinginannya, serta ketakutan-ketakutannya"



Kemudian sang muridpun berkata:"Betapa aku sangat menginginkan, bahwa aku berada di dalam kapal, dan aku berlayar dilautan lepas itu dengan dalam keadaan aman dan tenang, sebagaimana kondisinya pantai ini dan dengan sepoi angin semacam ini"



Sang gurupun langsung mengomentarinya:"Sesungguhnya engkau benar-benar seperti itu sekarang. Kebanyakan manusia mereka berada didalam kapal yang aman, ditengah laut yang bergelombang, sehingga mereka tak menyadarinya, itu dikarenakan akal pikiran mereka dipenuhi dengan kegoncangan, segala macam pemikiran dengan aneka ragamnya datang dan pergi, tanpa henti-hentinya, akalpun bergoncang, sebagaimana angin menggoncangkan ombak dilautan.



Sang muridpun langsung memotong pembicaraan gurunya," inilah sebabnya aku mendampingi engkau wahai guruku. Aku ingin menenangkan gelombang akalku".



Kemudian sang guru memandangi muridnya sambil tersenyum:"Sesungguhnya engkau tidak akan mungkin menenangkan lautan dengan hanya memegang air lautnya, dan engkaupun tidak akan mungkin pula menjadikan lautan itu bergerak, yang penting bagi dirimu adalah engkau menenangkan dulu anginnya.



Dengan arti kata, jangan sampai keinginan, ketakutan-ketakutan engkau lebih mendominasi, atau keinginan engkau tersebut lebih menghakimi kehidupanmu, akan tetapi, ketahuiah, engkaulah yang mengatur keinginanmu itu, dan ini hanya didapatkan dengan terbiasanya dirimu kosentrasi dan engkaulah yang menundukkan pemikiran tadi, dengan seketika, maka akan tenanglah lautan, itulah dia akalmu".



Sang muridpun langsung bertanya:"Bagaimana mungkin aku dapat melakukan hal itu?"



Sang guru langsung bertanya lagi:" Cobalah bayangkan, apakah mungkin tepi pantai lautan itu mengabaikan perbuatan angin?, apa yang terjadi saat itu?



Sang muridpun langsung menjawabnya: Gelombang akan berhenti(Apabila angin dihentikan). Tetapi adakah orang yang dapat menghentikan angin?



Sang gurupun tersenyum dengan senyuman penuh makna:"Why not", kenapa tidak, "lima laa". Sesungguhnya angin, lautan dan pemikiran semuanya berada dibawah/didalam akal. Maka ketika engkau dapat memanage akal kamu, maka mungkin saja kamu memanage sekelilingmu.



Sang murid langsung berkata kepada gurunya sambil bercanda: "Akh..wahai paduka guru, barang siapa yang menundukkan akalnya, maka mungkin saja dia menundukkan angin, maka apakah mungkin angin akan tenang, sementara dia ada disekitar kita?



Sang gurupun langsung berkata :"Pelajarilah dulu bagaimana cara menenangkan lautan akalmu, kemudian engkau akan mengetahui, apakah engkau sanggup menenangkan lautan, maka jika engkau dapat menenangkan akalmu, engkau dapat menenangkan segala sesuatu yang terjadi disekelilingmu.



Maka ketahuilah wahai saudara-saudaraku, akal bisa memberikan kebahagiaan untuk kita, dia bisa juga menghancurkan kehidupan kita, apabila kita tak mempergunakan akal sebaik-baiknya dan sebagaimana mestinya.



Didalam akal ada sisi positive, maka terbiasalah dengan positive thinking, dan didalam akal juga bersemayam sisi negative, maka jauhilah negative thinking.



Bagaimanakah cara melatih akal kita agar dia selalu dipakai untuk hal-hal yang baik?



Pertama : Manusia harus melatih dirinya terbiasa didalam keadaan sadar, dengan kesadaran yang dalam dan sarat akan makna, dengan apapun yang ada dalam pemikirannya yang bersumber dikepalanya, dan berfikiran selalu, bahwa apa yang akan diperbuatnya itu, adalah sebuah pemikiran dan

perbuatan yang bermanfaat



Kedua : "Jauhi sama sekali pemikiran, bahwa diri kitalah yang tertinggi, terhebat, terpintar, terkaya dan ter..segalanya..dengan terbiasa memperhatikan kelebihan orang lain, dan menghargai orang lain.



Keseharian kita hakikatnya bagaikan kita berada diatas lautan dimana diatas lautan itu selalu menghadapi kegoncangan, dengan mengikuti gelombang angin, namun kehidupan kita yang hakiki, berada didasar lautan yang dalam tersebut , dimana dasar lautan yang dalam penuh karang dan mutiara manikam yang indah itu, selalu berada didalam ketenangan, beda jauh tatkala diri kita berada diatas lautan tadi.



Maka, tatkala kita memasuki dalamnya dasar lautan yang penuh ketenangan tadi, itulah dia asal diri kita, kita akan merasa aman, damai dan tentram didalamnya, dan dapat memperbaharui kekuatan diri kita, dari kedalaman tadilah kita dapat dengan mudahnya melihat segala sesuatu yang berbeda dengan pandangan yang jernih. Inilah yang digambarkan guru tadi, kapal yang berlayar penuh dengan ketenangan, meskipun dia berada ditengah-tengah goncangan angin yang kencang.



Dan ketenangan akal itu tidak mungkin didapat begitu saja, tetapi butuh latihan terus menerus dan selalu berada dalam naungan yang maha Rahman dan maha Rahim, dengan kebiasaan selalu beribadah mendekatkan diri kepadaNya, baik siang ataupun malam, kondisi susah ataupun senang, ramai ataupun sepi.



Disadur dan diterjemahkan dari majalah mingguan Arabic, dan ini buah permintaan dari Bu Lany Siregar, meminta kepada saya, agar saya yang membaca buku, dan apa yang saya baca, saya kirimkan dalam karya buah tulisan.



Wassalamu'alaikum. Rahima.S.S Yusuf, Cairo,3 Maret 2010




Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo)


"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya".

Ebook Gratis

Contoh Istri Yang Taat dan Ingkar

klik aja di "Ebook Gratis"

Kamis, 04 Maret 2010

Cinta Lelaki Mulia

Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah seruan untuk mengesakan Allah. "Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan apapun." Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu. Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah, berilah kaumku hidayah, sebab mereka belum tahu.”


Di Bukit Uhud, pribadi pilihan itu kembali terluka. Wajah Rasulullah SAW terluka, gigi seri beliau patah, serta topi pelindung beliau hancur. Fatimah Az-Zahra, putri beliau, bersusah payah untuk menghentikan pendarahan tersebut. Dua pelindungnya terakhir, Ali ra dan Thalhah ra juga terluka parah. Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan pahit itu. Pasukan pemanah yang diperintahkan menjaga bukit, dijangkiti gila dunia. Silaunya harta rampasan menggerogoti keikhlasan mereka. Akibatnya, pasukan kaum muslimin porak-poranda dan Rasul pun terluka. Meski kembali disakiti, cinta lelaki mulia itu tetap bergema, “Ya Tuhanku! Berilah ampunan kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Thaif dan Uhud merupakan hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Iltizam terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman itu. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya. Cinta yang diperlihatkan Zaid bin Haritsah di Thaif ketika menjadi tameng bagi rasulnya. Cinta yang dibuktikan Abu Dujanah, Hamzah dan Mush'ab bin Umair di bukit Uhud. Tapi, adakah generasi terkini masih mencintainya? Apakah umatnya sekarang tetap menyimak sunnah yang diwariskannya?

Sejarah berbicara, semakin panjang umur generasi umatnya, semakin menjauh pula generasi itu dari risalahnya. Umatnya saat ini, cenderung mencemooh segelintir mukmin yang masih menghidupkan sunnah. Buku-buku sunnah mulai terpinggirkan. Kitab Bukhari-Muslim harus bersaing dengan textbook dan diktat yang lebih menjanjikan keahlian dan masa depan. Serial sirah nabawiyah hampir menghilang dari tumpukan handbook dan ensiklopedia yang biasanya menjadi asksesoris di ruang tamu keluarga muslim. Aspek sunnah dalam ber-penampilan dan berpakaian, ramai dikritisi dengan alasan tidak praktis. Contoh dari Rasul dalam keseharian, pun semakin dihindari. Sunnah dianggap simbol yang sifatnya tentatif, bukan sebagai panduan kehidupan (minhaaj). Apatah lagi aspek syar'i. Begitu banyak argumen yang dihembuskan sebagai 'pembenaran' untuk berkelit dan menghindari aspek syar'i dari sunnah. Wabah 'ingkar sunnah' ini mulai terjangkit dalam komunitas yang mengaku sebagai pengikutnya. Keutamaan ber-shalawat kepada nabi pun nyaris terlupakan. Padahal Rasul berjanji untuk menghadiahkan syafaat bagi umatnya.

“Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR Muslim).

Jurang antara umat dengan warisan risalah Nabinya ini tentu merugikan. Kecemerlangan pribadi Rasul nyaris tak dikenali umatnya. Padahal, dalam pribadinya ada teladan yang sempurna.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab (33): 21).

Merujuk kepada sunnah yang diwariskan Rasulullah adalah ungkapan kecintaan kepadanya. Cinta pada Rasul yang lahir dari keimanan kepada Allah.

“Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran (3): 31).

Mencintai manusia mulia itu, berarti meneladani sirah nabawiyah sebagai panduan dalam mengarungi kehidupan. Kecintaan yang akan meluruskan langkah kita untuk ittibaa'(mengikuti) dan mewarisi komitmen untuk menyampaikan risalah kepada masyarakat. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,

“Seorang hamba tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR Muslim)


sumber: eramuslim